Finding Lost Wife

Finding Lost Wife
FLW BAB 113 - Sudah Bosan Mendengarnya



Malam itu Austin pulang sebentar ke rumahnya, hanya untuk mengambil baju dan kemudian kembali lagi ke rumah Erzan. Sudah dia putuskan mulai saat ini dia akan tinggal bersama dengan Arra dan adik iparnya. Selamanya dia akan mengawasi Erzan.


Dan malam ini, Miya dan Argus juga menginap di rumah Erzan, mereka berdua tak tega melihat Arra yang kuwalahan mengurus Eleanor dan Erzan sekaligus.


Saat makan malam tiba, Arra diminta untuk makan dulu oleh Miya, sementara Erzan biar dia yang jaga.


"Tante, biar aku saja yang jaga Erzan, lebih biak Tante beristirahat," ucap Austin, dia masuk ke dalam kamar ini dan menghampiri Miya yang tengah duduk di sofa bundar, di dekat ranjang.


"Austin, jangan panggil Tante Nak, panggil saja Mama seperti Arra dan Erzan memanggil," jelas Miya, wanita paruh baya ini juga tahu bagaimana penderitaan Austin selama ini. Di dalam keputusan Erzan untuk memisahkan Arra dan Austin ada juga andil dia dan Argus.


Tentang ketakutan mereka jika semua orang tahu bahwa Erzan telah menikahi pramugariinya sendiri. Bagi Miya dan Argus dulu hal itu adalah aib yang harus disembunyikan rapat-rapat, bahkan jika bisa mereka ingin segera membuangnya.


Karena itulah kini Miya ingin menebus semuanya. Mengganti semua luka yang pernah mereka toreh dengan perlakuan tulus.


Tapi Austin tak langsung mengiyakan, dia hanya tersenyum miris.


"Maaf Tante, aku tidak bisa melakukan itu, terlalu aneh bagiku," jawab Austin apa adanya, memang itulah yang dia rasa.


Dulu mungkin Austin akan senang jika diperlakukan seperti ini. Tapi kini tidak lagi, kini Austin terus siaga, sekali saja dia melihat salah satu orang diri umah ini menyakiti Arra, maka dia dengan segera akan membawa sang adik pergi.


Penderitaan yang selama ini dia rasa membuatnya tak mudah percaya.


"Baiklah, tapi Mama akan selalu menunggu panggilan itu dari mu," jawab Miya tulus.


Dan Erzan yang juga mendengar pembicaraan itu hanya mampu terdiam, sebenarnya dia sangat membenci sikap angkuh Austin. Tapi Erzan tak punya nyali untuk membantah, terlebih saat ingat semua kejahatannya di masa lalu. Membuatnya kini hanya bisa pasrah.


Setelahnya Miya benar-benar keluar dari dalam kamar ini, meninggalkan Erzan dan Austin berdua.


Austin duduk di tempat yang sama tadi diduduki oleh Miya, sesaat tatapannya bertemu dengan tatapan Erzan yang sendu.


Melihat itu Austin berdecih, manatap remeh pada pria yang dulu sangat angkuh.


"Mulai hari ini aku akan tinggal disini," ucap Austin, saat mengatakan itu dia menatap Erzan dengan tatapan dingin. Seolah kehadirannya di rumah ini hanya untuk membuat Erzan sulit dan merasa tak nyaman.


"Abang!" potong Arra yang entah sejak kapan masuk, namun dia mendengar dengan jelas ucapan terakhir sang kakak. Sebuah ucapan yang terdengar seperti ancaman.


"Abang tidak lihat! itu muka suamiku masih babak beluur seperti itu gara-gara siapa? abang kan? sudah berbuat seperti itu tapi kenapa sekarang masih terus menyudutkan Erzan," kesal Arra, kini dia bingung harus bagaimana. Tentang Erzan, Elenaor dan Austin yang sangat penting bagi hidupnya, tapi ketiganya secara bersamaan membuatnya pusing tujuh keliling.


Dan mendengar kemarahan sang adik, Austin pun hanya terdiam.


Lain halnya dengan Erzan yang malah Kemabli menangis, rasanya sangat terharu saat melihat Arra uang membela dia.


Tidak seperti dia dulu, yang malah meninggalkan Arra sendirian di rumah ini.


"Aku sudah selesai makan nya, Abang keluar saja."


"Baiklah," jawab Austin patuh.


Arra lantas duduk di tepi ranjang dan Austin keluar.


"Daddy kenapa menangis lagi?" tanya Arra, dia hapus air mata di kedua sudut mata suaminya.


"Maafkan Daddy Mom."


"Berhenti minta maaf, aku sudah bosan mendengarnya."


"Peluk."


"Sini."


Arra naik ke atas ranjang dan duduk seraya bersandar, dia masih belum bisa tidur karena perutnya yang masih kenyang. Dan saat itu Erzan langsung memeluk tubuh istrinya, Arra juga terus mengelus kepala hingga punggung sang suami.


Terus seperti itu sampai akhirnya Erzan bisa tertidur.