FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
9. Tempat yang ingin dikunjungi



Lama mengatur rencana, akhirnya Jon setuju dengan ide Sabi. Entah kali ini apa lagi yang akan dilakukannya, namun yang pasti matanya berbinar - binar bahagia, merasa bahwa suatu yang dia nanti - nantikan telah tiba.


"Hey aunty.. tambah cantik aja niiih.." gombal Joon pada Ibu yang sedang membungkus sebuah kotak dengan bungkusan berwarna pink cerah.


Ibu melirik, melihat Jon dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan heran.


Ini gembel dari mana? kenapa bisa masuk rumah?


Dengan raut wajah yang sedikit kesal, Ibu menelfon security, meminta untuk mengusir gembel yang sedang bersamanya di ruang santainya.


Whatt? gembel? saya???


Segera Jon melihat kesekitar, mencari gembel yang Ibu maksud. Namun apes, yang dimaksud gembel oleh Ibu adalah dia sendiri.


"Aunty... ini saya loo Jooon!" Ucap Jon memperkenalkan dirinya sebelum diusir oleh security.


"Jon?" Ibu masih bingung.


"Iya Jon... Jon kribo yang sering nginep disini dulu loh buu.." Berusaha mengikat rambutnya agar seluruh wajahnya terlihat jelas, sambil tersenyum memperlihatkan seluruh giginya.


Ibu diam, mengamati. Berusaha mengingat.


"Oooh kamu Joon!" Seru Ibu tersenyum senang bisa mengingat siapa yang ada didepannya.


Jon tersenyum senang, lalu melepaskan rambutnya jatuh acak - acakan.


"Kamu sekarang jadi gembel Jon?" tanya Ibu prihatin.


"waduuh tidak aunty! nyaman aja kayak gini.." jawab Jon santai.


Tiba - tiba security datang disusuli Sabi yang Singgah mengamati dari balik pintu.


"Gembel yang ini yaaa nyonya?" tanya kepala security sambil memegang tangan Jon. Sementara Jon kebingungan, berusaha melepaskan tangan security yang meremas tangannya kuat.


"Bu..!" Sabi sedikit berteriak, membuat semua orang berbalik melihat padanya.


Ibu hanya mengangkat sebelah alisnya, seolah memberi kode bertanya ada apa tiba - tiba berteriak tidak jelas dibalik pintu. Tak ketinggalan, Jon pun memberi kode ke Sabi untuk meminta Sabi membantunya melepaskan diri dari security.


"Aku mau pergi jalan ke hotel milik Jon, sekalian aku mau belajar bagaimana caranya dia bisa sukses punya 2 hotel bintang 5. Sedangkan dulu dia cuma punya kos - kos an 5 pintu." Ucap Sabi sedikit membujuk.


"Ha? kamu sekarang punya 2 hotel? udah sukses doong!" seru Ibu tak menyangka, pria dekil didepannya adalah seorang CEO dari hotel bintang 5 dan sudah memiliki 1 cabang.


"Heheehee iya buu..."


"sekarang aku jadi CEO dihotelku sendiri." Jon mulai menunjukkan wibawanya sebagai seorang CEO.


Mendadak security yang meremas tangannya langsung kendor dan segera membungkuk memohon maaf. Dan dengan sedikit wibawa pemimpin dicampur sedikit gaya alay ala Jon, dia memaafkan security itu. Melangkah mendekati Sabi, yang berdiri melongo melihat kelebayan Jon.


"Aunty.. kami pergi dulu yaa.." Jon berpamitan ala - ala CEO yang berwibawa, namun dengan kostum gembel.


Ibu mengangguk, mempersilahkan mereka pergi tanpa halangan disertai dengan senyuman ramah.


Melihat respon Ibu yang ramah mempersilahkannya keluar rumah, raut wajah Sabi yang bahagia tak bisa dia sembunyikan. Sesekali dia menepuk - nepuk bahu Jon sambil cengengesan bahagia.


Thankyou Joooon! kamu memang terbaaaiik!


Teriak Sabi dalam hatinya.


Setelah lama berkendara menggunakan mobil mewah milik Jon, mereka akhirnya sampai ditempat yang Sabi nanti - nantikan selama ini.


Dengan mata berbinar - binar takjub, akhirnya dia bisa sampai ditempat ini. Tempat yang selama ini dia ingin kunjungi. Semangat yang membara, tatapan yang berbinar - binar, Sabi menatap keluar jendela mobil, dimana terlihat sebuah rumah sakit sederhana.


