
Sampai di kamar, Erzan langsung menurunkan sang anak di atas ranjang. Dia bahkan dengan cepat ikut naik dan merebahkan tubuhnya yang lemas.
"Dad, aku akan minta pelayan untuk mengambilkan Daddy makan malam. Tunggu sebentar ya?"
"Tidak mau Mom, aku tidak mau makan. Aku cuma mau tidur saja, jika boleh aku juga mau memeluk mommy," jawab Erzan, sekaligus mengutarakan keinginannya.
"Iya Dad, nanti mommy akan memeluk Daddy, tapi sekarang harus makan dulu, setelah itu minum obat dan tidur," jawab Arra, memang begitulah prosedurnya. Kata Bella obat ini harus diminum agar mual Erzan bisa reda.
Eleanor di atas ranjang pun tak mau diam, terus bermain mencoba naik ke tubuh Erzan yang berbaring.
"Aduh!" keluh Erzan, saat perutnya di injak kuat oleh sang anak.
"Ya ampun El, Daddy sedang sakit sayang. Eleanor main bersama mommy saja ya?"
"No, mau Daddy," jawab Eleanor pula, sebuah jawaban yang membuat Erzan ingin menangis.
"El, bukan Daddy tidak sayang padamu Nak, tapi Daddy lemas sekali El. Tidak mau bermain," bujuk Erzan, memasang wajah memelas pada sang anak.
Tapi Eleanor malah tak peduli, dia tertawa riang dan akhirnya duduk di atas perut Erzan.
Niat hati Eleanor hanya ingin mengajak sang ayah bermain agar tak sakit lagi.
"Mom," rengek Erzan saat Eleanor mulai melompat-lompat.
"Ya ampun, aku panggil Anya dulu."
"Mom.." Erzan terus merengek dan saat itu Arra langsung keluar dan berteriak memanggil sang baby sitter.
Dengan cepat Anya pun berlari menghampiri.
"Anya, bawa Elenaor dulu, paksa saja tidak apa menangis. Kamu tenangkan dia di luar."
"Baik Nyonya."
Diluar sana Hera sudah menyambut dengan banyak mainan di tangan. Anya dan Hera terus berusaha keras membujuk Elenaor agar tenang.
Sementara Arra segera meminta salah satu pelayan untuk mengambilkan makan malam Erzan.
5 menit kemudian makanan itu tiba, Arra duduk di tepi ranjang dan siap menyuapi sang suami.
"Dad, ayo bangun dulu."
"Aku tidak mau makan Mom."
"Ini ada obat sebelum makan Dad, buat kamu tidak mual lagi dan tidak akan muntah lagi."
"Tapi mulutku pahit sekali Mom, aku tidak mau makan itu apalagi minum obat."
"Daddy mau sembuh tidak? kalau seperti ini terus bagaimana bisa sembuh!" suara Arra meninggi, sebenarnya dia sangat tidak tega namun harus begini agar Erzan mau makan dan minum obat.
Dan mendengar suara tinggi Arra disaat seperti ini, Erzan seperti de Javu, seperti mengulang kejadian beberapa tahun silam. Saat dia dengan teganya memaksa Arra untuk makan disaat sedang mengandung baby El.
Teringat itu Erzan menangis, air mata itu benar-benar keluar dari kedua matanya.
Membuat Arra tersentak kaget dan buru-buru meletakkan nampan di atas nakas.
"Dad, kenapa menangis? apa ada yang sakit?" cemas Arra, dia memeriksa suhu tubuh suaminya yang masih terasa normal, tidak panas demam.
Erzan menggeleng pelan kemudian menarik sang istri untuk di dekapnya.
"Maafkan Daddy Mom, maafkan Daddy," lirih Erzan.
"Kenapa minta maaf Dad, Daddy tidak salah."
Mendengar itu Erzan semakin erat memeluk Arra, air matanya terus mengalir tanpa jeda, terlebih saat perasaan bersalah mulai menguasai seluruh hatinya.