
Setelah Leo pergi, Arra pun dengan segera kembali ke dalam kamarnya dan memeriksa keadaan sang suami.
Dia mengunci pintu kamar karena tidak ingin sang kakak menganggu saat dia ingin bicara dengan Erzan, semenjak tinggal di rumah ini Austin sering sekali menggangu waktunya bersama Erzan, seolah tak membiarkan dia selalu memanjakan sang suami.
"Daddy," panggil Arra dengan manja, dia naik ke atas ranjang dan ikut duduk bersandar.
"Leo sudah pulang? apa yang kalian bicarakan?"
"Banyak, Daddy masih mual tidak?"
"Sedikit, cuma badan ku rasanya lemas sekali."
"Lemas terus, mommy kan sudah rindu," rayu Arra, sengaja begini agar sang suami bersedia pergi ke perusahaan hari Kamis besok untuk menemui tuan Bizard.
Arra bahkan menaikkan satu kakinya di atas kedua kaki Erzan yang lurus, memperlihatkan kaki putih mulus tanpa celah.
"Arra_"
"Ayo Daadd, ku lihat Abang Austin masih asik bermain dengan El di lantai 1, dia tidak akan menganggu kita," bujuk Arra, bagaimana pun siang ini dia harus menangkap Erzan sampai dapat.
"Benarkah?"
"Iya," balas Arra riang, dia lalu membuang asal buku yang sedari tadi Erzan pegang. Lalu menyerang bibir suaminya dengan tidak sabaran. Hingga terdengar suara decapan yang membuat Erzan jadi bergairah. Awalnya dia memang seperti tak memiliki tenaga, namun setelah mendapatkan sentuhan dari sang istri kini dia sudah seperti kuda yang siap berpacu. Bahkan dengan sekali gerakan dia mampu menjatuhkan Arra di atas ranjang.
"Aw! singa ku sudah kembali," goda Arra, dia menggantungkan kedua tangannya di leher Erzan, terus menggerak-gerakkan tubuhnya memberikan rangsangan.
"Dad_"
"Jangan bicara dulu mom, kita selesaikan dulu ini sebelum Austin datang."
Arra sedikit menjerit saat Erzan menyatukan tubuh mereka, awalnya ingin membuat kesepakatan sebelum ada penyatuan jadi gagal total. Karena permainan Erzan nyatanya selalu mampu membuat Arra hanyut dan tunduk.
Keduanya melebur dalam kenikmatan itu, tak peduli pada apapun yang ada di luar sana.
30 menit mereka bersenggama dan Erzan menyudahi permainan mereka, sengaja di percepat karena tak ingin terganggu oleh Austin.
Arra terengah, jika tadi Erzan yang lemas kini malah jadi dia yang tak punya tenaga, kakinya lemas sekali.
Dia kira Erzan tak akan punya tenaga sedasyat ini, ternyata dugaannya salah.
"Daddy sudah sembuh?"
"Sudah mom," sahut Erzan dengan semangat.
Sementara Arra masih mengatur nafasnya yang lelah karena terlalu banyak mendesaah.
Belum sempat mengatakan tentang pembicaraannya dengan Leo tadi, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar yang di ketuk. Kemudian menyusul suara teriakan dari Austin.
Untunglah Arra dan Erzan sudah sama-sama merapikan baju mereka.
Erzan yang berjalan membuka kan pintu, sementara Arra masih menyisir rambutnya yang berantakan.
"Kamu sudah sembuh?" tanya Austin langsung saat pintu itu sudah terbuka, dia menggendong Eleanor dan bayi ini langsung pindah ke gendongan Erzan saat melihat sang ayah.
"Iya sudah."
"Cih! dasar sakit di buat-buat, manja." Ketus Austin pula, Erzan yang sudah biasa mendengar kata-kata itu hanya diam.
"Keluarlah, hirup udara segar sana, bukannya mengurung diri di kamar terus seperti anak gadis! Apa di dalam kamar sana kamu juga hanya main ponsel? Hih! jadi kepala keluarga tapi seperti tak ada gunanya. Bahkan meminta Arra untuk menggantikan pekerjaan mu!" kesal Austin, tapi Erzan yang sudah mendapatkan energi dari sang istri jadi geram juga mendengar ucapan kakak iparnya ini.
Dia tidak lagi menangis, tapi balas menatap tajam sang kakak ipar.
"Apa? berani pada ku?" tantang Austin.
"Hih ya ampun! capek aku dengar kalian ribut!" kesal Arra, dia memotong tatapan tajam kedua pria ini, sedari tadi dia juga mendengar ucapan kasar sang kakak.
"Abang tidak pergi ke showroom?" tanya Arra, dia mengambil baby El di gendongan Erzan, sang anak menurut. Bergelayut manja di gendongan siapa saja, yang penting Eleanor di gendong.
"Tidak, di rumah saja."
"Berarti kalian berdua sama saja, tidak ada gunanya!" kesal Arra, kemudian pergi bersama baby El meninggalkan kedua pria itu yang mulutnya menganga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf ya kalau up nya cuma satu-satu bahkan gk nentu, tapi kisah ini cuma bonus chapter, sementara fokus author di novel ongoing (Danu dan Elma)
Semoga meski up nya cuma satu-satu tetap bisa menghibur ya ❤️