Finding Lost Wife

Finding Lost Wife
FLW BAB 99 - As You Wish



Saat pintu kamar itu tertutup, saat itu juga Erzan menarik tubuh Arra dan mendekapnya erat.


Dibalik pintu mewah itu Erzan langsung memagut bibir sang istri dengan mesra, seolah waktu yang mereka punya tidak banyak.


Jadi tanpa ada kata apa-apa lagi Erzan langsung menyerang sang istri.


"Zan," lenguh Arra saat sang suami menciumi lehernya, bahkan menyesapnya kuat hingga menimbulkan bekas merah kehitaman.


Arra pun langsung menjerit, saat Erzan tiba-tiba menggendongnya seperti pengantin baru. Membawanya hingga sampai di atas ranjang.


"Zan, pelan-pelan," ucap Arra, dia membelai wajah suaminya lembut. Tubuh Erzan yang kini sudah menindihnya.


Mereka saling tatap dengan jarak yang sangat dekat, bahkan deru nafas keduanya saling bertemu. Nafas panas yang semakin membakar gairah di dalam diri.


"Jangan tinggal kan aku lagi Arra," ucap Erzan, dia terus menatap dalam kedua mata sang istri. Karena hanya dari sanalah dia bisa melihat wajah Arra. Mengingat rasa kesepian yang selama ini memenuhi ruang di hatinya.


"Katakan padaku, katakan jika kamu mencintai ku Ra," tuntut Erzan. Dia ingin rasa itu terbalas.


Dan sebelum menjawabnya, Arra lebih dulu menarik wajah sang suami dan mengecup pelan bibir Erzan.


"Aku mencintai mu, aku sangat mencintai kamu."


Belum sempat bibir Arra kembali tertutup setelah mengucapkan kata itu, Erzan sudah lebih dulu mencium bibirnya. Menelusupkan lidahnya dalam dan berkelana di dalam sana.


Arra tak tinggal diam, dia pun membalas ciuman itu dengan kedua tangannya yang mengelus lembut punggung sang suami.


Ciuman itu semakin menuntut, namun sebelum Erzan menanggalkan baju sang istri dia lebih dulu mematikan lampu utama di kamar ini, menyisahkan cahaya temaram yang menampilkan siluet mereka, bukan wajah.


Setelahnya Erzan menarik tubuh Arra untuk duduk, lalu pelan-pelan dia membuka baju istrinya.


Disini memang gelap, namun tetap saja Arra merasa malu dan gugup. Apalagi saat merasakan tubuhnya yang polos lebih dulu diterpa udara pendingin di ruangan ini.


"Aku sangat mencintai mu Ra," ucap Erzan, dia kembali membaringkan sang istri dan menindih tubuhnya perlahan.


"Panggil aku sayang Ra, atau daddy seperti Eleanor. Jangan lagi panggil nama ku."


Arra mengigit bibir bawahnya, bukan hanya karena perintah Erzan. Tapi kini dia mulai merasakan satu tangan Erzan yang membelai lembut salah satu dadanya yang terbuka sempurna.


Arra menggeliat, mulutnya tanpa sadar menuruti perintah sang suami.


"Sayaang," lenguh Arra, di saat Erzan menyesap buaah dadanya, Arra sontak membusungkan dada meminta lebih.


Permainan Erzan benar-benar membuatnya melayang, kini rasanya Arra yang sudah tidak tahan.


"Dad, aku menginginkan mu," ucap Arra, dia sudah seperti kehilangan kesadaran diri. Dia ingin lebih dari ini.


Dan Erzan pun tidak menunda ataupun menggoda istrinya lebih dulu, di saat Arra meminta, dia memberikannya dengan segera.


Hingga dia dan Arra sama-sama merasakan kenikmatan yang luar biasa.


Kamar ini memang gelap, namun tidak sunyi. Karena dipenuhi dengan suara desahaan yang saling bersahutan. Arra terus mendesaah seirama dengan hentakan Erzan pada inti tubuhnya.


Dan waktu terus berjalan, namun Arra dan Erzan masih tetap saling bersenggama di atas ranjang.


"Sayang," panggil Arra diantara nafasnya yang sudah terengah.


"Hem, kamu sudah lelah?"


"Bukan."


"Lalu?"


"Biarkan aku di atas."


"As you wish mommy."