
Dan melihat sikap Arra itu membuat Erzan akhirnya tersenyum kecil.
"Andai kamu adalah Selena Maiden, kamu pasti akan langsung menerima ajakan ku untuk tidur bersama," ucap Erzan diantara kedua matanya yang terus memperhatikan Arra berlari menaiki anak tangga.
Erzan lantas bangkit, dia menyusul kepergian sang istri. Saat itu Arra langsung menuju kamarnya sementara Erzan lebih dulu menemui sang anak.
Duduk di samping ranjang dimana baby El tidur.
Bibir Erzan tersenyum, untuk pertama kalinya dia membuat gerakan bibir seperti itu, senyum lebar.
"El," panggil Erzan, tapi sang anak tidak memberikan respon apapun karena saat itu Eleanor sudah tertidur pulas.
"Mommy ada disini kan?" tanya Erzan lagi, hanya kepada sang anak lah dia banyak bicara.
"Mommy disini kan El? dia mommy kita kan?"
Kedua mata Erzan terasa panas, entah kenapa dia jadi merasa sedih. Melihat Eleanor selalu membuat hatinya lemah.
"Malam ini kita akan tidur bersama," ucap Erzan lagi. Setelahnya dia mengangkat tubuh Eleanor dan digendongnya. Membawa sang anak untuk mengunjungi kamar mommy Arra.
Erzan mengetuk pintu kamar itu berulang, sampai akhirnya Arra membuka.
Arra cukup terkejut saat melihat Erzan, seketika ingat ajakan tidak masuk akal pria ini. Tapi bukan hanya itu, Arra juga terkejut saat melihat Erzan menggendong baby El.
"Malam ini kita tidur bersama," ucap Erzan, tanpa perlu izin dia segera masuk ke dalam kamar dan melewati begitu saja Arra di pinggir pintu.
Erzan lantas menidurkan Eleanor di bagian tengah ranjang, lalu dia pun naik mengambil salah satu sisi.
"Tidurlah," titah Erzan lagi saat melihat Arra yang sudah berada di tepi ranjang dan menatapnya dengan tatapan entah, mungkin marah.
Tapi Erzan tidak peduli, malam ini dia ingin Eleanor merasakan tidur bersama kedua orang tuanya.
"Apa kepala mu terbentur sesuatu?" tanya Arra, dia sungguh heran melihat sikap Erzan malam ini. Bahkan Erzan sampai membawa Eleanor untuk masuk ke dalam kamarnya.
Seolah memberi isyarat jika mereka hanya akan tidur, tidak ada adegan pemersatu bangsa. Mengingat status Selena Maiden yang seorang wanita malam.
"Kenapa? katanya mau melihat wajah Eudora yang sesungguhnya, dia itu wanita yang licik."
"Apa dulu Eudora selalu menekan Arra."
"Sepertinya begitu," jawab Arra cepat dan yakin.
Membuat Erzan menatapnya semakin dalam. Ada perasaan bersalah yang tiba-tiba menyerang hatinya, karena disaat dia pergi, Erzan malah meninggalkan Arra bersama orang-orang yang keji.
Erzan terus menatap Arra, melihat matanya, hidung dan bibir milik istrinya yang sudah berubah. Arra memang terlihat berbeda, namun jika dilihat selekat ini, dia masih menemukan Arra nya yang dulu.
"Kenapa kamu selalu menatapku seperti itu?" tanya Arra, tatapan Erzan sungguh membuatnya merasa tidak nyaman. Seolah Erzan sedang menilai wajahnya.
"Tidurlah, sudah ku katakan malam ini kita akan tidur bersama," jawab Erzan. Bukan menjawab pertanyaan Arra dia malah memberi perintah.
Sementara Arra seperti sudah tidak punya pilihan lain. Dengan perlahan dia naik ke atas ranjang dan berbaring disisi kiri Eleanor.
Erzan pun segera memiringkan tubuhnya, membuat dia kembali menatap Arra.
"Berhentilah menatap ku seperti itu, kamu membuatku merasa tidak nyaman," ucap Arra dengan ketus, dia menarik selimut hingga ke atas dadanya.
"Kenapa tidak nyaman? harusnya kamu menggoda ku lagi."
"Cih! malas!"
Erzan mengulum senyum.
"Selena," panggil Erzan, membuat Arra langsung tersadar jika saat ini dia adalah Selena Maiden, bukan Arra.
Arra pun mengigit bibir bawahnya, kini mendadak bingung harus bagaimana.
"Beri aku ciuman selamat malam."