
Jam 5 sore Bella kembali memeriksa keadaan Erzan, pria berbadan tinggi tegap ini terlihat terkulai lemas di atas ranjang. Tapi semua kondisi tubuhnya baik-baik saja, Erzan hanya manja.
"Arra, bawa pulang saja suamimu. Dia tidak sakit," bisik Bella pada sang sahabat. Entah kenapa rasanya tak enak hati untuk bicara keras dan Erzan dengar.
"Baiklah," jawab Arra dengan berbisik pula.
Erzan yang melihat interaksi kedua wanita itu sungguh merasa tak suka, dia merasa Bella terlalu dekat dengan sang istri.
Oh ya ampun, Erzan bahkan merasa cemburu dengan teman perempuan Arra.
"Tunggu sebentar ya, aku ambilkan obat yang harus tuan Erzan minum di rumah," ucap Bella, kini suaranya normal, semua orang bisa mendengarnya dengan jelas.
"Dokter Bella, Leo akan menemani Anda," sahut Erzan, sedari tadi baru kali ini Erzan buka suara, dia terpaksa bicara agar Leo menemani Bella dan membuat dokter itu tidak perlu kembali lagi ke ruangan ini.
Bella pun mengangguk, saat dia keluar Leo mengekor di belakang.
"Tuan Leo, boleh aku bertanya?" tanya Bella, dia sengaja memperlambat langkah kakinya agar bisa berjalan beriringan dengan Leo yang berada di belakang.
Tapi Leo yang tak biasa jalan beriringan dengan seorang Nona pun memperlambat langkahnya pula, agar posisinya tetap di belakang.
Membuat Bella geram dan akhirnya berhenti.
"Aku mau bicara Tuan, jalan lah di sampingku!" Ucap Bella dengan suara tinggi, jiwa bar-barnya jadi bangkit. Biasa melayani semua orang membuat Bella juga menghormati Leo, tetap memanggil Leo dengan sebutan Tuan meski hanya seorang asisten.
"Maaf Dokter, tidak perlu memanggil saya dengan sebutan Tuan, panggil saja nama saya langsung," balas Leo yang merasa tak enak hati.
"Banyak meminta tapi tidak mau menuruti keinginan ku," balas Bella tak mau kalah, tapi Leo malah menundukkan kepalanya kecil sebagai permohonan maaf.
Bella sampai kehabisan kata-kata, Leo terlalu formal.
"Apa yang ingin Anda tanyakan Dokter?" tanya Leo, mencoba mengalihkan tatapan Bella yang tajam.
"Aku merasa tuan Erzan tidak menyukaiku, apa benar begitu?" tanya Bella lupa, memang itulah yang ingin dia tanyakan tadi.
"Itu tidak benar Dokter, tuan Erzan memang seperti itu. Dia hanya bisa ramah kepada Nyonya Arra saja, tidak dengan yang lain."
"Oh," sahut Bella, kemudian kembali memimpin langkah untuk segera menuju ruangannya. Sedangkan Leo tetap berada di belakang, mengekor.
Sementara itu di ruang rawat Erzan, Arra menatap lekat suaminya ini. Bukan hanya Bella yang merasa Erzan tidak menyukai Bella, tapi Arra pun merasakan hal yang sama, dia merasa Erzan tak membuka diri dengan sang sahabat.
"Apa Mom?" jawab Erzan dengan suara yang sangat lemah, 10 persen karena mualnya dan 90 persen karena manja.
"Kenapa Daddy tidak menyukai Bella, dia kan sahabatku?" tanya Arra langsung.
"Bukan tidak suka Mom, tapi kalian terlalu dekat."
"Tapi kan kami sama-sama wanita Dad, itu tidak salah."
"Tetap saja salah Mom."
"Kalau aku dekat dengan Leo apa juga salah?"
"Itu lebih salah Mom."
"Terus aku dekat dengan siapa dong? masa tidak boleh dengan siapa pun."
"Cukup dekat dengan Daddy."
"Astaga."
"Peluk."
"Ya Ampun, manja sekali."
"Peluk Mom." rengek Erzan.
Arra mendekat dan memeluk Erzan.
"Daddy ingat tidak, bagaimana perlakuan Daddy saat mommy hamil Eleanor?"
"Maafkan Daddy Mom, Daddy salah besar."
"Memang!" balas Arra ketus, tapi tangannya mengelus dengan sayang puncak kepala sang suami.
Menit berlalu, saat Leo kembali ke ruangan ini mereka segera bersiap untuk pulang.