
Agar Erzan tidak marah-marah, Arra bergerak cepat untuk masuk ke dalam kamar dan membawa baby Eleanor di dalam gendongannya.
Kemudian mereka sama-sama turun, berharap Argus dan Miya masih berada di lantai 1.
Tapi sayang, kedua orang tua itu sudah tidak berada di sana. Dan saat Erzan bertanya pada salah satu pelayan, pelayan itu mengatakan jika Miya jatuh pingsan dan Argus berlari membawanya pergi ke rumah sakit.
Deg! bukan hanya Erzan yang terkejut, namun Arra pun merasakan jantungnya teremat, sakit yang tiba-tiba.
Arra menyentuh lengan suaminya, kemudian berkata pelan mengajak Erzan untuk menyusul mereka.
Erzan hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Lalu menyusul Argus dan Miya ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan Erzan dan Arra saling diam, di dalam hati mereka sama-sama merasakan ketakutan.
Ya tuhan, semoga nyonya Miya baik-baik saja, batin Arra. Dia memeluk erat Eleanor yang berada di pangkuannya.
"Sayang, berikan El padaku, dia sangat berat," ucap Erzan, akhirnya dia lebih dulu membuka pembicaraan.
Mereka bertiga duduk di kursi tengah dan yang mengemudikan mobilnya adalah supir.
Belum sempat Arra menjawab, Erzan sudah lebih dulu mengambil baby El dan di pangkunya sendiri.
"Zan."
"Hem."
"Nyonya Miya pasti baik-baik saja."
Erzan tersenyum kecil.
"Dia itu mertua mu, bukan majikan mu."
Arra mencebik.
Dan bibir yang mengerucut itu langsung Erzan kecup sebentar.
"Tidak apa, senyaman mu saja."
Bibir Arra mulai tersenyum kecil. Mulai kini Erzan memang tidak ingin memaksakan apapun kepada Arra.
Dan setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya mereka sampai di rumah sakit terdekat.
Tidak butuh waktu lama mereka langsung menemukan keberadaan Argus saat ini, Argus dan Miya berada di salah satu ruang perawatan VIP rumah sakit itu.
Saat pintu ruangan itu dibuka oleh Erzan, Argus langsung berbalik dan menatap arah pintu.
Betapa terkejutnya dia saat melihat Erzan datang bersama Arra, lengkap juga dengan baby Eleanor bersama mereka.
Argus terpaku, dia tak mampu berucap dan hanya melihat anak, menantu dan cucunya mendekat.
Argus menatap Arra lekat, melihat Arra yang kini wajahnya sangat berbeda. Semakin dia lihat, semakin jelas pula rasa bersalah yang dia rasa.
Argus bahkan sempat menampar Arra saat itu, kini tangan Argus terkepal kuat. Dia mengutuk dirinya sendiri.
"Arra," panggil Argus.
Dan Arra yang dipanggil hanya berani menunduk, tak kuasa untuk membalas tatapan nanar itu.
Sampai akhirnya dia melihat Argus yang tiba-tiba bersimpuh dihadapan, Arra sontak mundur, tidak ingin jadi begini.
"Maafkan kami Arra, maafkan kami," ucap Argus, kedua kakinya bersimpuh di lantai dan kepalanya tertunduk.
Melihat itu Arra menangis, dia dengan cepat membantu Argus untuk bangkit.
Sementara Erzan hanya diam, hanya merasakan hatinya yang sakit melihat sikap sang ayah. Tapi dia harus begini, karena dia tidak ingin mengorbankan perasaan Arra lagi.
"Jangan begini Tuan, saya sudah memaafkan Anda dan nyonya Miya," jawab Arra diantara air mata yang juga mengalir di wajahnya.
Dan mendengar Arra yang memanggilnya Tuan makin membuat Argus tersiksa.
"Ada Eleanor, kita tidak perlu saling menangis seperti ini," ucap Arra lagi, dia coba tersenyum dan menghapus air matanya dengan cepat.
Arra langsung mengambil Eleanor di gendongan Erzan dan mendekatkannya pada Argus.
"El, beri salam pada Opa," terang Arra lagi, dia benar-benar berusaha untuk menciptakan suasana ceria di dalam ruangan ini.
Tapi Argus malah semakin menangis, dia lantas segera memeluk Arra dan Eleanor sekaligus.
"Maafkan Papa Ra, maafkan papa ... ."
"Maafkan Papa ... ."
"Maafkan Papa."