
"Hah? Apa? Aku Arra? Hahaha mana mungkin, jelas-jelas a-aku adalah Selena Maiden," jawab Arra dengan perasaan gugup yang membuncah. Kedua matanya bahkan bergerak liar, menatap ke sembarang arah asalkan bukan kedua mata Erzan.
Sementara pria di hadapannya ini tetap bergeming, wajahnya datar dan terus melihat kegugupan Selena, seorang wanita yang selalu mampu membuat hatinya bergetar seperti Arra.
Saat itu Erzan memanggil Anya dan meminta sang pengasuh untuk membawa Eleanor lebih dulu naik ke kamar, karena saat itu Baby El sudah tidur.
Sementara Erzan menahan Selena agar tetap bersama dia disini.
Selepas ciuman mereka, Erzan mulai merasa bahwa apa yang diucapkan oleh Leo mungkin saja benar.
Arra melakukan operasi plastik dan menggunakan wajah Selena Maiden. Uang yang sudah Arra ambil dia serakah semua pada wanita malam itu.
Karena itulah diawal Selena keluar dari rumah sakit dan menjalani semua pengobatannya, dia langsung menemui Austin, sang kakak.
Tatapan Erzan benar-benar membuat Arra gelisah, mendadak perasaan takut menyelimuti hatinya.
Tidak, Erzan tidak boleh tahu jika aku adalah Arra.
Bagaimana? Aku harus bagaimana?
Arra benar-benar gugup, nama Arra selalu mampu membuatnya takut. Nama yang selalu mengingatkan dia atas semua penderitaan yang pernah dialami.
"Berhenti menatapku seperti itu! aku bukan Arra!" terang Arra lagi, kini suaranya semakin tinggi, karena saat dia bicara pelan pasti suaranya akan bergetar.
"Arra tidak mungkin menggoda mu kan?" tanya Arra lagi, kini mulai ada sedikit senyum di sudut bibirnya. Ya, andai dia Arra dia tidak akan melakukan itu. Hanya Selena lah yang mampu melakukannya.
Otak Arra buntu, dalam benaknya hanya menjadi wanita nakal lah dia bisa menutupi jati diri.
Lantas dengan sisa-sisa keberanian yang dia punya, Arra langsung duduk diatas pangkuan Erzan. Memangku wajah dingin pria ini dan kembali menyatukan bibir mereka.
Arra tidak sadar, jika apa yang dia lakukan malah semakin membuat Erzan yakin jika dia adalah istrinya.
Erzan menutup mata dan mulai membalas ciuman itu, ciuman pelan yang lama-lama jadi lebih menuntut. Mulutnya bahkan terbuka lebih lebar, agar bisa meraup seluruh bagian bibir istrinya.
Tentang rasa seorang CEO dingin di perusahaan dia bekerja, dan tentang rasa seorang pramugari cantik dengan sejuta pesona.
"Emptt Zan," lenguh Arra karena dia kesulitan bernafas, ciuman Erzan seolah merebut semua udara disekitar.
Arra memukul dada Erzan berulang, ingin ciuman ini berakhir.
Dan saat itu Erzan memang melepaskan, namun dia sedikit mengigit bibir bawah Arra hingga terluka.
Kini Erzan benar-benar yakin jika wanita ini adalah istrinya, bukan hanya ada perasaan bahagia dihati, namun dia juga merasa kesal.
Sangat marah ketika menyadari Arra-nya telah menggunakan nama dan wajah wanita lain.
Tapi Erzan masih coba menguasai diri, dia tidak akan meluapkan semuanya sebelum hasil tes DNA itu keluar.
"Awh Zan! kamu mengigit bibir ku!!" kesal Arra, kini dia membentak.
Tapi pria yang dibentak tidak merasa takut sedikitpun, dia terus menatap Arra yang kini sudah ada di hadapannya.
Karena itulah El begitu dekat dengan mu kan?
Karena itulah dia memanggil mu Mi?
Astaga, kenapa aku baru menyadarinya sekarang? padahal sudah sejak lama Eleanor menunjukkannya padaku.
"Hiss! Jangan menatapku seperti itu!"
"Tidurlah bersama ku malam ini?"
"Gila!!" kesal Arra, dia langsung bangkit dan berlari dari sana.