
Dengan tidak sabar Richard membuka pintu ruang VIP yang di dalamnya ada sang pujaan hati. Bibirnya tersenyum dengan menyeringai.
Dan betapa terkejutnya Arra ketika melihat pria badjingan itu masuk ke dalam sini.
Deg! jantungnya tersengat, dia takut sekali. Bayangan tentang peristiwa di Five Season Hotel kembali terulang dengan jelas. Disaat Richard membekap mulut dan memeluk tubuhnya erat.
Sesaat tubuh Arra membeku, namun kemudian sadar jika ini pasti rencana Eudora.
"Sayang, kita bertemu lagi," ucap Richard, dia mengunci pintu ruangan itu dan mulai berjalan mendekat.
Dan Arra terus mengendalikan diri, dia tidak ingin lemah dalam keadaan seperti ini.
"Apa Eudora yang meminta mu datang?"
"Siapa Eudora? bukankah kamu yang meminta Sasy untuk menghubungiku."
Sasy? tidak mungkin, tidak mungkin itu Sasy.
Richard sampai di samping Arra dan langsung menyentuh tangan wanita itu. Namun dengan cepat pula Arra menepisnya.
"Jaga sikapmu!"
"Kenapa? kenapa aku harus menjaga sikap, sementara kita pernah melewati malam yang panas."
"Apa maksud mu?!!" Suara Arra mulai meninggi, ucapan Richard terdengar begitu menjijikkan di telinganya. Arra juga langsung bangkit dan mengambil jarak dari pria badjingan ini.
"Jangan pura-pura lupa, bahkan kamu mengagumi keperkasaan ku."
"Menjijikkan!"
Richard tersenyum miring, dia kembali melangkah mengikis jarak.
"Jangan mendekati Aku!"
"Ayo kita lakukan lagi sayang, aku akan membayar mu lebih."
Tatapan penuh nafsu Richard benar-benar membuat harga diri Arra hancur, tanpa dia minta ada air mata yang menggenang di kedua matanya.
Arra coba berlari ke arah pintu namun Richard berhasil mencekal lengannya dengan kuat. Lalu mendorong Selena hingga terjerembab di atas meja makan itu.
Pyar! beberapa sendok dan piring jatuh hingga pecah.
"Lepas!!" pekik Arra. Dia meronta dan bergerak asal tanpa sadar, hingga tak sengaja kakinya menendang senjata milik Richard yang sudah tegang.
"Argh! wanita sialan!" pekik Richard, dia menyentuh intunya yang berdenyut nyeri, sakit sekali.
Dan kesempatan itu Arra gunakan untuk berlari sekuatnya menuju pintu, menekan kuncinya hingga terbuka dan keluar.
Bugh! tubuh Arra menabrak seseorang dengan begutu kuat. Tapi orang itu tetap bergeming, tidak membuatnya jatuh.
"Selena!" pekik Richard.
Arra yang mendengar panggilan itu pun ingin segera berlari, tanpa melihat siapa orang sudah dia tabrak. Namun saat hendak pergi, lengan Arra malah ditahan oleh pria itu.
Membuat Arra akhirnya mendongak.
"Erzan," ucap Arra, menyebut nama pria ini. Akhirnya air mata yang tadi menggenang kini jatuh juga. Melihat Erzan sudah seperti melihat penolongnya.
"Tolong Aku."
Saat itu juga Richard keluar dari ruangan itu dan betapa terkejutnya dia saat melihat Selena bersama Erzan Harold.
Mereka berdua saling mengenal, namun kekuasaan Richard berasa jauh dibawah Erzan.
"Tu-tuan Erzan."
"Wanita ini adalah milik ku, apa kamu menyentuhnya?"
"Ma-maaf Tuan, ini semua hanya salah paham. Aku tidak menyentuh wanita itu. Aku tidak akan berani menyentuh wanita milik Anda." jawab Richard dengan kegugupan yang luar biasa. Mencari masalah dengan Erzan hanya akan merugikan dia sendiri.
"Pergi."
"Baik Tuan!" Seketika itu juga Richard pergi dari sana, berjalan tertatih menahan intinya yang masih terasa pedih.
Dan setelah kepergian Richard, Arra menarik tangannya hingga terlepas dari cekalan Erzan.
Pembelaan Erzan padanya semakin membuat hati Arra sakit. Erzan memperlakukan dia seolah dia adalah wanita yang bisa diperjual belikan.
Arra benar-benar merasa sudah tidak punya harga diri.