Finding Lost Wife

Finding Lost Wife
FLW BAB 88 - Merasa Geram



Arra hanya termenung seharian ini, dia memikirkan banyak hal tentang semua yang terjadi. Tentang dia, Erzan, Eleanor dan keluarga kecil mereka.


Arra tahu selama ini Erzan terus mencari dia dan tidak mendaftarkan perceraian mereka.


Beberapa hari tinggal di rumah ini pun membuat dia menyadari banyak hal. Tentang Erzan yang ternyata selama ini salah dia nilai.


Yang Erzan cemaskan hanyalah baby El, bukan tentang memisahkan dia dengan anak mereka apalagi merencanakan perpisahan.


Arra juga sadar, andai dulu Erzan tidak berkeras hati padanya pasti baby El tidak akan ada di dunia ini.


"Huh." Arra membuang nafasnya kasar. Kini dia duduk seorang diri di sofa kamar.


Diamnya Erzan membuat Arra tidak tenang. Terlebih saat tadi dia mendengar cerita dari Anya dan Hera tentang Erzan yang selama ini membesarkan Eleanor seorang diri tanpa istrinya.


Membahas tentang Eudora membuatnya, Anya dan Hera jadi membahas pula tentang Erzan.


Cerita masa lalu yang belum Arra tahu. Di saat baby El badannya masih merah, Erzan bahkan memandikan langsung anaknya tanpa canggung. Erzan juga tidak pernah meninggalkan baby El dalam jangka waktu yang lama.


Saat itu berat badan Erzan pun mengalami penurunan drastis.


Erzan mulai bisa hidup dengan normal seirama dengan baby El yang semakin tumbuh besar.


Mengingat itu dada Arra semakin terasa sesak. Ada bagian di dalam hatinya yang ingin menyudahi ini semua. Mengatakan kepada Erzan jika dia adalah Arra.


"Aku harus menemui Erzan," gumam Arra.


setelahnya dia bangkit dengan cepat dan segera keluar dari dalam kamar. Langkah kakinya tertuju ke ruang kerja milik Erzan.


Mengetuk pintu itu hingga terdengar suara dingin Erzan yang memintanya untuk masuk.


Arra memutar kenop pintu dan masuk perlahan, seketika itu juga tatapannya langsung bertemu dengan kedua manik hitam milik Erzan. Menyapa nya begitu dalam.


Hanya dengan tatapan itu sudah mampu membuat hati Arra berdesir.


Astaga, apa dia tidak sadar jika tatapannya itu membuatku gugup. Batin Arra.


"Ada apa?" tanya Erzan, Sebenarnya dia bicara biasa, namun Arra yang mendengarnya tetap saja merasa jika ucapan Erzan begitu dingin.


Membuat Arra seketika ragu untuk mengakui semuanya, bibirnya malah mencebik, seperti sedang marah.


"Ada apa?" tanya Erzan sekali lagi, karena Arra hanya diam. Membuatnya jadi semakin penasaran.


"Ti-tidak, hanya saja seharian ini aku belum melihat mu," jawab Arra gugup.


Tapi Erzan tidak langsung menjawab, malah diam saja dan menatap Arra.


"Aku juga mendengar cerita tentang Eudora dari Hera, apa iya seperti itu?"


"Seperti itu bagaimana?"


"Kamu mempenjarakan dia?"


"Bukankah dia memang layak untuk di penjara?"


"Ish, harusnya kamu jawab Iya lalu bercerita padaku apa yang terjadi, bukannya terus bertanya seperti itu." Kesal Arra, Erzan memang tidak mudah untuk diajaknya bicara, menyebalkan.


"Bukankah kamu sudah tahu semua? untuk apa lagi aku menjelaskan."


Arra mencebik, wajahnya nampak kesal.


"Bahkan ku rasa kamu lebih tahu banyak hal daripada aku." Sindir Erzan pula.


"Oh iya, mungkin sekarang kamu juga sedang membohongi aku," ucap Erzan lagi, lebih spesifik untuk menyindir istrinya ini.


Tapi yang di sindir hanya mencebik merasa kesal, merasa Erzan bicara ngelantur kemana-mana.


Hih! rasanya Erzan ingin sekali menarik hidung istrinya itu, merasa geram.