
Dalam keadaan Eudora yang pingsan, Leo tetap membawa Eudora ke kantor polisi.
Menyerahkannya ke penyidik beserta semua barang bukti yang dia punya.
Eudora adalah wanita licik, kebebasannya hanya akan membahayakan semua orang.
Disaat Erzan tengah melengkapi semua berkas, saat itu juga Eudora akhirnya sadar. Namun saat dia membuka mata, dia sudah berada di tempat yang paling mengerikan selama hidupnya.
Di dalam penjara bersama beberapa narapidana yang lain.
Tempat ini begitu dingin, dia bahkan tidak mampu merasa hangat meski kedua tangan memeluk tubuhnya sendiri.
Eudora menangis, kali ini dia hanya bisa meminta bantuan Miya dan Argus dan juga kedua orang tuanya.
Tapi hingga Erzan pergi dan malam semakin larut, tidak ada seorang pun yang menemui dia untuk mengulurkan tangan sebagai bantuan.
Tangis Eudora makin pecah, tangisnya sungguh mengganggu orang lain. Hingga seorang narapidana merasa sangat muak dan memukul Eudora untuk diam.
Malam ini adalah babak baru kehidupan bagi Eudora, semua hal keji yang dia lakukan pada orang lain akan kembali padanya di tempat ini.
"Diam! suara tangismu itu sangat mengganggu bodoh!"
Rambut Eudora di jambak, kemudian di lempar hingga tersungkur dia atas lantai.
Dan Eudora tidak bisa melawan, dia kalah tenaga dan kalah orang. Yang bisa dia lakukan hanya satu, meratapi nasibnya sendiri.
Di tempat lain Erzan tidak langsung pulang, setelah urusannya selesai di kantor polisi dia langsung mendatangi rumah sakit Medistra untuk melihat keadaan Sabrina.
Bukan hanya melihat, namun dia juga ingin mengakhiri kerja sama diantara mereka.
Sampai di rumah sakit, Erzan segera menuju kamar dimana Sabrina mendapatkan perawatan. Luka di wajahnya tidak terlalu parah, goresan beling itu lebih banyak melukai topeng yang dia pakai.
Topeng dan riasan tebal yang membuat Sabrina terlihat begitu mirip dengan Selena versi Arra. Dari tubuh dan semua gerak geriknya dia sangat mirip dengan istrinya itu.
"Leo akan menambahkan bayaran mu."
"Terima kasih Tuan." Balas Sabrina pula. Tidak peduli pada wajahnya yang terluka, namun dia tetap mengucapkan kata terima kasih dengan sungguh-sungguh.
Baginya disini bukan dia yang membantu Erzan, tapi Erzan lah yang sudah membantu hidupnya dengan bayaran fantastis itu.
Bahkan Sabrina akan sedia melakukan tugas apapun lagi jika Erzan meminta.
Pertemuan mereka tidak berlangsung lama, setelah kerja sama itu usai Erzan memutuskan untuk pulang.
Saat ini sudah jam 10 malam, entah apa yang sedang dilakukan oleh Arra di rumah.
Menempuh perjalanan dan akhirnya dia sampai di tempat tujuan.
Dengan langkah kaki lebar Erzan masuk, beberapa lampu utama sudah mati. Hanya menyisahkan lampu temaram di setiap sudut ruangan.
Dan langkah kaki Erzan terhenti ketika dia tiba di depan sebuah pintu kamar, kamar milik istrinya.
Erzan coba membuka pintu itu dan ternyata tidak dikunci.
Dia masuk dan langsung melihat ke arah ranjang, Arra tidak tidur sendiri, dia berbaring disana bersama Eleanor.
Namun mendengar suara pintu terbuka, Arra yang sudah tertidur pun akhirnya bangun juga. Lalu duduk dan melihat kedatangan Erzan.
"Kamu sudah pulang," ucap Arra dengan suaranya yang parau, dia melihat jam dinding, melihat saat ini sudah jam setengah 11 malam.
Dan saat kembali menatap Erzan, pria ini sudah duduk di tepi ranjang, di sampingnya.
Tatapan mereka saling bertemu ...