
Setelah panggilan teleponnya dengan Leo terputus, Erzan duduk di tepi ranjang dan coba membangunkan sang istri.
Dia belai lembut wajah Arra hingga sang wanita mengerjabkan matanya kecil, tubuhnya pun bergerak secara perlahan mendekati posisinya duduk.
Lalu kedua tangan Arra memeluk pinggang Erzan dengan matanya yang masih terpejam.
"Sayang, ayo bangun," ucap Erzan, kini dia membeli puncak kepala sang istri dengan sayang.
"Siapa yang menelpon?" tanya Arra setengah sadar, sebenarnya dia sudah terbangun dari tadi. Gara-gara getar yang diciptakan oleh ponsel Erzan. Tapi Arra masih enggan untuk membuka mata. Tubuhnya pun rasanya lelah sekali, kakinya lemas seolah tidak mampu berjalan.
Dan saat Erzan mengangkat panggilan itu Arra sungguh tidak bisa menebak siapa yang menelpon, karena yang Erzan ucapankan hanya satu kata Katakan, setelahnya tidak ada lagi yang diucapkan oleh sang suami dan tiba-tiba panggilan itu berakhir.
"Leo yang menelpon." balas Erzan, dia kemudian mengangkat tubuh Arra, persis seperti sedang membangunkan Eleanor.
Dan Arra langsung memegangi selimut, agar tubuhnya yang polos sedikit tertutup.
"Kamu mau mengajak ku bicara?" tanya Arra, kini dia sudah benar-benar terbangun, kesadarannya pun sudah sepenuhnya kembali.
Erzan mengangguk kecil.
"Papa dan Mama meminta kita tidak usah datang ke rumah sakit, mereka akan pulang sendiri bersama Eleanor ..."
"Aku meminta mereka pulang ke rumah kita ..."
"Dan satu lagi." Erzan mengambil jeda, dia menatap kedua mata Arra yang menatapnya lekat. Arra hanya diam, memberikan semua waktu untuk Erzan bicara.
"Tentang Austin, maafkan aku tentang dia."
Arra masih terdiam, namun kini hatinya sedikit berdenyut kala mendengar nama sang kakak.
Saat itu Erzan sengaja membuat Austin dikeluarkan dari tempat kerja, kemudian datang seolah menjadi malaikat penolong.
Austin yang awalnya tidak menyetujui pernikahan Erzan dan Arra pun akhirnya setuju, saat itu Erzan juga menjanjikan banyak hal untuk membahagiakan Arra.
Erzan hanya meminta 1 hal, dia melarang Austin untuk menemui istrinya.
Dengan sendirinya Arra menangis saat mendengar Erzan menceritakan semuanya. Cerita tentang masa lalu yang dia tidak pernah tahu.
"Aku sudah berniat menemukan kalian saat wajahmu sudah kembali seperti semula, tapi Austin tidak lagi bisa menunggu ..."
"Dia mengembalikan semua aset yang pernah ku beri dan memintaku untuk mengembalikan mu padanya."
Arra masih menangis, sekali dia hapus sendiri air mata itu. Air mata tentang kerinduannya pada sang kakak.
"Ta-tapi tidak mungkin aku menemui abang dengan wajah seperti ini," jawab Arra dengan sesenggukan, tenggorokan nya pun terasa tercekat.
"Aku akan menemui dia seorang diri dan menunda, apa kamu mau ikut? setidaknya melihat dia dari jauh."
Arra mengangguk cepat.
Pagi itu setelah Arra mandi dan bersiap mereka segera menemui Austin di salah satu cafe yang sudah diatur oleh Leo. Arra dan Erzan melewatkan sarapan mereka demi segera menemui Austin.
Erzan turun lebih dulu, sementara Arra mengikuti di belakang dengan jarak aman. Wajah Arra juga tak nampak jelas, tertutup dengan rambut panjang dan topi hitam yang dikenakannya.
Langkah Arra yang mengikuti tiba-tiba terhenti, sementara Erzan terus berjalan menghampiri Austin di salah satu meja.
Arra tergugu, melihat sang kakak yang tubuhnya terlihat begitu kurus.