Finding Lost Wife

Finding Lost Wife
FLW BAB 103 - Ayo Kita Hidup Bahagia



Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan akhirnya jadwal operasi Arra susah ditentukan. Tepatnya nanti jam 8 malam.


Jadi siang ini Arra dan Erzan memutuskan untuk pulang lebih dulu.


Sampai di dalam mobil Arra langsung melepas topi dan juga merapikan rambutnya yang seidkit acak-acakan.


Sadar jika kini wajahnya milik wanita lain membuat Arra selalu berhati-hati jika pergi dengan Erzan. Dia selalu menutupi wajahnya ataupun menyamar jadi orang lain.


"Biar aku yang ikat rambut mu," ucap Erzan, seperti biasanya dia akan langsung bergerak sesuai dengan apa yang dia ucapkan, tanpa perlu persetujuan Arra.


Erzan langsung mengambil ikat rambut kecil berwarna hitam di tangan Arra dan mulai menyusun rambut panjang istrinya.


Sementara Arra hanya pasrah, bibirnya tersenyum kecil mendapati perlakuan manis sang suami.


Namun saat Arra menoleh pada Erzan, tiba-tiba senyum kecilnya itu hilang ketika dia melihat wajah Erzan yang murung. Wajah yang seolah tertekan dan banyak pikiran.


"Sayang," panggil Arra pelan. Tapi Erzan masih sibuk mengikat rambutnya.


"Hem," jawab Erzan singkat.


Dan Arra menunggu hingga Erzan membalas tatapannya.


"Kenapa?" tanya Erzan, dia juga belai lembut wajah Arra, ada beberapa anak rambut yang tidak berhasil diikat dia rapikan ke belakang.


"Kenapa wajahmu seperti Itu? seperti tidak sedang bahagia," tanya Arra.


"Aku bahagia, sangat bahagia. Tapi juga sedih sekaligus."


"Kenapa?"


"Karena kamu terlalu banyak berkorban, dan aku terlalu banyak melakukan kesalahan."


Arra menggelengkan kepalanya, tidak ingin Erzan terus menerus menyalahkan diri sendiri tentang masa lalu.


Satu yang selalu Arra ingat, andai Erzan tidak sejahat itu pasti tidak ada Eleanor diantara mereka. Dan sejak baby El kecil, bayi mungil itu selalu berada dibawah pengawasan Erzan. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa Arra lakukan lagi untuk sang anak.


"Jangan bicara seperti itu, aku juga banyak melakukan kesalahan," balas Arra, dia menarik tangan Erzan yang membelai wajahnya dan menggenggam nya erat.


"Jangan lagi memikirkan siapa yang paling banyak menanggung beban, ayo kita hidup bahagia," pinta Arra, dia menatap dengan tatapan penuh harap.


Dan Erzan menjawabnya dengan mencium dalam bibir sang istri. Diantara mobil yang terus melaju membelah jalanan untuk pulang, Erzan memberikan ciuman penuh cinta itu. Hingga tanpa sadar suara decapan tercipta diantara keduanya.


Saat ciuman itu berakhir, bibir mereka sama-sama basah.


Sampai di rumah Arra dan Erzan masuk ke dalam rumah dengan saling menggenggam erat.


Bibir mereka semakin tersenyum saat mendengar suara riuh di ruang tengah, banyak tawa tercipta di ruang itu.


Argus dan Miya tengah bermain dengan Eleanor.


Kemarin Miya nampak tak berdaya, kini wanita paruh baya itu seolah kembali menemukan semangat hidupnya. Wajah pucatnya tak nampak lagi, diganti dengan wajah berseri penuh kebahagiaan.


Dan saat melihat Arra dan Erzan datang, Miya langsung menyambut keduanya. Langsung memeluk Arra sangat erat.


"Terima kasih sayang, maafkan mama," ucap Miya lagi, tak bosan dia terus mengucapkan 2 kalimat itu.


Dan Arra pun membalas pelukannya tak kalah erat.


"Ma, nanti malam Arra akam melakukan operasi wajah. Dia harus beristirahat," ucap Erzan, sebuah ucapan yang membuat pelukan kedua wanita itu terlepas.


Sesaat Miya terdiam, Argus yang ikut mendengar itu pun juga merasa semakin bersalah pada sang menantu.


"Baiklah, kalian naiklah dan istirahat. Tidak perlu cemaskan El," jawab Miya.


Arra mengangguk dengan bibirnya yang tersenyum. Tapi senyum Erzan terlihat lebih jelas.


Erzan pun segera mencium baby El dan menarik istrinya naik ke lantai 2, masuk ke dalam kamar mereka.