
Setelah memberikan penjelasan serinci-rincinya, Bella pun keluar dari ruang perawatan VIP ini. Bella juga sudah menyuntikan beberapa obat pada tubuh Erzan.
"Mama dan Papa pulang saja lebih dulu, biar aku yang jaga Erzan," ucap Arra. Kata Bella jika sore nanti keadaan Erzan sudah membaik suaminya itu sudah diperbolehkan pulang. Kondisi seperti ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
Apalagi Bella sangat yakin, jika di samping Arra, Erzan akan baik-baik saja.
"Bagaimana Pa?" tanya Miya pada sang suami, dia sebenarnya masih ingin tinggal disini, tapi semua keputusan ada pada suaminya.
"Lebih baik kita pulang, ajak Austin untuk mengunjungi rumah Erzan," jawab Argus setelah berpikir. Sebuah jawaban yang terasa sangat benar di telinga semua orang.
Erzan bahkan menganggukkan kepalanya juga meski dengan anggukan yang sangat pelan.
Austin pasti akan sangat senang bisa melihat kamar Eleanor di rumah, melihat bagaimana Eleanor hidup selama ini.
Dalam hati kecil Erzan, dia juga sangat berharap setelah Austin melihat itu semua sang kakak ipar akan memberinya maaf sepenuh hati. Bukan hanya memaafkan karena kini Arra mencintai dia dan karena dia adalah ayah dari Eleanor.
"baiklah, kalau begitu kami pulang ya sayang," ucap Miya akhirnya, dia memeluk Arra sejenak. Mengelus puncak kepala menantu kesayangannya. Arra baru saja selesai masa pemulihan pasca operasi dan kini malah harus merawat Erzan pula.
"Ada Leo, minta dia yang jaga Erzan kalau kamu mau istirahat."
"Iya Ma."
Erzan sungguh tak suka dengan percakapan itu, dia bahkan langsung menatap Leo tajam, awas saja andai berani menyentuh nya. Leo yang paham, menundukkan kepala sejenak.
Arra kemudian mengantar kepulangan Argus dan Miya sampai di depan ruangan itu, lalu kembali masuk dan menutup pintu.
Menghampiri Erzan dan duduk di tepi ranjang.
"Bagaimana Dad? masih mual? masih tidak mau buka mulut?" tanya Arra, kini dia sungguh khawatir, tidak seperti tadi yang sedikit meledek.
"Tadi aku yang tidur disini, sekarang Daddy," ucap Arra lagi, terus bicara sendiri.
Leo yang ada di ruangan itu benar-benar seperti manekin. Berdiri tegap dan hanya diam. Arra bahkan sampai tak menyadari keberadaan sang asisten.
"Daddy mau tidur, aku turunkan ranjangnya ya?"
Erzan menggeleng.
"Terus mau apa?"
Tidak mau apa-apa, hanya ingin terus menatapmu. jawab Erzan di dalam hati, saat ini dia sungguh tak bisa buka mulut. Andai bicara rasanya akan mengeluarkan semua isi perut.
Namun Erzan menatap lekat wajah Arra, menatap dengan tatapan sendu yang membuat Arra pun hanyut dalam tatapan itu.
Arra hanya diam saat Erzan menatap wajahnya lekat. Dia cukup tahu jika Erzan pasti sedang aneh melihat wajah nya yang kini telah kembali, setelah beberapa bulan terakhir melihat dia sebagai Selena Maiden.
"Wajahku jelek ya?" tanya Arra, setelah cukup lama waktu berlalu namun Erzan tak puas-puas menatapi wajahnya.
Tapi saat itu Erzan tidak menjawab apapun, masih betah diam dengan mulut terkunci rapat.
Dia malah menggerakkan tangan kanannya, memberi isyarat agar Arra mendekat.
Wanita cantik ini menurut, tubuhnya condong ke arah Erzan. Sampai akhirnya Erzan bisa menangkup wajah sang istri mengunakan kedua tangannya dan kemudian mencium bibir Arra, lalu melumaatnya dalam.
Ciuman yang membuat rasa mualnya seketika hilang.
Melihat adegan itu, Leo sontak memutar badan, lalu membuang nafasnya pelan. Fhuuh.