Finding Lost Wife

Finding Lost Wife
FLW BAB 117 - Wajah Merah Merona



"Aku hanya akan pergi jika bersama mu," ucap Erzan.


Dan Arra yang mendengar itu bingung harus bereaksi seperti apa, harus bahagia atau semakin merasa enggan untuk pergi. Jujur saja, Harold Kingdom membuatnya merasa tak nyaman.


"Kenapa? kamu tidak ingin pergi?" tanya Erzan.


Arra masih diam, bingung mau menjawab apa. Dia hanya menyelipkan rambutnya yang tertiup angin malam ke belakang telinga.


Erzan pun bantu merapikan rambut istrinya itu.


"Setelah kamu pergi dari Harold Kingdom tanpa kejelasan waktu itu, pihak HRD langsung membuat pengumuman bahwa kamu keluar secara mendadak karena ada kepentingan mendesak," jelas Erzan, menceritakan tentang masa lalu yang tak diketahui oleh sang istri.


Tentang bagaimana keadaan di perusahaan setelah dia pergi.


"Dan setelah Eleanor lahir, aku mengumumkan bahwa kamu adalah istriku dan Eleanor anakku," terang Erzan lagi.


"Tidak akan ada yang berani membicarakan kamu di sana, Andai mereka punya nyali untuk melakukan itu aku akan langsung penggal kepalanya."


"Astaga Daddy!" terkejut Arra, sesaat dia lupa bawa suaminya adalah pria yang kejam, sesaat dia kira Erzan masih seperti kemarin yang begitu lemah.


Namun Erzan yang mengetahui kegundahan sang istri terpaksa mengatakan itu, dia sungguh-sungguh ingin membuat arah percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Erzan yang awalnya merasa tidak begitu berniat untuk besok pergi, kini jadi bersemangat. Kini dia semakin ingin menunjukkan pada dunia bahwa Arra adalah istrinya.


"Sudah aku putuskan bahwa besok kita akan pergi berdua, tidak ada tawar-menawar, tidak ada penolakan."


Arra mencebik dan Erzan langsung meraup bibir itu dengan rakus.


Tak sadar jika Austin melihat itu semua dari dalam rumah. Dibalik jendela balkon pemandangan itu terlihat jelas.


Terasa geli namun ingin terus menyentuhnya.


Anya yang ada di samping mereka pun langsung menunduk, mendadak jadi malu karena kini ada pria dewasa lupa di sampingnya.


"Bawalah Eleanor masuk ke dal kamarnya dan langsung tidur kan. Tidak perlu menemukan dia dengan Arra dan Erzan."


"Baik Tuan," jawab Anya patuh, saat menjawab itu dia terus menunduk, tidak berani sedikitpun menatap sang tuan. Karena saat ini dia masih merasa malu dengan adegan panas yang masih terus berlangsung di balkon sana.


Bahkan saat ingin mengambil baby El di gendongan Austin, Anya masih setia menurunkan pandangannya. Membuat Austin begitu enggan menyerahkan baby El, karena dia takut nanti keponakannya malah jatuh.


"Kalau kerja yang benar, bagaimana bisa kamu menggendong baby El tanpa melihat dia," ucap Austin dengan suaranya yang dingin.


"Maaf Tuan," jawab Anya buru-buru, dengan cepat dia mengangkat wajahnya dan memberanikan diri untuk menatap Austin.


Sesaat tatapan mereka saling terkunci, membuat Austin baru menyadari jika wajah Anya saat ini sudah merah merona.


Melihat warna merah di wajah wanita ini membuat Austin sadar jika Anya sedang malu, apalagi penyebabnya jika bukan pasangan suami istri yang sangat mesyum itu.


Anya lantas dengan cepat memutus tatapan mereka dan mengambil baby El untuk dia gendong sendiri.


"Permisi Tuan," ucap Anya pamit, dengan langkah tergesa dia membawa baby El pergi.


Dan entah kenapa Pemandangan itu terasa sangat lucu di mata Austin.


Pria ini tersenyum kecil.