Finding Lost Wife

Finding Lost Wife
FLW BAB 110 - Terlalu Kacau



Nyaris jam 6 sore, Arra dan Erzan sampai di rumah. Tapi saat itu tidak ada yang menyambut kedatangan mereka.


Miya dan Argus sedang beristirahat di kamar sementara Eleanor berada di dalam kamarnya bersama Austin, Hera dan Anya juga menemani.


"Dad, kita ke kamar Eleanor dulu ya, pasti ada abang juga di sana," ucap Arra, saat ini dia dan Erzan mulai menaiki anak tangga naik ke lantai 2.


Dan mendengar ada Austin membuat Erzan jadi was-was, mendadak perasaannya tidak tenang. Perasaan takut berpisah dengan sang istri.


"Tidak usah Mom, kita langsung ke kamar saja." hindar Erzan, entah kenapa dia merasa Austin akan akan membuat mereka jauh.


"Jangan begitu Dad, aku juga ingin bertemu dengan Abang. Jangan lupa, hari ini adalah hari pertama pertemuan kami." Jelas Arra apa adanya, sebuah penjelasan yang membuat Erzan langsung bungkam.


Karena memang benar begitulah adanya, hari ini adalah hari pertama Arra dan Austin bertemu setelah beberapa tahun berpisah.


Hati Erzan sedih sekali, dia sangat ingin menahan Arra untuk dia seorang. Tapi kali ini dia tidak bisa melakukan itu. Erzan hanya pasrah, merasakan hatinya yang hancur lebur. Juga mual dan pusing semakin terasa nyata.


Jalannya pelan mengiringi langkah sang istri Hingga akhirnya sampai di kamar baby El.


Dilihat oleh mereka Austin yang tengah berusaha menyuapi Eleanor, duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


Hera dan Anya yang melihat sang Nyonya dan tuan telah kembali pun langsung menundukkan kepalanya hormat, sesekali terus menatap wajah Arra dengan tampilan baru.


"Abang," panggil Arra, dia melepaskan tangannya yang sedang memeluk lengan Erzan dan menghampiri sang kakak, ikut duduk di sana.


Sementara Erzan hanya mampu menatap nanar, sebenarnya bisa saja dia ikut bergabung. Namun hatinya yang sensitif merasa Arra telah mengacuhkan dia.


"Mommy," panggil Eleanor dengan riang, kini bayi berusia 1 setengah tahun ini sudah semakin pandai bicara. Bahkan mulai berjalan meski belum terlalu lancar.


Dan Arra yang mendengar sang anak memanggilnya Mommy setelah wajahnya berubah pun merasa sangat bahagia. Dia langsung mengangkat Eleanor yang duduk di kursi makannya dan gendongnya erat.


Erzan lah yang selama ini selalu menunjukkan foto asli Arra dan memperkenalkannya sebagai mommy pada Eleanor.


"Daddyyyh," ucap Eleanor lagi, saat Arra memeluknya dia melihat sang ayah di belakang.


Sontak saja Austin dan Arra mengikuti arah pandang Eleanor.


Dulu dia adalah pria yang kejam, tiap kali bicara hanya suara keras dan tegas yang keluar dari mulutnya.


Namun dalam sehari saja Erzan sudah berubah jadi begitu lembut, hatinya bahkan mudah sekali tersentuh perasaan sedih.


Erzan duduk, rasanya semakin mual saat melihat Austin.


"Huwek!" Erzan nyaris muntah.


"Ya ampun Dad! kamu mual lagi!!" cemas Arra.


Dan melihat ayahnya seperti sakit, Eleanor pun menangis.


Tangisan kecil yang lama-lama jadi besar.


Dalam sekejap saja ruangan ini jadi gaduh.


Arra bangkit dan menyingkir coba menenangkan baby El sedangkan Austin coba membantu Erzan. Tapi semakin Austin membantu, Erzan semakin merasa mual.


"Austin, menyingkir lah," ucap Erzan dengan suara yang lirih.


"Aku mau membantumu bodoh! malah disuruh menyingkir!" kesal Austin, sampai saat ini dia masih kesal saja pada Erzan.


"Aku mual melihat mu."


"Alasan!"


"Huwek!" Erzan akhirnya benar-benar muntah.


Ya ampun! pekik Arra, Eleanor semakin menangis, sementara Hera dan Anya pun jadi bingung.


Ini semua terlalu kacau.