
"Arra sudah kembali?" tanya Argus pada seseorang di dalam sambungan telepon yang tengah terhubung.
Seketika jantungnya seperti tersengat. Makin merasa gelisah ketika mendengar pelayan itu mengatakan jika Arra adalah Selena Maiden yang selama ini mengasuh Baby Eleanor.
Argus terperangah, sementara Miya yang melihat perubahan raut wajah sang suami pun merasakan kegelisahan yang sama.
Miya tidak sabar ingin tahu apa yang sedang dibicarakan oleh sang suami, tapi dia tidak punya keberanian untuk memotong pembicaraan itu.
Akhirnya Miya hanya bisa menunggu dengan gelisah.
"Benar Tuan, Selena Maiden yang selama ini menjadi seorang artis dan datang ke sini untuk mengasuh baby Eleanor ternyata adalah nyonya Arra."
Argus makin tak mampu berkata-kata, semuanya terasa tidak masuk akal bagi dia.
Argus malah berfikir jika ini pasti akal-akalan Selena Maiden untuk menempati posisi menantunya di rumah Erzan. Selena pasti memanfaatkan Eleanor untuk memperdaya Erzan.
Tanpa banyak kata lagi Agus segera memutus sambungan telepon itu secara sepihak. kemudian dengan perasaan marah dia segera mendatangi rumah Erzan.
Argus bahkan sampai tidak ingat dengan Miya yang sedari tadi menunggu.
"Pa!" pekik Miya, tapi Argus yang di panggil sudah menjauh dengan langkah kaki lebar.
Miya coba mengejar suaminya namun tidak berhasil, ketika dia sudah sampai di teras rumah dilihatnya Argus sudah masuk kedalam mobilnya dan mengemudikan mobil itu sendiri.
Melihat itu Miya pun merasakan ada sesuatu yang tidak baik terjadi di rumah Erzan, hatinya bergemuruh merasa takut.
Lantas dengan segera dia berteriak memanggil salah satu supir dan meminta untuk mengantarkannya ke rumah sang anak.
Di depan sana Argus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga tak berselang lama kemudian akhirnya dia sampai di rumah Erzan.
Argus masuk ke sana dengan rahang mengeras. Argus tidak bisa terima jika posisi Arra digantikan oleh orang lain. Eleanor berhak mendapatkan kasih sayang dari ibunya langsung, bukan dari orang lain.
"ERZAN!!" pekik Argus, sampai di ruang tengah dia langsung berteriak memanggil sang anak. Sudah cukup selama ini dia mengalah, tapi menjadikan Selena sebagai Arra tidak akan mampu dia maafkan.
Karena kebahagiaan Eleanor lah yang akan dipertaruhkan.
Cucu yang selama ini belum mampu dia gapai.
Bukan hanya Erzan dan Arra yang mendengar teriakan itu. Tapi semua orang yang berada di rumah pun mampu mendengarnya dengan jelas, suara Argus menggelegar bagaikan petir.
Dan di antara semua orang Arra adalah yang paling takut mendengar teriakan itu, apalagi belum lama Erzan telah menyampaikan pengumuman tentang identitas dia yang sesungguhnya.
Arra tahu, Argus tidak akan terima Jika dia kembali ke rumah ini.
"Tetaplah berada di lantai dua, aku akan turun dan menemui Papa seorang diri," terang Erzan, dia mengelus pelan bahu Arra, tahu jika istrinya tengah merasa ketakutan.
Dan Arra menganggukkan kepalanya patuh.
Saat ini malam sudah datang, tapi Argus malah membuat keributan.
Erzan turun seorang diri, dari langkah kakinya menuruni anak tangga tatapannya langsung bertemu dengan sang ayah di bawah sana.
Dilihatnya sang ayah yang menatap dengan tatapan tajam dan penuh kemarahan.
Erzan tahu, pasti mata-mata ayahnya itu sudah menyampaikan apa yang terjadi di rumah ini.
Terlebih tentang pengumuman yang baru saja dia buat.
Dan memang inilah yang Erzan mau, kedatangan Argus ke rumah ini.