
Malam itu juga Eudora mencari skandal tentang Selena Maiden, sebagai seorang artis hanya skandal lah yang bisa menghancurkannya.
Eudora merasa sangat kesal, dia akan melakukan apapun untuk membalas rasa sakit hati ini.
Memerintahkan satu anak buahnya, akhirnya Eudora mendapatkan satu nama yang mungkin bisa membantu dia.
Eudora mendapatkan nama Richard Cardi, seorang pengusaha yang dengan terang-terangan mengakui kagum pada artis itu.
Eudora tidak mencari terlalu jauh, dia tidak tahu tentang masa lalu Selena Maiden yang seorang wanita malam, yang dia tahu Selena hanyalah seorang artis.
Setelah mendapatkan nomor kontak Richard, Eudora langsung menghubungi.
"Selamat malam Tuan, perkenalkan namaku adalah Sasy," ucap Eudora, dia tersenyum miring saat mengatakan itu. Sasy adalah asisten Selena.
Dan Richard yang juga mengetahui itu langsung tersenyum lebar.
"Apa permintaan bertemu ku dengan nona Selena di setujui?" tanya Richard langsung.
"Benar Tuan, nona Selena sudah bersedia menemui Anda. Waktu dan tempatnya nanti akan saya kirim melalui pesan."
"Terima kasih Sasy."
Panggilan itu putus dan Eudora langsung tertawa keras. Tawa yang sampai berhasil membuat matanya mengeluarkan cairan bening bahagia.
"Astaga, bodoh sekali pria itu," ucap Eudora diantara tawanya yang mulai reda.
"Aku hanya tinggal memperdaya Selena," ucap Eudora lagi.
Malam berlalu dan pagi datang. Pagi ini Arra terbangun dengan niat yang lebih kuat lagi untuk menggoda Erzan. Tidak ingin ragu seperti kemarin.
Dia akan benar-benar membuat Eudora murka.
Setelah mengurus baby Eleanor, Arra membawa anaknya itu untuk menemui sang ayah. Sebelum Erzan datang untuk menemui Elannor, Arra sudah lebih dulu mengetuk pintu kamar pria dingin ini.
Tok tok tok
"Mana ya Daddy?" tanya Arra pada sang anak, saat itu Eleanor tidak menjawab Dia malah ikut mengetuk pintu kamar ayahnya ini.
Membuat Arra ikut-ikut juga.
Tok tok tok lagi sampai Erzan di dalam sana merasa pusing. Padahal dia sedang mengganti baju.
1 menit kemudian pintu kamar itu terbuka, andai itu pelayan Erzan siap memarahi. Namun niat marahnya hilang saat melihat Eleanor disana.
"Daddy!" pekik Arra, seolah itu yang bicara adalah Eleanor.
Erzan tersenyum kecil sambil melihat anaknya yang sudah terlihat cantik.
Dan disaat Erzan melihat Eleanor, Arra terus menatap pria ini. Erzan belum sempat menyisir rambutnya, namun tetap tidak mengurangi ketampanannya.
Dia jadi ingat saat pertama kali bertemu dulu, saat mereka bertemu di Bandara.
Pertemuan biasa, namun akhirnya menciptakan luka.
"Tunggu sebentar sayang, daddy akan bersiap dulu. Nanti kita turun sama-sama," ucap Erzan, hingga membuat lamunan Arra tentang masa lalu buyar seketika. Lalu teringat tujuannya kini.
"Izinkan kami masuk Dad!" rengek Arra, tanpa menunggu persetujuan Erzan dia langsung masuk ke dalam kamar itu. Karena Arra memegani Eleanor membuat Erzan yang tidak bisa menolak.
"Mii," ucap Eleanor tiba-tiba, dia berkata seperti itu sambil menunjuk televisi yang ada disana. Eleanor ingin meminta Arra menghidupkannya.
"Baiklah sayang, akan mommy hidupkan," jawab Arra tanpa sadar.
Namun kata Mommy itu membuat Erzan terpaku. Interaksi keduanya benar-benar membuatnya gamang.
"Selena." panggil Erzan dengan suaranya yang dingin. Membuat Arra urung untuk menghidupkan televisi, dia kembali berbalik dan menatap mata Erzan yang tajam.
Seketika hening tercipta.
"Kamu boleh melakukan apapun di rumah ini untuk membuat Eleanor bahagia. Tapi jangan meminta nya untuk memanggil mu mommy, karena mommy Eleanor hanya 1, istri ku, Arra."