
"Dulu Arra tidak seperti itu, dia sangat manis," ucap Erzan, yang merasa kini istrinya telah banyak berubah. Bahkan rasanya kini dia jadi begitu tunduk pada sang istri, tidak seperti dulu saat dia sangat berkuasa.
"Benar, tapi karena kamu lah dia berubah jadi begitu," balas Austin, awalnya ingin setuju dengan Erzan namun dengan cepat dia urungkan. Selamanya, Austin akan bersikap siaga.
Dan mendengar ucapan pedas sang kakak ipar, membuat Erzan langsung menatap Austin. Keduanya kembali saling tatap dengan tatapan yang sama-sama tajam.
Erzan yang sudah merasa sembuh kembali mendapatkan instingnya yang licik, dia tak akan biarkan Austin selamanya tinggal bersama dengan mereka.
Dalam benaknya mulai banyak rencana yang muncul, mulai dari mencari wanita penggoda untuk membuat Austin menikah dan berencana mengajak Arra untuk pindah dari rumah ini.
Bagi Erzan, rumah ini juga terlalu banyak menyimpan kenangan buruk. Memiliki rumah baru, terasa lebih menyenangkan bagi dia dan keluarga kecilnya nanti.
Ya, sebelum Arra melahirkan anak kami yang kedua aku harus punya rumah impian yang baru, yakin Erzan di dalam hati.
Dia kemudian meninggalkan Austin begitu saja, masih dengan tatapan yang bermusuhan. Sementara Austin pun berdecih, andai adiknya tidak mencintai pria itu sudah dia pisahkan sejak dulu.
Malam datang.
Selepas makan malam, Austin mengambil Baby El untuk ada di bawah pengasuhan dia. Miya dan Argus sudah pulang 3 hari lalu, kini di rumah ini Austin lah yang bersikap seolah jadi tuan rumahnya, bersikap semau dia.
Erzan dan Arra memilih duduk di balkon lantai 2, menikmati semilir angin malam Saat itu dan cerah nya langit di atas sana.
Mereka duduk berdampingan, saling memberi kehangatan.
"Daddy benar-benar sudah sembuh?" tanya Arra, ini adalah pertanyaan yang entah ke berapa. Namun dia sungguh-sungguh ingin memastikan, tak ingin tiba-tiba sang suami tumbang seperti minggu lalu.
"Benar Mom, sekarang aku tau apa obatnya."
"Apa?"
"Sakit Mom."
"Bohong, aku cubitnya cuma pelan."
Erzan lantas mengecup sekilas bibir istrinya yang tengah cemberut.
"Sekarang katakan, Leo melaporkan apa tadi siang?"
"Besok Selena akan datang kesini, dia ingin melihat kondisi mu."
"Hanya itu?"
"Tidak, masih ada 1 lagi."
"Apa?"
"Ada tamu dari luar negeri namanya tuan Bizard, hari Kamis dia datang kesini jadi ingin kamu menemui beliau." Arra sengaja bicara seperti itu, seolah tidak ada pilihan dia di dalam menemui klien tersebut. Jujur saja Arra masih merasa enggan, bukan karena takut menemui Bizard, tapi enggan untuk kembali menginjakkan kaki di Harold Kingdom pasca skandallnya.
Dia masih takut menghadapi orang-orang yang akan menatapnya remeh. Mau bagaimanapun keadaan yang sesungguhnya, tetap dia yang akan dinilai muraahan.
Setelah mengatakan itu Arra pun memutus tatapan mereka, pura-pura sibuk menatap langit. Padahal tidak ingin Erzan tahu jika saat ini dia tengah berbohong.
"Sebenarnya aku masih merasa lemah untuk pergi ke kantor, tapi aku akan usahakan datang. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?" tanya Arra dengan cepat, dia bahkan langsung kembali menatap sang suami, membuat keduanya saling tatap dengan begitu dalam.
"Aku hanya akan pergi jika bersama mu."