Finding Lost Wife

Finding Lost Wife
FLW BAB 93 - Sebuah Pengumuman



Bukan hanya ciuman yang Erzan berikan, dia juga menyentuhi tubuh istrinya dengan lembut. Membuat tubuh Arra bergerak tidak tenang. Sampai tak sadar jika pergerakan itu semakin memancing hasrat Erzan.


Pria yang kedua matanya sudah berkabut ini menyudahi ciumannya, kini bibir itu turun untuk menyesap tubuh istrinya yang lain. Sementara Arra hanya bisa pasrah, sesekali dia bahkan mendesaah. Apalagi saat Erzan mulai menikmati satu pucuknya yang terbuka, Arra bahkan tanpa sadar menjambak rambut suaminya ini.


Disaat intim seperti itu, tiba-tiba terdengar suara pintu ruangan yang di ketuk.


Erzan tidak peduli, tapi tidak dengan Arra.


"Zan," panggil Arra, tapi Erzan tidak mau dengar.


"Sayaaang," rintih Arra pula, diantara kesadaran dan kenikmatan yang ia rasakan. Dan panggilan itu akhirnya mampu membuat Erzan berhenti.


"Kamu memanggil ku apa?" tanya Erzan, saat itu Arra langsung menutupi dadanya dengan menyilangkan kedua tangan.


"Zan, jangan menggoda ku. Ada yang mengetuk pintu." jawab Arra, kini jantungnya bergemuruh hebat, gugup dan takut. Merasa dia dan Erzan habis saja ketahuan berbuat mesyum.


Bagaimanapun di rumah ini belum ada yang tahu tentang kebenarannya bahwa dia adalah Arra, istrinya Erzan, nyonya di rumah ini.


"Kenapa kita harus peduli? abaikan saja, nanti juga akan pergi sendiri," balas Erzan.


Tapi lagi-lagi mereka berdua sama-sama mendengar pintu ruangan itu yang kembali diketuk.


"Jangan begitu, bagaimana jika yang mengetuk pintu adalah Anya dan dia ingin mengatakan sesuatu tentang Eleanor."


"Astaga, maafkan aku sayang aku sampai melupakan tentang anak kita."


Arra mengerucutkan bibirnya, lalu membiarkan Erzan kembali memasang bra nya yang tertanggal dan membenahi bajunya pula.


Sebelum bangkit, Erzan kembali mengecup sekilas bibir sang istri. Setelah keluar dari ruangan ini dia akan langsung mengatakan pada semua pelayan jika istrinya telah kembali.


Erzan membuka pintu dan melihat ada Anya yang menggendong baby El disana.


"Tuh kan, untung dibuka pintunya," keluh Arra, tapi mendengar omelan itu senyum Arra malah semakin lebar.


Erzan bahkan langsung mengecup pipi Arra tidak peduli jika ada Anya di hadapan mereka.


Yang bisa Anya lakukan hanya satu, menutup matanya cepat.


"Zan." Cicit Arra, lagi-lagi dia memukul punggung suaminya. Erzan ini benar-benar tidak ingat tempat.


"Ambillah baby El, tunggu aku di kamar kita. Aku akan meminta para pelayan untuk berkumpul." Terang Erzan dan Arra menatap butuh penjelasan lebih.


"Aku akan mengatakan jika kamu sudah kembali, aku ingin mereka tahu bahwa kamu Nyonya di rumah ini."


Arra tidak mampu berkata-kata, pun Anya yang bingung luar biasa.


Dan Arra menurut, dia mengambil baby El di gendongan Anya dan segera menuju kamar Erzan, kamar mereka di awal-awal pernikahan.


Setelahnya Erzan turun ke lantai 1, meminta semua pelayan untuk berkumpul termasuk Anya dan Hera.


Saat itu juga Erzan mengumumkan bahwa Selena adalah Arra, istrinya. Maka semua orang harus menghormati Arra seperti mereka menghormati Erzan.


Semua pelayan hanya berani menjawab Iya, tanpa banyak bertanya bagaimana bisa.


Mereka hanya bisa menerka-nerka, karena itulah baby El begitu dekat dengan wanita cantik itu.


Dan tak lama setelah para pelayan di bubarkan, salah satu mata-mata Argus menghubungi sang Tuan.


Melaporkan semua yang sudah di umumkan oleh Erzan.