
"Bagaimana dengan Eudora, apa sudah ada barang bukti?" tanya Erzan lagi.
Setelah mendapatkan beberapa petunjuk dari Arra, Erzan juga mulai menyelidiki mantan tunangannya itu.
Tapi yang dia dapat hanyalah cerita dari Miya dan Argus juga beberapa pelayan di rumahnya. Sementara bukti yang nyata belum dia dapatkan.
Erzan sungguh merasa geram atas sikap Eudora yang selama ini dia tidak tahu. Erzan pikir Eudora masihlah sahabat kecilnya yang baik dan lemah lembut, namun ternyata waktu merubah segalanya.
Waktu yang mereka habiskan bersama menimbulkan sebuah rasa sepihak.
"Untuk bukti itu saya hanya mendapatkan sedikit dari Nyonya Karina Tuan. Beberapa pesan chat yang dikirim oleh nona Eudora untuk mengancam nyonya Karina. Sementara semua perlakuan buruk untuk Nyonya Arra belum ada bukti nyata," terang Leo.
Kini mobil mereka sedang berhenti di salah satu lampu merah kota. Antrian terbentuk panjang sekali, bisa-bisa mereka akan terjebak 2 kali di lampu merah yang sama.
Lagi-lagi Erzan kembali diam, sebelum tes DNA itu keluar dia akan pastikan menyelesaikan ini semua.
Mendapatkan barang bukti untuk kejahatan yang Eudora lakukan pada sang istri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa jam lalu disaat Erzan menemui Selena.
Arra pulang seorang diri menuju rumahnya, tidak bersama baby El dan juga Anya.
Sampai di halaman dia tatap lekat rumah megah di hadapannya ini. Dengan bibir menyeringai dia pun masuk ke dalam sana.
Ada sebuah misi yang akan dia selesaikan.
Arra turun dari dalam mobil dan berjalan penuh dengan percaya diri masuk. Sampai di sana dia mengedarkan pandangan, mencari keberadaan Eudora.
Ternyata wanita bengis itu sedang berada di ruang tengah. Arra sengaja berjalan dengan suara yang begitu jelas, hingga langkah kakinya terdengar oleh Eudora.
Lalu saat Eudora melihat ke arahnya, Arra langsung berlari menaiki anak tangga, agar terlihat sekali jika dia menghindar.
Susah payah Arra berlari karena di tangannya penuh barang belanjaan pemberian Erzan tadi.
Eudora yang melihatnya pun sungguh merasa geram, terlebih dia sempat membaca beberapa kantung belanjaan dari toko ternama.
"Wanita kurang ajar, dia benar-benar memanfaatkan Erzan untuk mendapatkan hidup mewah!" geram Eudora pada artis baru itu.
"Dimana Erzan dan Eleanor?"
"Mereka pergi ke rumah tuan Argus dan nyonya Miya, Nona." Terang supir itu.
Mendengarnya Eudora langsung menyeringai, dengan segera dia menyusul Selena ke atas.
Tidak ada Erzan membuatnya berani untuk naik ke lantai 2.
Sampai disana, Eudora langsung membuka kasar pintu kamar Selena. Namun pintu itu terkunci rapat.
Tidak menyerah, Eudora pun mengetuk pintu itu berulang, lengkap dengan suara teriaknya meminta Selena untuk membuka.
"Buka pintunya!" pekik Eudora.
Arra di dalam sana pun mulai merasa cemas, mendadak keberaniannya mulai memudar.
Namun mau tidak mau dia harus membuka pintu itu.
Dan dengan tangannya yang bergetar, akhirnya pintu itu pun dia buka.
Brak! Seketika Eudora langsung mendorongnya kuat, membuat Arra nyaris jatuh terhuyung.
Plak! Eudora langsung melayangkan sebuah tamparan keras di wajah cantik Selena, membuat pipi itu langsung memerah.
"Wanita sialan! kamu mengacuhkan ancaman ku ya? HA!?" pekik Eudora.
Saat itu kedua mata Arra mulai berkaca-kaca dan melihat ketakutan Selena membuat Eduroa semakin ingin menumpahkan kebenciannya.
Perasan marah yang sudah tertahan.
Dengan gerakan cepat Eudora menjambak rambut panjang Selena dan menyudutkan nya hingga terjerembab di meja rias.
Pyar! beberapa benda jatuh dengan sembarang.
Saat itu Arra mulai meneteskan air matanya. Seperti mengulang kejadian di masa lalu.
"Kamu merasa cantik? bagaimana jika aku merusak wajahmu?" tanya Eudora, bertanya dengan bibirnya yang tersenyum seperti iblis.