Bisa terlihat dari cat dinding yang sudah mulai kusam dan pengunjung yang memakai pakaian yang amat sederhana, bisa mengganbarkan bahwa rumah sakit yang mereka kunjungi adalah rumah sakit di pojokan kota, yang mana sebagian besar pasiennya orang - orang dengan ekonomi sedang ke bawah.


Disaat orang lain memilih tempat yang dinanti - nantikan adalah sebuah taman bermain atau keluar negeri, Sabi justru sangat menanti - nantikan dirinya bisa berobat di rumah sakit untuk bertemu dengan dokter spesialis jiwa.


"Kamu sudah siap?" tanya Jon dengan wajah serius, membukakan pintu mobil.


"Tentu saja!" Sabi mengangguk serius, menatap Jon mantab.


Saling bertatap - tatapan yakin atas apa yang akan mereka lakukan, mereka segera meninggalkan parkiran menuju loket pendaftaran pasien.


Sabi mengenakan topi hitamnya, kemudian menutup lagi kepalanya dengan topu jaket hitamnya. Membuat wajah tamannya tidak terlihat dan tidak dikenali.


Jon dengan pedenya berjalan disamping Sabi, menatap tajam kedepan, seolah tak pusing dengan rambut keritingnya yang melambai - lambai indah, sesekali menghempaskan rambut kritingnya agar terlihat keren.


"Maaf pak, ada urusan apa yaa datang kesini?" cegat seorang security, lengkap dengan tongkat - tongkatnya.


Eehh'... Sabi dan Jon terkejut karena tiba - tiba dihadang.


Pak security yang terlihat berumur 40 an menatap mereka tajam, setajam silet.


Sabi segera menyiku Jon, memberi tanda untuk segera bertindak. Namun Jon yang masih asik beradu tatapan dengab pak security, justru tak menghiraukan Sabi.


Tak menunggu lama, Sabi segera menendang kaki Jon hingga Jon menjerit kesakitan.


"Cepaat!" Sabi menunjuk dengan matanya kearah pak satpam.


Aaarggghh... Jon geram.


"Pakk.. kami mau lewat!" cetus Jon, masih dengan raut wajah kesakitan.


"Maaf pak, bapak ada urusan apa didalam?"


"Ya ampun paak.. saya mau berobat lahkan pak, bapak pikir saya mau apa didalam kalo bukan berobat?!" Jawab Jon dengab sedikit ngegas.


"oh maaf pak.. saya pikir bapak mau nagih utang." security itu senyum, tersipu malu.


"Ha? nagih utang? segitu jeleknya yaa muka saya, sampe bapak pikir saya penagih utang?"


Sabi mingkem dibalik jeketnya, berusaha menahan tawa.


Dengan polosnya bapak security mengangguk, mengiyakan pertanyaan dari Jon.


Amboooyyy! Jon meringis.


Disebuah kursi tunggu. Sabi menatap lamat - lamat kartu berobat bernamakan 'Jones Alygh'.


"Kalau mau ketawa, ketawa aja.. jangan ditahan. Kan memang dari dulu, kalo kamu liat nama lengkapku pasti ketawa." seru Jon memecah keheningan diantara mereka berdua.


Sabi masih tak menghiraukan perkataan Jon. Dalam pikirannya, dia masih tak percaya bahwa dia bisa sejauh ini. Setelah berapa tahun lamanya lepas dari kawalan supir pribadi, dan bisa ke rumah sakit mengobati mimpi buruknya selama ini. Benar - benar membuatnya merasa sangat senang, sampai mulutnya tak bisa berkata apa - apa untuk mengungkapkan kesenangannya.


"Berikutnya.. Tuan Jones Alygh" panggil seorang perawat, membukakan pintu. Pintu menuju misteri mimpi yang selama ini terulang tanpa kejelasan.


Dari balik pintu terlihat seorang gadis yang tak asing wajahnya. Berkulit putih, rambut hitam lebat yang hanya diikat sederhana tanpa model. Dengan raut wajahnya yang datar tanpa ekspresi, dia berjalan keluar dari ruangan sambil merangkul seorang pria tua, yang merupakan ayahnya sendiri. Ya! Dia Zuwina. Wanita cerdas yang membenci kekalahan.


Jon yang melihat Zuwina, terkagum - kagum dan terpana akan kecantikan alami Zuwina.


"Cantiknya..."


