FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
25. Sebuah Tawaran



Senyuman itu...


"Tuan muda.. apa kamu sudah baikan?" tanya Zulaikha, masih dengan posisi menatap Sabi dengan polosnya.


Sabi segera mendelik, menggeleng - gelengkan kepalanya, dan berusaha sadar dari pikiran anehnya.


"Yaa!" teriaknya kesal seraya mendorong Zulaikha menjauh dari tubuhnya.


"Apa kamu sudah gila haah?! berani - beraninya kamu menggodaku seperti itu." celetuknya marah sambil mencoba menutupi dirinya dari pandangan mata Zulaikha.


Zulaikha yang jatuh akibat di dorong, segera bangkit dengan menatap Sabi heran. Bisa - bisanya dia mengatakan itu, padahal Zulaikha sama skali tidak melakukan apapun padanya.


"Jangan menatapku seperti itu!" pintah Sabi, geram melihat tatapan mata Zulaikha yang tertuju padanya.


"Kenapa tuan? apa ada yang salah dari tatapan saya?" tanya Zulaikha dengan polosnya, sembari mengedip - ngedipkan matanya. Mencoba memastikan bahwa tidak ada yang salah dari matanya.


"Yyaa! hentikan!" Lagi - lagi Sabi berteriak, dengan nada suara yang lebih tinggi.


"Jangan coba - coba untuk menggodaku dengan tatapan itu, senyuman itu. Hentikan semuanya!" Teriaknya lagi berusaha menghindari tatapan mata Zulaikha.


"Kenapa tuan? apa yang salah dengan tatapan mata dan senyuman saya tuan?"


"Diam!" Teriak Sabi.


Dadanya berdebar kencang. Ada sebuah perasaan tidak asing dalam dirinya, yang tidak bisa dia jelaskan itu apa. Hingga dia kebingungan sendiri, heran sendiri dan panik sendiri.


Sial! kenapa aku seperti ini?! Gumamnya dalam batin.


"Tuan muda.." panggil Zulaikha yang mulai hawatir dengan keadaan bosnya.


Dasar wanita penggoda! bisa - bisanya dia terus menggodaku. Aku kuat! aku takkan tergodaaaaa! Gumamnya menguatkan batinnya.


"Pergi! pergi kamu dari ruangan saya!" pintah Sabi dengan sedikit berteriak kesal dan wajah yang memerah.


"Tuan muda.. haruskah aku memanggilkan dokter? wajahmu nampak memerah, dan sepertinya anda mungkin masih kesakitan." Kata Zulaikha yang masih berusaha untuk tidak meninggalkan Sabi.


"Tidak!" singkat Sabi ketus.


"Pergi sana! pergiii!" teriak Sabi geram sambil memegangi dadanya.


Melihat betapa kesalnya Sabi, Zulaikha akhirnya mengalah dan menuruti perintah Sabi. Dia melangkahkan kakinya perlahan dan keluar dari ruangan dengan perasaan sedih.


Hati siapa yang tidak akan sedih jika atasanmu selalu mengusirmu dari ruangannya. Padahal dia selalu berperilaku baik dan juga berusaha selalu siap jika dibutuhkan. Namun kehadirannya selalu tak diharapkan.


Diambang pintu, Zulaikha masih melirik Sabi dengan tatapan sendu. Namun Sabi membalas tatapan mata Zulaikha dengan tatapan mata yang marah.


Segera dia menutup pintu dan menghilang dibalik pintu itu.


"Sial! apakah ini pertanda sedikit lagi aku akan menjadi gila?!" seru Sabi masih dengan tangan yang menyentuh dadanya.


..........


Ting!


Pintu lift terbuka. Zulaikha melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift. Namun saat dia menengok ke depan, alangkah kagetnya dia ternyata orang yang ada dalam lift adalah Zayn dan juga sekertaris sadis Ridwan.


Zulaikha kembali mundur dan mengurungkan niatnya untuk masuk. Karena memilih masuk bersama mereka, rasanya begitu sesak. Sesak karena bernafas bersama dengan dua orang yang sangat datar dan juga dingin membuat nafasnya kesulitan untuk keluar ataupun ketika udara dihirup, harus ekstra hati - hati agar tidak membuat kesalahan apapun, dan baru membayangkannya pun Zulaikha tidak mau.


"Masuklah.." ucap Zayn pelan.


"Aa?! Tidak tuan. Silahkan." Saut Zulaikha lembut.


"Masuklah, ada yang ingin kutanyakan padamu." imbuh Zayn tanpa memandang wajah Zulaikha.


"Ba baiklah.." sautnya ragu, lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam lift sambil menguatkan batinnya.


Pintu liftpun tertutup.


Zulaikha berdiri tepat di sebelah Zayn. Tanpa saling memandang dan dengan keadaan yang sangat canggung.


