
Saat pintu kamarnya sudah tertutup, Erzan langsung menggendong sang istri seperti pengantin baru. Menciumi pipi Arra dengan gemas hingga membuat istrinya ini tertawa renyah.
"Dad, apa yang kamu lakukan? mencurigakan," selidik Arra, melihat suaminya yang seperti ini dia tahu Erzan menginginkan sesuatu. Menginginkan sentuhan intim diantara mereka berdua.
"Satu kali lagi Mom, tadi pagi kita tidak sempat melakukannya karena terburu-buru," jawab Erzan, sebuah jawaban yang kembali membuat Arra tertawa keras.
Tadi di bawah Erzan seolah benar-benar ingin memintanya untuk beristirahat, tapi lihatlah kini, suaminya ternyata memiliki rencana lain.
Erzan membaringkan Arra di atas ranjang dan mulai menindihnya dengan ciuman. Pagutan bersambut itu terasa begitu hangat dan candu, seolah keduanya saling berlomba menyesap paling dalam. Hingga tercipta desaah tanpa sadar.
Dalam sekejab pun tubuh mereka sama-sama polos, hingga akhirnya Erzan mengambil posisi untuk menyatukan diri.
"Aku akan membuat mu hamil lagi."
"Dan aku akan menerimanya dengan senang hati," balas Arra dengan senyumnya yang genit.
Siang itu keduanya kembali memadu kasih dengan penuh cinta dan peluh, berulang kali keduanya pun saling mengucapkan kata cinta diantara nafas merek yang terengah.
Saling berpacu untuk memberikan kepuasan.
Sampai akhirnya sama-sama ambruk dan memeluk erat.
Setelahnya Arra benar-benar terlelap.
Malam datang.
Sebelum operasi itu dilaksanakan, Arra bertemu dengan Selena Maiden yang asli.
Mereka bertemu di ruang rawat VVIP Arra. Leo lah yang membawa Selena untuk datang kesini atas perintah Erzan.
Sesaat Arra dan Selena hanya saling pandang, saling menatap kedua wajah mereka yang terlihat sama.
Disaat Arra dan Selena bertemu, Erzan dan Leo memutuskan untuk sedikit menyingkir, memberi ruang keduanya untuk saling bicara.
"Kamu benar-benar mengambil identitas ku," ucap Selena, diantara kedua mata yang masih menatap kagum wajahnya sendiri di tubuh wanita lain.
Dan mendengar itu Arra tersenyum kecil.
"Maafkan aku tentang itu, dulu aku sangat kacau."
"Setelah ini kamu bisa kembali ke kota ini, melanjutkan hidupmu disini."
"Menjadi seorang artis?"
Keduanya terkekeh. Takdir yang terhubung diantara mereka benar-benar terasa lucu. Kadang masih tidak menyangka jika ini semua terjadi.
Selena memeluk erat Arra, baginya Arra adalah seorang dewi penolong. Andai malam itu mereka tidak bertemu, selamanya Selena akan jadi wanita malam. Dia tidak punya batu loncatan untuk kabur dari sana.
Dan Arra pun membalas pelukan itu tak kalah erat, menjadi Selena membuatnya menjadi wanita yang lebih kuat.
"Tuan Erzan sangat mencintai kamu, setelah ini berbahagialah," ucap Selena dan Arra mengangguk.
Setelah pertemuan itu Selena pamit untuk pergi sementara Arra mulai berjalan untuk masuk ke ruang operasi.
"Aku akan menunggu mu disini," ucap Erzan, dia mendorong kursi roda milik Arra. Meski tubuhnya sehat, tetap saja Arra diminta untuk menggunakan kursi roda ini.
"Dad."
"Hem."
"Apa Eleanor tidak akan bingung melihatku setelah berganti wajah?"
Erzan tersenyum kecil sebelum menjawab.
"Itu tidak akan pernah terjadi, saat wajah mu jadi wanita asing saja dia bisa mengenali mu."
"Apa iya?"
"Hem, saat melihat mu di televisi dia selalu memanggil Mi Mi Mi, ku kira dia mau Mie instan yang kamu iklankan, ternyata itu adalah panggilannya untuk mu, Mommy."
Arra tersenyum mendengar cerita itu.
Dan saat sudah berada di depan pintu ruang operasi, Erzan berjongkok di hadapan Arra.
"Aku dan Eleanor sangat mencintai kamu, Mommy Arra," ucap Erzan, dia sedikit mengangkat tubuhnya dan memberikan sebuah ciuman penuh cinta.
Lalu setelahnya, Arra menjalani operasi wajahnya yang kedua.