"Woy.. cepat masuk!" Sabi mendorong - dorong Jon agar lepas dari sihir kecantikan Zuwina. Sabi yang tak memperhatikan Zuwina, justru hanya biasa - biasa saja dan acuh tak acuh. Berbeda dengan Jon yang benar - benar terpana pada kecantikan alami Zuwina.


Didalam ruangan, ternyata psikiater yang mereka temui di RS adalah kenalan dari Jon ketika masih kuliah dulu yaitu dr. Anna


Jon sedikit menjelaskan tentang kondisi Sabi pada dr. Anna, seolah - olah dia yang mengalami mimpi buruk setiap malam. Dengan kepuawaiannya dalam berakting sepertinya Jon lebih berbakat jadi seorang aktor ketimbang menjadi seorang pengusaha.


Sabi yang masih bersembunyi dibalik topi jaktenya, mengawasi Jon yang sedang berakting. Sesekali Sabi menambahkan jika ada kata - kata yang Jon keluarkan salah atau kurang.


"Mimpi buruk yang terulang akibat dari trauma, itu seperti terapi. Perlahan - lahan anda akan menyadari bahwa kejadian ini sudah berlalu dan anda akan mulai menerima kenyataan dan membuat ingatan soal kejadian tersebut tidak lagi diasosiasikan sebagai kemalangan." Ujar dr. Anna setelah mendengarkan penjelasan dari Jon.


"Namun jika anda mengalami mimpi buruk secara berulang setelah satu bulan dari kejadian trauma, tandanya mimpi buruk sudah tidak sehat. Mimpi yang muncul biasanya hanya kenangan yang menyakitkan dan tidak bisa membantu anda menerima kenyataan dari kejadian yang membuat anda trauma." tambah dr. Anna.


Mata Sabi melotot tak percaya apa yang dikatakan oleh dr. Anna. Seakan semua kekhawatirannya selama ini benar adanya. Mimpi buruk yang selama ini diyakini ibunya sebagai bunga tidur ternyata bukan sekedar bunga tidur.


Tunggu.. trauma? trauma apa yang pernah ku alami?! seingatku, aku tidak pernah mengalami kecelakaan parah.


"Tapi bagaimana jika Jon tidak pernah mengalami kecelakaan parah.. karena seingatku Jon tidak pernah mengalami kecelakaan." Sabi bertanya, penasaran.


"Pernah kok!" celetuk Jon.


*Bukk! Sabi menendang kaki Jon.


mmmm..!!! Jon membungkam mulutnya, berusaha menahan sakit akibat ditendang Sabi.


"Dia tidak pernah mengalami kecelakaan!" Tegas Sabi.


"Tapi tadi..."


"Kecelakaan yang dimaksud Jon, jatuh dari sepeda dokter. Bukan kecelakaan parah dokter." Sabi memotong ucapan dr. Anna.


"iya kan Joon?" sambung Sabi, berusaha meyakinkan dr. Anna.


"Iya Anna.. eh.. maksud saya iya dokter!" Menatap Sabi dengan tatapan kesal.


"Jika anda tidak pernah mengalami kecelakaan parah dan anda selalu mengalami mimpi buruk, mungkin mimpi buruk itu disebabkan oleh tubuh anda yang terlalu kelelahan hingga anda butuh banyak istirahat." ujar dr. Anna sambil tersenyum tipis.


Tidak mungkin karena kelelahan...


"Tapi ada juga kemungkinan. Anda pernah mengalami kecelakaan, namun karena trauma dari kecelakaan itu sangat berat.. Anda menolak kenyataan itu dan melupakan kejadian itu. Hingga titik dimana anda menemukan sebuah pemicu yang mengakibatkan trauma masa lalu yang anda sudah hapus kini muncul kembali." Sambung dr. Anna, menatap Jon dengan tatapan serius.


Jangan - jangan... luka di dahi ini..


"Setelah anda menemukan sebuah pemicu, sepenggal kejadian itu bisa tiba - tiba muncul, bisa juga muncul lewat mimpi, dan juga bisa muncul ketika anda mengalami kembali kejadian itu secara langsung." Tambah dr. Anna.


Luka bagian dari traumaku yang selama ini tidak pernah aku sadari. Benar juga.. luka ini tidak mungkin ada dengan sendirinya.


"coba pelan - pelan temukan apa yang membuat anda trauma, sehingga kita bisa mengobati ini bersama - sama. Karena kita akan kesulitan menghilangkan mimpi buruk itu, jika penyebab utamanya masih belum diketahui." dr. Anna memegang tangan Jon, memberi penguatan Jon teman lamanya.


*Bersambung....