
Ciuman Arra dan Erzan terhenti saat tiba-tiba pintu ruangan itu dibuka dengan kasar. Austin masuk ke dalam sana dengan tidak sabaran.
Membuat Arra sungguh terkejut, namun tidak dengan Erzan yang memang merencanakan ini semua.
Tapi Austin datang terlalu cepat, sebelum Erzan menjelaskan semuanya pada Arra. Menjelaskan jika Austin sudah tau semua yang tejadi di masa lalu, tetang hilangnya Arra 1 tahun lalu hingga tentang Arra yang mengganti wajahnya dengan wajah Selena Maiden.
Lalu kini kembali melakukan operasi untuk mendapatkan wajahnya yang asli.
Austin menangis, dia berjalan perlahan mendekati Arra di atas ranjang. Sementara Erzan menyingkir, dia tidak ingin Austin kembali memukulinya seperti tadi.
Dan setelah mengetahui semua kebenaran, Austin baru sadar jika Selena yang dulu mendatangi rumahnya pastilah sang adik.
Austin terus meneteskan air mata, membuat Arra pun ikut menangis juga.
Austin tidak mampu berucap apapun, dia langsung memeluk Arra erat dan menumpahkan semua kerinduan yang selama ini terpendam.
Tangis Arra pecah, dia membalas pelukan sang kakak tak kalah erat.
Sedangkan Erzan yang melihat itu hanya mampu membuang nafasnya berat, antara haru, senang dan perasaan bersalah yang masih saja bersarang.
"Maafkan abang Ra, maafkan abang," ucap Austin diantara tangisannya, diantara pelukan yang semakin erat. Suaranya bahkan bergetar saat mengucapkan kata maaf itu.
Cukup lama keduanya larut dalam tangis, sampai akhirnya Arra mengakhiri lebih dulu.
"Sekarang semuanya sudah baik-baik saja Bang, tidak perlu cemaskan aku," jelas Arra.
Arra sudah sangat siap untuk memulai hidupnya yang baru yang lebih bahagia, dia tidak ingin terbayang-bayang dengan luka dimasa lalu.
Dan belum sempat Austin menjawab ucapan sang Adik, tiba-tiba ada yang datang lagi ke ruangan ini.
Kali ini yang datang adalah Argus dan Miya, lengkap dengan baby Eleanor bersama mereka.
Miya juga langsung memberikan baby El kepada sang paman, membuat Austin lagi-lagi menangis dan menumpahkan semua air mata.
"Namanya Eleanor," terang Arra dan Austin hanya mampu mengangguk sebagai tanggapan.
Austin terus menciumi baby El, membuat bayi mungil ini akhirnya menangis karena takut. Dipertemuan pertamanya dengan sang paman, Austin terus menangis dan menatapnya lekat. Juga menciumnya tanpa henti.
Austin memutuskan untuk menyudahi tangisnya, menghapus air mata itu dengan cepat dan menampilkan senyum di depan sang keponakan tersayang.
Secepat kilat Austin berubah jadi ceria, dia langsung bermain seolah melupakan semua luka.
Dan melihat sang kakak yang mulai bisa kembali tersenyum membuat Arra ikut tersenyum pula.
Senyum Arra makin terkembang, saat Miya memeluknya erat.
"Ini baru menantu mama," ucap Miya, membuat Arra jadi malu sendiri.
"Zan, wajah mu kenapa?" tanya Argus, sedari tadi dia ingin bertanya tentang itu. Arra juga menunggu jawaban sang suami.
"Ini semua ulah Austin."
"Oh," jawab semua orang membuat Erzan tak habis pikir, seolah dia memang pantas mendapatkan semua pukulan itu.
Setelah semua urusan selesai di rumah sakit, mereka semua akhirnya pulang.
Namun belum benar-benar keluar dari ruangan, tiba-tiba langkah mereka semua terhenti saat mendengar suara Erzan yang seolah ingin muntah.
Huwek!
Sontak saja semua orang menatap Erzan, melihat pria dingin ini yang wajahnya jadi semakin pucat.
"Zan, kamu kenapa?" "Dad, kamu baik-baik saja?" Tanya Miya dan Arra bersamaan, sama-sama cemas pula.
Tapi yang menjawab malah bukan Erzan, melainkan Bella yang juga ada disana. Bella sudah mengamati semua tanda dan yakin satu hal ...
"Erzan baik-baik saja, dia mengalami kehamilan simpatik. Arra yang hamil dan Erzan yang mengidam."
HA!
...TAMAT...