
Arra mengganti semua perabot di kamar itu, sementara Erzan tidak bisa marah karena Leo memberinya isyarat untuk sabar.
Bagaimana pun mereka harus tetap membuat wanita ini tetap berada di rumah ini.
Apapun keinginan Selena akan mereka turuti.
Siang menjelang sore kamar itu baru selesai dibenahi. Arra menempatinya dengan hati yang bahagia.
Menjadi Selena membuat Arra merasa mempunyai hidup baru. Keberaniannya yang selama ini tenggelam seolah bangkit, dia bisa melawan siapa pun menggunakan nama ini.
Dan kabar tentang adanya Selena di rumah Erzan terdengar pula oleh Argus dan Miya.
Ada seorang pelayan yang menjadi mata-matanya di rumah itu melaporkan.
"Siapa namanya? Selena Maiden?" ulang Argus, kembali bertanya dalam sambungan telepon yang masih terhubung.
Siang itu di rumah mereka juga sedang ada Eudora, dia menatajamkan pendengaran ketika mendengar nama seorang wanita.
"Benar Tuan, namanya adalah Selena Maiden. Seorang artis ternama." jelas pelayan itu.
Argus mengerutkan dahi, dia sungguh tidak tahu-menahu tentang dunia hiburan di negeri ini.
Tapi masalahnya pelayan itu mengatakan jika Eleanor seketika langsung tenang tangisnya ketika bersama dengan wanita itu.
Sesuatu hal yang sangat membuatnya heran, terlebih selama ini Eleanor hanya tenang ketika dekat dengan Erzan saja.
Bahkan dengannya dan Miya saja Eleanor selalu menolak.
"Erzan membayar 5 kali lipat untuk menjadikan wanita itu pengasuh Eleanor?"
"Benar Tuan. Maaf Tuan, saya harus memutus sambungan telepon ini. Ada pak Leo."
Pelayan itu langsung memutus sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban Argus.
Dan setelah panggilan itu terputus Argus pun langsung terperangah.
Berita ini sungguh membuatnya terkejut.
"Ada apa Pa? Apa yang terjadi di rumah Erzan?" tanya Miya, melihat wajah sang suami yang terlihat terkejut cukup membuatnya merasa cemas.
Eudora pun juga menunggu jawaban yang akan dilontarkan oleh sang calon Papa mertua.
Ha? bukan hanya Miya, Eudora pun tak percaya mendengar kata-kata itu.
Bagaimana bisa seorang artis menjadi pengasuh bayi.
"Apa Om? Artis? Apa Erzan tidak salah pilih?" tanya Eudora bertubi. Andai itu benar sungguh dia tidak terima.
Dari pada seorang artis, dia jauh lebih baik untuk mengurus baby El.
"Namanya Selena Maiden." terang Argus lagi.
Siang menjelang sore saat itu, mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk mendatangi rumah Erzan.
Mereka harus memastikan sendiri tentang berita itu.
Tepat jam 5 sore, Argus, Miya dan Eudora sampai.
Saat itu semua orang tengah sibuk sendiri-sendiri hingga tak ada yang menyambut kedatangan mereka.
Argus dan yang lainnya hanya menatap heran pada banyaknya perabot di lantai 1. Perabot dari kamar lantai 2 yang belum sempat dibereskan.
Eudora adalah yang paling mengingat semua perabot itu, semua benda ini sudah dia anggap sebagai miliknya sendiri.
"Pelayan!" pekik Eudora, dia butuh penjelasan untuk ini semua. Kenapa semua barangnya dikeluarkan dari dalam kamar.
"Apa maksudnya ini semua? Kenapa semua perabot ku dikeluarkan dari dalam kamar?!" tanya Eudora dengan nada marah.
Sementara pelayan itu sudah terlanjur takut, dia menunduk tidak berani untuk menjawab.
"Katakan? kenapa ini dikeluarkan dari kamar Eudora?" Miya juga menuntut penjelasan.
"Ma-maaf Nona, ini adalah perintah nona Selena."
Ha? Miya, Argus dan Eudora sama-sama tercengang. Bagaimana bisa wanita asing itu bersikap semauanya di rumah Erzan.
Dan mendengar itu Eudora mengepalkan tangannya kuat.
Merasa posisinya di rumah ini sebagai Nyonya telah diambil oleh orang lain.