Zulaikha meremas roknya dan sesekali menggigit bibirnya berusaha menahan kegugupannya.


Sikap dingin tuan Zayn dan juga sikap kasar dan sadis dari asisten Ridwan membuat Zulaikha gugup dan sedikit takut berada d dekat mereka.


Aaiisshh.. Zulaikha bergidik ngeri membayangkan betapa dingin dan kejamnya perilaku Ridwan terakhir kali padanya.


"Santai saja, tidak usah gugup." Kata Zayn, memandangi pantulan wajah Zulaikha yang ada di pintu lift.


"ii iya tuan.." Sautnya gugup.


Meskipun bibirnya mengatakan iya, namun Zayn bisa melihat jelas dari raut wajahnya bahwa Zulaikha sangatlah gugup sekarang. Namun dia tidak perduli dan mengabaikan hal itu.


"Bagaimana keadaan tuan Sabi?" tanya Zayn.


Bagaimana dia tau kalau tuan muda tadi sedang kesakitan?!


"Apakah dia baik - baik saja?" tanya Zayn lagi.


"ii iya tuan. Tuan muda Sabi baik - baik saja." jawab Zulaikha ragu - ragu.


"Apa kamu yakin?" tanya Zayn lagi seolah dia tidak mempercayai apa yang dikatakan Zulaikha barusan.


Apakah dia tau aku sedang berbohong?!


"Iya tuan." jawab Zulaikha mantap sambil menelan salivanya.


Zayn melirik Zulaikha yang berada disampingnya. Muncul sorot mata tak senang ketika mendengar jawaban yang dilontarkan gadis itu. Segera tangan Zayn bergerak secepat kilat menarik bahu Zulaikha, lalu mendorong tubuh gadis kecil itu hingga membentur dinding lift.


"Aa.." Zulaikha refleks mendesis, kaget dengan perlakuan Zayn yang tiba - tiba.


Zayn mendekat dan menatap Zulaikha tajam dengan raut wajah yang sangat dingin.


Zulaikha terkesiap, dan jantungnya memburu semakin laju karena merasa ketakutan. Segera Zulaikha mengalihkan pandangannya, karena membalas tatapan mata Zayn bukanlah sesuatu yang bagus untuk mentalnya saat ini.


Otomatis kepala Zulaikha langsung beralih melihat lurus kedepan dan melihat tatapan tajam dari pria dingin di depannya.


Ya Tuhan... Gumamnya takut pada batinnya.


"Aku sangat membenci karyawan yang tidak jujur pada atasannya." akhirnya Zayn mengeluarkan kata - kata, memecahkan keheningan namun membuat suasana semakin mencekam.


Zulaikha semakin meremas roknya, berusaha menahan ketakutannya.


"Katakan yang sejujurnya padaku." Pinta Zayn dengan tatapan yang lebih tajam.


"Apa yang dilakukan Sabi setelah keluar dari ruangan rapat?" imbuhnya lagi.


"tu tuan Sabi, bertemu secara pribadi dengan nyonya Sura." jawab Zulaikha dengan terpaksa.


"Apa yang mereka bicarakan?"


"Maaf tuan, saya tidak tau. Karena saya diminta untuk keluar dari ruangan." jawab Zulaikha menghindari tatapan Zayn.


"Selanjutnya?"


"Ti tidak ada tuan."


"Jangan coba - coba untuk membohongiku." cetus Zayn sembari memegang kepala Zulaikha lembut.


Ting!


Pintu lift terbuka.


Akhirnya.. seru Zulaikha dalam batinnya.


"Sepertinya kamu sangat ingin keluar. Namun sayang, aku takkan mengizinkanmu keluar sebelum kamu mengatakan semuanya padaku." kata Zayn, disusuli Ridwan yang memencet tombol lift hingga pintu lift tertutup kembali.


Pintu lift pun tertutup kembali. Sebuah pancaran mata yang tadinya sangat bersemangat ketika melihat pintu lift terbuka, kini hilang bersama dengan kesempatan yang dari tadi dia tunggu - tunggu.


"Katakan padaku."


"katakan padaku semuanya yang terjadi hari ini setelah rapat berakhir." ucap Zayn dingin.


"Baik. baiklah.. aku akan mengatakan semua yang terjadi hari ini." saut Zulaikha yang mulai putus asa dan juga geram atas apa yang terjadi padanya hari ini.


Harinya begitu sial. Entah dari atasannya sendiri maupun atasan lain, dirinya selalu sial. Kalau bukan dimarahi, dibentak, atau tidak di usir. Kali ini dia pasrah membeberkan semuanya pada Zayn. Agar hidupnya jadi lebih mudah hari ini. Rasanya dia terlalu tertekan untuk menghindari kulkas dua pintu yang ada didepannya saat ini.


