Finding Lost Wife

Finding Lost Wife
FLW BAB 92 - Cantik Versi Erzan



Dengan sendirinya Arra mendekatkan wajah, sedikit membuka mulutnya dan menjangkau bibir Erzan.


Dia cium lembut bibir suaminya dengan mata terpejam. Terus bergerak hingga Erzan membalas ciuman itu.


Karena Arra yang memulai, Erzan pun mengikuti arusnya. Kini keduanya saling berpaut dengan pelan tidak terburu-buru seperti tadi.


Namun desiran di hati keduanya jauh lebih terasa.


Saking gemasnya Erzan sampai mengigit bibir sang istri pelan, membuat Arra memukul dadanya meski masih saling berpaut.


Diantara ciuman itu Erzan mengukir senyum kecil. Lalu dia bergerak menggendong tubuh Arra dan membawanya menuju sofa yang ada di ruangan itu. Erzan duduk di sana dengan memangku istrinya.


Membuat Arra bisa merasakan sesuatu, merasakan ada perubahan yang terjadi pada tubuh Erzan.


Dan saat sudah saling memangku disana, Erzan lebih dulu menyudahi ciuman itu.


"Apa kamu merasakannya, aku sangat menginginkan Kamu," ucap Erzan, sebuah ucapan yang membuat Arra merona, wajahnya terasa panas. Apalagi saat tanpa sengaja mereka saling terangsaang dibagian inti, Arra duduk di atas pangkuan Erzan dengan kedua kakinya yang terbuka lebar.


"Zan."


"Apa?"


"Bisakah aku meminta sesuatu."


"Katakan."


"Em, a-aku mau melakukan itu jika wajahku sudah kembali seperti dulu," ucap Arra, setelah mengatakan itu dia sedikit menunduk, membuat tatapan mereka putus. Arra merasa sangat malu ketika membicarakan itu, sesuatu yang selayaknya mereka lakukan sebagai sepasang suami dan istri.


"Itu apa?" goda Erzan, membuat Arra langusng mengangkat wajah dan memukul dada suaminya pelan.


"Jangan menggoda ku."


"Tapi itu masih lama sekali sayang, belum lagi saat kamu pemulihan."


"Iya juga ya," balas Arra membenarkan.


"Aku punya cara."


"Apa?" tanya Arra.


"Kita matikan lampu nya."


Mendengar itu Arra mengulum senyum, membicarakan hal seperti ini benar-benar membuatnya gugup.


"Tapi nanti malam saja,"cicit Arra, setelahnya dia mengigit bibir bawah dan melihat Erzan yang menganggukkan kepalanya kecil.


"Sekarang tunjukkan pada ku bukti dari kamu."


"Bukannya kamu mau membuktikan bahwa kamu Arra."


"Em, mana bisa buktikan disini. Ayo kita temui Bella, lalu langsung menyerahkan tes DNA."


Erzan menggeleng. "Aku tidak butuh bukti itu," balas nya.


"Lalu."


"Tunjukan tanda lahir mu."


"Tanda lahir?" Arra berpikir, mengingat-ingat tanda lahir apa yang dia punya. Sampai akhirnya dia ingat satu hal. Sebuah tahi lalat di bawah dadanya.


Dulu, Erzan bilang jika itu adalah tanda lahir milik Arra.


Seketika Arra sangat malu, bagaimana bisa dia menunjukkan itu pada Erzan. Akhirnya dia memilih pura-pura lupa.


"Tan-tanda lahir yang mana?"


"Buka lah."


Bibir Arra mengerucut, rencananya tidak berhasil.


"Aku ingin kamu membukanya sendiri."


"Mesyum."


"Satu_"


"Iya iya," potong Arra cepat, batas toleransi Erzan hanya sampai hitungan ketiga. Lepas dari itu Erzan akan memakannya habis-habisan.


Dengan perlahan Arra membuka kancing baju atasnya, saat itu Erzan pun menyibak rambut panjang sang istri hingga kebelakang semua.


2 kancing terlepas dan Erzan terus menatapnya lekat. Hingga akhirnya 5 kancing itu tertanggal semua dan memperlihatkan bagian dalam sang istri.


Kedua bongkahan itu masih terbalut rapi di dalam penyangganya.


"Buka."


"Aku malu."


"Aku akan melakukannya." Erzan menggerakan kedua tangannya ke bagian belahan dada sang istri, melepas penyangga yang berada di depan sana dan membuka nya dengan sempurna.


Melihat tanda itu masih menghiasi dada sang istri. Indah versi Erzan.


"Cantik," ucap Erzan, setelahnya dia menarik tengkuk sang istri dan kembali saling memagut mesra. Ciuman yang lebih dalam karena kini setengah tubuh Arra sudah terbuka.