
Argus dan Miya hanya merasa heran, tapi tidak dengan Eudora. Wanita cantik itu juga merasa marah dengan tindakan semaunya ini.
Bagaimana bisa orang asing itu ngatur-ngatur seisi rumah? apalagi status wanita itu hanyalah pengasuh Eleanor.
"Om, Tante, ayo kita temui wanita itu. Pasti dia sedang berada di kamar ku," ucap Eudora dengan suaranya yang menggebu, dia sudah tidak sabar untuk melabrak wanita itu.
"Tunggu Eudora, kita temui Erzan dulu, biar Erzan yang menjelaskan ini semua." Argus yang menjawab dan Miya menyetujui itu.
Mereka bertiga sudah diusir dari rumah ini, jika kembali bertindak semaunya maka Erzan tidak akan mengizinkan mereka untuk datang lagi.
Dan mendengar ucapan Argus itu Eudora tidak bisa membantah, akhirnya dia hanya bisa pasrah mengikuti langkah Argus dan Miya menuju ruang tengah. Menunggu disana hingga akhirnya Erzan datang menghampiri.
"Ada apa?" tanya Erzan, seperti biasa dia selalu berucap dengan suaranya yang dingin. Wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi apapun.
Saat mengatakan itu pun Erzan tidak duduk, dia tetap berdiri seolah tidak ingin pertemuan ini berlangsung lama.
"Zan, duduklah dulu ada yang ingin Papa bicarakan."
"Katakan saja aku tidak punya banyak waktu."
Argus membuang nafasnya pelan, posisinya yang salah membuatnya tak bisa melawan.
"Apa kamu menjadikan seorang artis sebagai pengasuh Eleanor?" tanya Argus, sebuah pertanyaan yang membuat Erzan tersenyum miring.
Dari pertanyaan itu dia cukup tahu jika ada mata-mata Argus di rumah ini.
"Ku rasa itu bukan urusan Papa, aku tidak perlu menjelaskan."
"Zan! bagaimanapun Eleanor adalah cucu papa. Tentang masa lalu Papa akui papa salah. Tapi saat ini Papa juga menginginkan yang terbaik untuk Eleanor. Dan bagaimana bisa seorang artis menjadi pengaruh dia?" Argus sungguh tidak terima, dia sangat yakin jika wanita itu hanya tahu caranya melenggok di depan kamera, bukan mengurus bayi.
"Aku paling tahu apa yang terbaik untuk anak ku!"
Dan Erzan tidak peduli, dia bahkan merasa pembicaraan ini hanya sia-sia.
"Zan, kamu boleh marah pada mama dan papa. Tapi Mama mohon, biarkan Eudora tetap tinggal disini untuk mengawasi Eleanor juga. Mama tidak percaya dengan orang pilihan mu itu." Miya akhirnya ikut buka suara. Mengutarakan keinginannya.
Sadar dia dan Argus tidak akan kembali diterima di rumah ini karena itulah dia meminta Eudora untuk tetap tinggal.
Dan mendengar ucapan Miya itu sudut bibir Eudora terangkat kecil membentuk sebuah senyuman.
Erzan yang malas berdebat pun hanya diam, tanpa banyak kata lagi Dia segera berlalu dari sana.
Argus dan Miya lantas membuang nafasnya kasar.
"Eudora, mama dan papa tidak bisa tinggal di rumah ini. Jadi mama mohon, kamu awasi Eleanor dengan baik," ucap Miya, sebelum dia dan sang suami pergi dia akan menitipkan cucunya.
"Tante tenang saja, aku akan menjaga Eleanor dengan baik."
Miya mengangguk, tak lama setelahnya dia dan Argus pergi.
Selepas kepergian kedua orang itu, Eudora mulai merasa jika rumah ini berada di dalam kuasanya.
Dengan langkah penuh percaya diri Eudora naik ke lantai 2, dia langsung mendatangi kamar lamanya dan masuk begitu saja tanpa permisi.
Bahkan membuka pintu kamar itu dengan kasar.
Dan benar seperti dugaannya, jika wanita tidak tahu diri itu tinggal di kamar ini.
Deg! seketika Arra terkejut saat melihat Eudora berdiri di ambang pintu kamarnya.
Tatapan mereka saling terkunci.