
Arra coba tidak percaya dengan semua kata yang diucapkan oleh Leo. Namun nyatanya semua itu masih tetap mempengaruhi hati dan pikiran Arra.
Hingga malam tiba dia masih saja teringat, bahkan ingat dengan sangat jelas.
Seperti sebuah keluarga? Arra tersenyum miring. Keluarga macam apa yang sampai tega mengurungnya. Memisahkannya dengan sang kakak, seolah Erzan telah membeli dia lalu bisa diperlakukan seenaknya.
Arra yang tengah duduk di kursi meja riasnya dan melamun, seketika tersentak saat mendengar pintu kamarnya yang diketuk dengan tidak sabaran.
Arra pun sampai kesal dibuatnya.
"Siapa sih!" kesal Arra.
Dia membuka pintu itu dengan kasar pula, lalu melihat Eudora di depan sana. Eudora bahkan langsung mendorong pintu hingga membuat Selena terhuyung nyaris jatuh.
"Eudora!" pekik Arra, dia sungguh kesal di perlakukan seperti ini. Sampai lupa jika dia lah yang telah memancing kemarahan Eudora.
"Aku sudah memperingatkan mu ya! jangan mendekati Erzan! kamu hanyalah wanita rendahan!" kesal Eudora, seperti biasa dia selalu bicara dengan suaranya yang pelan dan penuh penekanan.
Tapi Selena bukanlah wanita yang mudah ditindas, dia benci sekali tidak harga dirinya di hina.
Kali ini Arra tidak menjawab dengan kata-kata, dia langsung melayangkan tangan kanannya hingga berhasil menampar Eudora.
"Jaga ucapan mu! jangan sekali-kali merendahkan aku!" kesal Arra, dia bahkan meninggikan suaranya ketika mengucapkan itu.
"Kurang ajar berani-beraninya kamu menampar ku." Eudora ingin membalas, namun baru mengangkat tangan kanannya tiba-tiba Selena sudah jatuh tersungkur diatas lantai.
Lalu menangis memegangi pipinya sendiri.
"Eudora! Apa yang kamu lakukan!" ucap Erzan, yang entah sejak kapan datang. Tapi Arra mampu melihatnya sementara Eudora tidak, karena dia membelakangi pintu yang terbuka itu.
Erzan sungguh tidak menyangka jika Eudora bisa bersikap kasar seperti ini. Dia pun melebarkan langkahnya dan membantu Selena untuk bangkit.
"Zan, aku tidak malukan apapun pada wanita itu. Dia jatuh sendiri." Bela Eudora, tapi Arra malah menangis dan memeluk erat tubuh Erzan.
"Apa salahnya jika aku dekat dengan baby El, kenapa kamu marah?" tanya Arra dengan sesenggukan, sebuah pertanyaan yang membuat Eudora membelalakan matanya. Dari sini dia tahu jika Selena sedang bersandiwara, hanya untuk menyudutkan dia.
Kurang ajar! batin Eudora.
Sementara Arra tersenyum miring diantara kepalanya yang bersembunyi di dada Erzan, ini adalah akting yang dia pelajari selama ini.
"Zan, wanita itu bohong. Aku tidak melakukan apapun."
Arra semakin mengerutkan pelukannya pada Erzan. Dan entah kenapa, keduanya merasa begitu nyaman dengan pelukan ini. Arra yang merasa terlindungi dan Erzan yang merasa ingin melindungi.
Melihat itu Eudora akhirnya tidak punya pilihan lain, akhirnya dia meminta maaf...
"Maafkan aku Zan."
"Bukan pada ku harusnya kamu meminta maaf."
"Selena, maafkan aku."
Arra mengangguk kecil.
"Keluarlah," ucap Erzan dan Eudora menurut. Dia keluar dari kamar ini dan meninggalkan Erzan dipeluk oleh wanita sialan itu.
Saat pintu sudah tertutup, Arra perlahan melepaskan pelukannya. Sandiwara ini belum berakhir.
"Kenapa Eudora marah padaku, dia bilang dia lah mommy baby El."
"Dia bicara seperti itu?"
Arra mengangguk dan makin kesal lah Erzan pada Eudora, mommy baby El hanya 1, Arra.
"Berhentilah menangis, aku akan bicara pada Eudora tentang ini."
Erzan hendak pergi, namun entah kenapa tiba-tiba tangan Arra bergerak sendiri untuk menahan. Arra bahkan seperti tak sadar ketika melakukan itu.
Kini tangan kanannya sudah menahan salah satu lengan Erzan.
"Kenapa?" tanya Erzan dan Arra mendadak bingung mau menjawab apa ...
Karena kata-kata yang ada di dalam kepalanya seperti tidak masuk akal...
Jangan pergi.