Finding Lost Wife

Finding Lost Wife
FLW BAB 79 - Terlalu Indah



Arra terpaksa memilih baju meski dia tidak ada niatan untuk membeli.


Kata Erzan dia ingin Selena mengganti semua baju yang ada di dalam lemari.


"Ini sangat berlebihan," ucap Arra tapi Erzan selalu tidak peduli, apa maunya itulah yang akan terjadi.


Selama berkeliling, Erzan terus memegang dan mendorong stroller baby El. Dia benar-benar sigap di dua sisi, Arra dan Eleanor.


Sementara Anya bertugas mengawasi sang bayi.


"Tu tu tu," ucap Eleanor sambil menunjuk sisi kanan dari arahnya, dia menunjuk sebuah toko boneka.


"Kita ke sana dulu Ar," ucap Arra pula, ingin menuruti keinginan sang anak.


Dan Erzan pun mengangguk kecil.


Mereka semua menuju toko boneka itu.


"Tu," ucap Baby El, menunjuk sebuah boneka di deretan.


"Ini." Erzan mengambil satu dan menyerahkannya pada baby El, sebuah boneka berwarna merah muda.


"Anak cantik memang selalu menggunakan warna merah muda," ucap Erzan lagi, seolah sangat yakin jika itu adalah pilihan Eleanor. Tapi ternyata baby El malah menolak boneka itu, Dia menggeleng dan berucap NO berulang kali.


"Tu."


"Yang ini."


"Nooo. Tu."


"Yang Ini?"


"Noo."


"Yang mana El?" Erzan mulai pusing, sementara Arra membuang nafasnya berat, dari segala hal Erzan memang tidak peka.


"Dia mau yang warna kuning itu Zan."


"Yang kuning itu tidak bagus."


"Tapi dia mau yang itu."


"Tidak."


"Coba saja."


Erzan menatap Arra dingin, baru beberapa hari Arra bersama Eleanor tapi sudah seperti tahu sekali tentang anaknya itu.


Kini Erzan akan buktikan, bahwa ucapan Arra salah. Erzan akan buat Arra takjub tentang dia yang sangat memahami anak mereka.


"Aku yakin dia tidak mau yang kuning," ucap Erzan lagi.


"Coba saja."


"Lihatlah."


Dengan percaya diri Erzan mengambil boneka kuning itu, lalu memberikannya pada sang anak. Dan disaat Erzan yakin jika baby El akan bicara NO, ternyata anaknya ini malah teriak bilang YAA!!


Melihat wajah Erzan yang terkejut, Arra pun tertawa terbahak.


"Kamu memang tidak peka, super tidak peka," ledek Arra diantara tawanya yang masih tersisa.


Erzan mendengus, dia menarik hidung Arra gemas sebagai balasan


Puas berkeliling, mereka akhirnya memutuskan untuk beristirahat di salah satu cafe. Karena tidak ada pengunjung lainnya, cafe itu jadi terasa begitu tenang dan sangat nyaman.


Mereka semua duduk si sofa yang melingkar cukup besar, bahkan ada ranjang kecil yang bisa Eleanor gunakan untuk tidur.


Erzan benar-benar menyiapkan semuanya dengan baik untuk anak dan istrinya.


"Kamu lelah?" tanya Erzan dan Arra menggeleng, dia memang tidak lelah, tapi sedang sangat senang.


Bibir Arra bahkan tersenyum terus.


"Zan."


"Apa?"


"Apa ini masih termasuk sandiwara."


"Anggap saja seperti itu."


"Tapi ini terlalu indah."


"Nikmati saja."


"Tidak bisa."


"Kenapa?"


"Karena aku ingat Arra."


"Aku sudah menemukan dia."


Kedua mata Arra mendelik, seketika jantungnya bahkan seolah berhenti berdetak. Tiba-tiba Arra sulit untuk menelan ludahnya sendiri.


"Be-benarkah?"


Erzan mengangguk.


Dan makin tidak tenang lah hati Arra.


"Di-dimana dia sekarang."


"Leo sedang menjemput dia."


Kedua mata Arra makin melebar.


Bagaimana bisa? sementara aku ada disini. Apa mereka salah orang? batin Arra penuh tanya. Seketika tatapannya mulai terlihat tidak tenang.


Dan Erzan yang melihat raut ketakutan Arra pun mengulum senyumnya.