Finding Lost Wife

Finding Lost Wife
FLW BAB 91 - Kembali Seperti Dulu



"Zan!" pekik Arra, Erzan benar-benar ingin membuatnya mati.


Dan melihat sang istri yang nafasnya terengah, Erzan malah tersenyum. Diantara mulut Arra yang terbuka untuk mengatur nafas, dia pun bergerak untuk menyapu bersih sisa saliva di bibir manis istrinya.


"Maaf sayang, aku terlalu merindukan mu," ucap Erzan, sebuah ucapan yang membuat jantung Arra makin berdebar.


Apa katanya? Sayang? mendengar itu Arra bahkan mengigit bibir bawahnya, mengulum senyum, malu-malu.


Hari ini masih sore, Erzan akan tunggu nanti malam untuk menciptakan penyatuan indah bersama sang istri. Kini dia hanya akan saling memeluk, saling bercerita tentang banyak hal yang sudah mereka lewatkan.


Begitu juga dengan Arra, sedari tadi sebenarnya dia penasaran akan satu hal. Bagaimana Erzan bisa tahu jika dia adalah Arra? dan sejak kapan?


Kini Arra masih duduk di meja kerja, dan Erzan berdiri tegap di hadapannya. Disaat Erzan memeluk pinggangnya erat, Arra menggantungkan kedua tangannya di depan dada.


"Jadi dokter Bella yang selama ini membantu kamu?" tanya Erzan dan Arra mengangguk.


"Iya, dia pemilik rumah sakit Royal Dude."


"Aku tahu, aku mengenal kakaknya, Alamsyah Dude."


"Sekarang katakan pada ku, kenapa kamu memisahkan aku dengan Austin."


"Bukannya aku sudah pernah mengatakannya padamu, aku tidak ingin kamu lari ke Austin."


"Tapi itu jahat sekali."


"Maaf."


Arra mencebik.


"Bagaimana kamu bisa tahu jika aku Arra?" tanya Arra lagi.


"Kamu sendiri yang menunjukkannya pada ku."


Arra berpikir, coba mengingat-ingat, tapi sepertinya dia tidak pernah menunjukkan apapun pada Erzan.


"Sejak kapan?" tanya Arra lagi.


"Sejak hari pertama kamu menggoda aku."


Bibir Arra makin mengerucut.


"Tiap kamu menyentuh ku, aku semakin yakin jika kamu adalah Arra."


"Berarti kamu mesyum."


"Ingin tahu bagaimana mesyumnya Aku?"


Erzan tertawa pelan, saat ini dia bahagia sekali. Menatap Arra sedekat ini.


"Arra," panggil Erzan, membuat Arra yang sedikit berontak kembali tenang, kembali menatap Erzan dengan tatapan dalam.


"Apa?"


"Bisakah aku meminta sesuatu?"


"Apa?"


"Aku ingin wajah mu yang dulu."


Hening.


Arra tidak langsung menjawab, tentang wajah ini tentu bukan perkara mudah baginya. Entah kenapa Arra merasa jika dia lebih percaya diri dengan wajah ini.


Lebih berani bersanding dengan Erzan menggunakan wajah Selena.


"Kenapa? bukankah aku terlihat lebih cantik menggunakan wajah ini?" tanya Arra, sedikit mengalihkan pembicaraan. Ingin Erzan tidak membahas itu.


Tapi dilihatnya Erzan yang menggeleng pelan.


"Aku merindukan mu," jawab Erzan lirih, sebuah jawaban yang membuat hati Arra berdenyut nyeri. Apalagi saat melihat wajah Erzan yang sendu.


Dia tidak tega.


"Arra, aku belum pernah mengatakan ini sebelumnya. Jadi dengar aku baik-baik," ucap Erzan.


Saat itu Arra hanya diam, dia menjawab dengan sebuah anggukan kepala.


"Aku mencintai kamu, entah sejak kapan, tapi itulah yang aku rasakan," jelas Erzan, cinta itu datang tanpa ia minta, ketika sadar Arra sudah menguasai hatinya.


"Bukan hanya tentang baby El, tapi aku sungguh mencintai kamu," timpal Erzan, dia ingin Arra tidak meragukan cintanya.


Sementara Arra yang mendengar kata-kata itu membeku, ucapan Erzan seperti membuatnya melayang hingga hilang kesadaran.


"Karena itulah, aku ingin kamu kembali seperti dulu, jadilah Arra ku."


Dan Arra semakin tak bisa berkata-kata.


Ini semua terasa seperti mimpi yang jadi nyata.


Indah sekali.