
6 minggu berlalu setelah Arra menjalani operasi wajahnya yang kedua.
Kini Arra sudah pulih dan menjadi dirinya yang sesungguhnya. Arrasya Tifany dengan wajah asli yang dia punya.
Selama pemulihan Arra tetap berada di rumah sakit dan Erzan terus mendampingi. Argus dan Miya pun berulang kali datang dengan membawa baby El bersama mereka.
Tidak ada lagi canggung, hanya suasana hangat yang selalu tercipta di tengah-tengah keluarga Harold.
Tapi pagi ini Erzan belum datang ke rumah sakit, dia ada meeting yang harus Erzan hadiri.
Jadilah Arra membuka perban di wajahnya hanya di dampingi oleh Bella. Hari ini Arra sudah siap untuk pulang.
"Sepertinya kita harus kembali berkenalan," ucap Bella, menggoda tampilan baru sang sahabat, yang dimatanya terlihat lebih cantik.
"Pantas saja Erzan meminta mu kembali ke wajah semula, dia pasti tergila-gila dengan kecantikan mu."
"Berhentilah menggoda ku Bell."
Bella tertawa keras, saking kerasnya dia sampai merasa perutnya sakit.
Lalu perhatian kedua wanita ini teralih saat mendengar suara rusuh masuk ke dalam ruangan.
"Aku mau lihat juga!" pekik Luna yang tiba-tiba datang. Luna adalah salah satu dokter di rumah sakit ini dan juga merupakan adik Bella. Lama tinggal disini membuat Arra mengenal banyak orang, kini bahkan sahabatnya jadi bertambah, Luna.
"Ish berisik sekali," keluh Bella.
"Astaga kamu terlalu cantik untuk disebut manusia."
Wleck! Arra menjulurkan lidah, ucapan Luna terlalu banyak bualan.
Dan setelah memuji Arra, Luna bahkan mencubit lengan Bella merasa gemas sendiri dengan wajah baru itu.
"Ini cerminnya, lihatlah wajah mu," ucap Bella, dia menyerahkan sebuah cermin kepada Arra.
Dan Arra menerima itu dengan perasaan gugup luar biasa, sudah lama tidak melihat wajahnya sendiri membuatnya merasa cemas.
"Aku takut."
Bella tidak mau dengar, dia langsung mengambil cermin itu dan memposisikan tepat di hadapan Arra, membuat Arra sontak menutup kedua mata.
Luna terkekeh, baru kali ini dia melihat orang operasi wajah untuk kembali seperti semua, lalu takut pula ketika ingin melihat hasilnya.
"Buka mata mu."
"Sekarang!"
Luna tertawa terbahak, Bella memang yang paling suka marah-marah.
"Baiklah," jawab Arra pasrah, perlahan membuka mata dan melihat pantulan dirinya didalam cermin.
Arra tatap wajah itu hingga akhirnya dia tersenyum kecil. Saat melihat wajahnya kini yang Arra ingat bukan tentang penderitaannya, tapi tentang hidup bahagia yang pernah ia alami pula di masa lalu.
Tubuhnya yang berisi dan terlihat lebih segar tak nampak sama seperti saat dia tinggal di rumah Erzan.
"Cantik kan?"
"Jangan menggoda ku."
"Halah malu-malu." goda Luna pula, pagi itu Arra jadi bulan-bulanan kedua sahabatnya.
Sampai akhirnya suasana riuh itu mendadak hening saat Erzan dan Leo datang ke ruangan ini.
Arra, Bella dan Luna sama-sama tercengang saat melihat tampilan Erzan.
Bajunya memang terlihat masih rapi, tapi wajahnya penuh dengan luka lebam.
Disaat Arra menatapnya nanar, Erzan malah menatap istrinya dengan tatapan kagum. Erzan sangat merindukan wajah itu.
Lantas tanpa jika masih banyak orang, dia langsung mendekati Arra, memeluknya dan mencium dalam bibir sang istri.
Sontak saja Bella dan Luna mendelik, lalu buru-buru keluar dari sana. Sementara Leo hanya balik badan.
Arra mendorong pelan tubuh suaminya, membuat ciuman itu terlepas.
"Katakan pada ku, kenapa wajah mu jadi seperti ini?"
"Cium aku dulu," balas Erzan pula, dan tanpa persetujuan Arra dia kembali menyesap bibir istrinya dengan begitu lembut.
Erzan sangat merindukan Arra dengan wajah ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dokter Bella dan Luna ada di cerita Author yang lain ya, judulnya Doctor Alamsyah's Secret Wife ❤