"Setelah selesai rapat, tuan muda bertemu dengan nyonya Sura secara pribadi tanpa melibatkan siapapun dalam ruangan itu. Saat nyonya sudah keluar dari ruangan dengan tatapan kesal. Aku segera masuk ke dalam, dan aku mendapati tuan muda Sabi tengah kesakitan sambil memegang kepalanya." tutur Zulaikha dengan menggebu - gebu.


"Apa? dia kesakitan? kenapa?" tanya Zayn heran.


"Iya dia kesakitan. aku tidak tau dia sakit kenapa, yang pasti, dia sangat kesakitan dibagian kepalanya. Aku menawari untuk memanggil bantuan, namun dia menolak lalu dia jatuh pingsan." tutur Zulaikha lagi, namun kali ini dengan raut wajah yang sendu. Seolah ada kekhawatiran yang terlihat pada raut wajahnya.


"Dia kembali sadar setelah setengah jam berlalu. Kemudian dia marah - marah tidak jelas, lalu mengusirku. Hingga sekarang aku berada disini bersama anda tuan." Sambungnya dengan tatapan kesal, membalas tatapan mata Zayn.


"Hmm.. baiklah. Terimakasih atas infonya." saut Zayn seolah tidak merasa bersalah telah memojokkan Zulaikha demi mendapatkan informasi yang dia inginkan.


Apa? terimakasih?! terimakasih infonya setelah memojokkanku hingga aku merasa frustasi?! Lalu aku harus membalas sama - sama?! ciiih... Gumam Zulaikha kesal.


"Mulai sekarang, sebelum kamu pulang ke rumahmu untuk beristirahat. Kamu harus menceritakan padaku semua yang terjadi tentang Sabi." Pintah Zayn menatap Zulaikha tajam, sembari menyunggingkan sebuah senyuman. Namun bukan sebuah senyuman tulus, melainkan sebuah senyuman yang terlihat sadis dan mematikan.


"Ke kenapa?" tanya Zulaikha sembari langsung membuang tatapannya karna tak sanggup melihat senyuman mematikan Zayn.


"Karena bosmu yang sebenarnya adalah aku, aku yang memilihmu untuk menjadi sekertaris pribadi Sabi. Jadi, kamu melayani Sabi sebagai atasanmu namun kamu tetap harus tunduk dan mematuhi perintahku." Jawab Zayn enteng sambil mengangkat kedua bahunya, lalu tersenyum tajam pada Zulaikha.


Apa dia memintaku untuk memata - matai tuan Sabi?! tidak, aku tidak akan melakukan itu.


"Bagaimana jika aku menolak, tuan?!"


"Maka yang jelas kamu akan rugi." jawab Zayn diselingi sebuah tawa yang terdengar sadis.


"Apa?! Rugi?!" imbuh Zulaikha heran.


"Iya rugi, karena aku juga akan memberikanmu imbalan sebuah informasi yang selama ini kamu cari - cari namun tak kunjung kamu dapatkan." Saut Zayn percaya diri.


Apa? informasi yang aku cari - cari?! apa itu?!


"Saudara perempuanmu." Sambung Zayn.


"Apa maksudmu dengan saudara perempuanku? aku tidak mengerti." tanya Zulaikha, berusaha tertawa dengan mata yang mulai berkaca - kaca.


"Jadi kamu sudah tidak penasaran lagi dengan saudara perempuanmu yang hilang?" Zayn balik bertanya. Berusaha menggoyahkan pertahanan Zulaikha.


Apa? dia tau? bagaimana bisa dia tau tentang kakak?


Zulaikha berpikir keras, hatinya mulai goyah. Apakah dia harus menjual informasi yang dia dapatkan dari tuan Sabi demi mendapatkan informasi mengenai saudara perempuannya yang hilang? atau tetap menjaga privasi tuan Sabi dan membiarkan informasi berharga mengenai saudaranya hilang begitu saja?


Tuhan.. apa yang harus ku lakukan? informasi tentang kakak juga sangat penting, namun menjaga privasi tuan muda Sabi juga sama pentingnya.


Ting!


Pintu lift terbuka.


"Nampaknya kamu lebih memilih tuan muda Andi Sabiru yang selalu mengusirmu daripada saudarimu." Kata Zayn sembari melangkah mundur menjauhi Zulaikha.


"Baiklah.." imbuhnya lalu melangkahkan kaki keluar dari lift disusuli Ridwan yang setia berjalan dibelakang Zayn.


Zulaikha yang mendengar itu terkesiap, air matanya terjatuh tanpa izin. Segera dia berlari keluar dari lift untuk mengejar Zayn yang sudah lebih dulu keluar.


"Tuan Zayn.." panggil Zulaikha sembari menghapus air matanya.


Langkah kaki Zayn pun terhenti seketika. Kemudian seulas senyuman tergores di wajah tampannya.


Bersambung...