
Dua minggu telah berlalu dan tak banyak perubahan yang terjadi pada Erzan. Tiap pagi hingga menjelang siang dia masih terus saja merasa mual, suasana hatinya pun jadi sering naik turun, lebih banyak merasa sedih tiap kali ingat masa lalu.
Leo juga kini tinggal di rumah ini, mengingat seringnya dia bolak balik antara kantor dan rumah Erzan.
Terkadang Leo bahkan menyampaikan semua berita penting untuk Erzan melalui Arra, karena takut membuat sang Tuan merasa tak nyaman.
Seperti pagi ini, Arra dan Leo sudah berada di ruang kerja berdua, Arra duduk di kursi Erzan dan Leo berdiri dihadapan seraya menjelaskan beberapa hal.
"Nona Selena Maiden ingin membuat janji temu, dia ingin berkunjung ke rumah ini dan melihat bagaimana kondisi tuan Erzan," jelas Leo.
Kabar tentang Erzan yang sakit sudah didengar oleh semua orang, terutama para kolega.
Bahkan setiap hari banyak bingkisan yang datang, sebuah hadiah dengan harapan agar Erzan segera sembuh dan pulih seperti sedia kala.
Arra mengizinkan adanya kunjungan, namun hanya untuk 1 orang dan di jadwal 2 hari sekali. Jadwal kunjungan itu juga atas keinginan Erzan sendiri.
"Nona Selena sangat ingin bertemu, dia mengatakan jika Anda dan tuan Erzan adalah orang penting untuk hidupnya," terang Leo lagi.
"Baiklah, jadwalkan saja untuk bertemu besok. Hari ini jangan ada kunjungan dulu," putus Arra dan Leo mengangguk patuh.
"Satu lagi Nyonya, karena ada tamu penting dari luar negeri yang akan datang ke perusahaan, jadi saya sarankan anda saja yang menemui beliau," ucap Leo lagi, sebuah ucapan yang membuat kedua mata Arra terbuka semakin lebar.
Sudah dia duga jika hal ini akan terjadi saat dia mengambil alih pekerjaan sang suami.
Bertemu dengan orang-orang asing bukanlah hal baru untuk Arra yang selama ini bekerja sebagai seorang pramugari, sebenarnya itu bukanlah masalah serius.
Telah banyak waktu yang terlewat semenjak dia keluar tanpa penjelasan apapun dari Harold Kingdom, entah apa yang sudah terjadi di sana selama ini dan entah apa yang sudah orang lain pikirkan tentang dia, itulah yang membuat Arra merasa takut.
Meski kini kepercayaan dirinya mulai kembali tumbuh, namun tetap saja rasanya masih ada yang tak utuh.
"Kalau kamu saja yang menemui memangnya kenapa Leo?"
"Maaf Nyonya, bisa saja hanya saya yang menemui. Namun rasanya kurang sopan, mengingat beliau yang sudah secara langsung menyempatkan diri untuk datang ke perusahaan."
"Kalau Papa saja yang datang bagaimana?"
"Saat ini diantara anda dan Tuan Argus, kuasanya lebih tinggi pada Anda, karena Anda adalah istri presiden direktur, sementara tuan Argus saat ini hanyalah salah satu pemegang saham. Tidak lagi terlibat di urusan management."
Arra terdiam, semua penjelasan Leo seolah menyudutkan dia. Seolah mau mau tidak mau Arra harus datang kesana.
"Kapan tamu itu datang?" tanya Arra akhirnya, setelah dia membuang nafasnya dengan kasar.
"Tuan Bizard akan datang di hari kamis, 2 hari lagi."
"Baiklah, nanti aku akan bujuk dulu agar Erzan mau menemui tamu itu, kalau dia tidak mau baru aku," putus Arra dengan bibir cemberut.
"Baik Nyonya," balas Leo, diantara kepalanya yang sedikit menunduk dia pun mengulas senyum kecil melihat tingkah sang Nyonya.