
"Astaga!" pekik Austin saat dia melihat pria berbadan kekar ini muntah persis di hadapannya.
Merasa jijik Austin pun menyingkir, lalu memilih untuk mengambil Eleanor saja di gendongan sang adik.
"Biar aku yang tenangkan Eleanor, urus saja suami tidak berguna mu itu."
"Abang!" kesal Arra, di keadaan seperti ini masih sempat-sempatnya Austin menunjukkan rasa ketidaksukaannya pada sang suami.
Dan Erzan yang juga mendengar ucapan jahat itu hanya mampu terdiam, merasakan sesak di dada dan mual yang luar biasa menyiksa
Arra buru-buru menghampiri dengan membawa kain bersih, membimbing sang suami untuk pergi ke kamar mandi.
Hera dan Anya pun bergerak cepat membersihkan bekas muntahan itu.
"Ya ampun Dad, pasti sakit sekali ya?" cemas Arra, dia membasuh mulut sang suami, lalu mengeringkannya dengan sayang. Berulang kali dia memijat tengkuk Erzan dan mengelus puncak kepalanya juga.
Erzan hanya diam, dia malah menarik pinggang Arra dan di peluknya erat.
"Jangan tinggalkan Daddy Mom. jangan tinggalkan Daddy."
"Memangnya siapa yang mau meninggalkan Daddy? aku tidak pernah punya pikiran seperti itu," balas Arra, dia balas memeluk sang suami.
"Sebaiknya sekarang kita langsung pergi ke kamar jadi Daddy bisa beristirahat." putus Arra dan Erzan hanya patuh.
Mereka berdua keluar dari dalam kamar mandi dengan Arra yang memapah tubuh besar Erzan, benar-benar terlihat lucu di pandangan Austin.
"Tidak tahu malu, bagaimana bisa seorang pria berbadan besar sepertimu memiliki tubuh yang lemah." Sindir Austin, dia kini menjelma sebagai Eudora di kehidupan Arra yang terdahulu.
Seseorang yang selalu memberi tekanan disaat lawannya sudah berada di titik paling terpuruk.
"Abang, nanti kalau Eleanor rewel bawa saja ke kamar ku."
"Dia tidak akan rewel, malam ini dia akan tidur bersama ku." Tapi saat itu Eleanor menggeliat tidak nyaman, dia ingin di gendong oleh sang ayah.
"Tuh kan dia mau nangis, sini berikan padaku," kesal Arra, dia melepaskan Erzan dan mendudukkan sang suami di sofa. Erzan hanya pasrah, dia sudah tak punya tenaga.
"Daddy," lirih Eleanor saat sudah berada di gendongan Arra, tangan kecilnya menunjuk ke arah sang ayah.
Arra yang tahu keinginan sang anak pun membawa baby El untuk mendekati Erzan, duduk di samping daddy yang masih lemah.
"Daddy."Eleanor bergerak sendiri untuk pindah ke pangkuan sang ayah, bergelayut manja di sana seolah tak ingin pisah. Sementara Erzan sungguh tak punya tenaga untuk menggendong sang anak.
"Mom, aku tidak bisa menggendong El." keluh Erzan, Arra bahkan bantu memegangi tubuh sang anak agar tidak jatuh.
"Tapi dia hanya mau bersama mu Dad, aku juga jadi bingung," jawab Arra.
"El, ayo gendong mommy sayang. Daddy sedang sakit El." Bujuk Arra, coba bicara dengan anak perempuannya ini.
Tapi Eleanor tidak mau dengar, dia terus memeluk Erzan erat, menggantungkan kedua tangan kecilnya di leher sang ayah.
"Daddy, mau Daddy," jawab Eleanor, sama keras kepalanya.
Arra menarik dan membuang nafasnya pelan, coba tenang dan memikirkan bagaimana baiknya.
"Baiklah, ayo bersama Daddy, tapi kita berbaring di ranjang dulu," tawar Arra, saat itu Eleanor setuju, balita ini menganggukkan kepala dengan antusias.
"Ayo Dad, kita ke kamar," ajak Arra.
"Tapi aku tidak kuat menggendong baby El Mom."
"Cih!" decih Austin, dia jijik sekali melihat sikap manja Erzan. Tidak ada lagi raut wajah sombong dari pria kaya raya itu. Hanya wajah memelas yang di tunjukkan.
"Menjijikkan," ucap Austin lagi dengan tak berperasaan.
"Abang! kalau Abang jahat begitu bagaiman Eleanor mau bersama mu!" kesal Arra pula, karena Austin malah memperkeruh keadaan.
"Ayo jalan!" titah Arra dengan suara tinggi, dia membantu bangkit Erzan yang sedang menggendong baby El.
"Berat Mom."
"Sabar lah Dad, kamar kita kan juga tidak jauh."
"Ye daddy!" teriak El, dia malah melompat-lompat digendongan Erzan. Membuat pria ini nyaris tumbang.
"Dad hati-hati!"
"Eleanor yang salah Mom."
"Sudah cepat!"