FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
64. Lembur



Setelah menghabiskan waktu yang lumayan lama untuk makan malam diluar bersama. Sabi dan Zulaikha kembali ke kantor melanjutkan pekerjaan mereka yang belum selesai.


Mereka bekerja dengan giat, bahkan mereka terlihat seperti dua orang yang tidak saling mengenal dalam satu ruangan. Tidak ada obrolan dan tidak ada kontak mata. Sabi fokus di meja kerjanya bersama tumpukan pekerjaan yang harus dia selesaikan sebelum waktu rapat berikutnya tiba, sedangkan Zulaikha duduk di sofa bersama dengan beberapa tumpukan kertas, sebuah leptop dan tab di depannya.


Namun dibalik seriusnya Sabi malam itu, matanya sesekali melirik Zulaikha yang sedang serius bekerja. Sesekali hati kecilnya bertanya, apakah Zulaikha memang benar anak itu?! Seolah masih ragu, padahal dia sudah mendapatkan beberapa petunjuk sebelumnya.


Aaakhhh .... keluh Sabi menggeleng kepalanya yang pegal, memikirkan hal yang rumit disaat pekerjaannya masih bertumpuk.


Dia berusaha mengikuti pikirannya yang mengatakan bahwa Zulaikha lah anak itu, meskipun hatinya masih ragu. Tapi bukankah foto yang saat itu dipegangnya bisa menjadi bukti, bahwa Zulaikha lah anak perempuan yang selama ini ada dalam mimpi buruknya.


Fokus!!!! Gumam Sabi, membesarkan matanya dan melototi layar komputernya yang membuat matanya lelah.


Dari arah yang berlawanan, Zulaikha datang sambil membawa sebuah flash hitam lalu menyerahkannya pada Sabi.


“Tuan, sudah selesai. Anda bisa mengeceknya disini.” Ucap Zulaikha.


“Cepat sekali.” Seru Sabi tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Zulaikha.


“Mana bisa ini dibilang cepat tuan, sementara ini sudah jam 3 pagi.”


Sabi segera melirik jam tangannya, dan benar saja. Jam tangan menunjukkan tepat pukul tiga. Matanya melotot dan sedikit berair serta memerah, menatap jam tangannya sendiri.


“Zu ... istirahatlah. Hm .... atau pulanglah. Kamu sudah bekerja keras.” Ucap Sabi memandang Zulaikha, sambil tersenyum.


Zulaikha menggeleng, menolak tawaran Sabi. “Tidak, tuan. Saya akan tetap disini membantu tuan.”


“Hey ... manusia butuh tidur. Pulanglah tidur.” Pinta Sabi, melototi Zulaikha.


“Lantas apakah anda bukan manusia, tuan?! Anda juga butuh tidur.” Timpal Zulaikha, merasa prihatin melihat mata lelah Sabi yang memerah dan berair karena mengantuk.


Sudah berapa hari dia tidak tidur?! Dia terlihat seperti panda sekarang. Tapi tidak lucu.


“Zu pulanglah ... aku akan tidur di kantor. Kamu pulanglah ke rumah, lalu bawakan aku baju kantor untuk besok pagi.” Ucap Sabi, dengan sedikit tersenyum memberi kode bahwa dia kuat dengan kerja lembur ini. Padahal tubuhnya mulai rapuh ingin beristirahat.


Aakhh ... Gumam Zulaikha kesal.


Seharusnya aku tidak peduli dengannya. Ayo pulang dan beristirahat. Zulaikha menetapkan pendiriannya.


“Pulanglah ...” pintah Sabi.


“Tidak, tuan. Saya tidak akan pulang, jika tuan muda tidak pulang dan saya tidak akan tidur, jika tuan muda tidak tidur.” Akhirnya ucapannya berbenturan dengan apa yang dipikirkannya, terucap. Terdengar bodoh, dan terasa naif.


Sial!!!!


Mata Sabi menyipit lalu terkekeh mendengar ucapan Zulaikha. “Waah ... sudah berani kamu ya menentang atasanmu.” Ucap Sabi, sambil bertepuk tangan melihat sikap berani Zulaikha yang sudah berani menentangnya.


Tidak dia sangka, bahwa gadis pendiam dan cekatan itu bisa menentangnya seperti itu. Tidak heran jika dia lulus dalam tes hingga Zayn memilihnya menjadi sekertaris yang pantas untuknya, dengan sejumlah tes yang berlebihan dan tak masuk akal.


Sekali lagi Sabi tersenyum kecil, merasa berterimakasih pada Zayn yang benar-benar memilihkannya sekertaris yang baik dan luar biasa seperti Zulaikha.


Mata Zulaikha melebar, bingung menunggu apa yang Sabi maksud dengan kata baiklah.


“Tapi aku mau istirahat di ruangan ini.” Sambung Sabi dan Zulaikha tersenyum menang.


“Apakah kamu tidak masalah, jika bermalam disebuah ruangan bersama dengan seorang pria?!” Sabi mendekati Zulaikha dan menatap gadis itu tajam.


Zulaikha sontak mundur perlahan dan berusaha menghindari tatapan tajam Sabi. Wajahnya bahkan memerah, hampir semerah tomat karena malu dan juga bingung menjawab pertanyaan Sabi. Karena jika salah jawab, pasti presepsi Sabi padanya akan menjadi buruk.


Rasanya Sabi ingin tertawa melihat wajah malu Zulaikha. Gaya salah tingkahnya sangat terlihat jelas, membuat Sabi merasa seperti tergelitik karena berhasil menggoda gadis polos itu. Padahal itu hanya godaan klasik, tapi Zulaikha sudah se keki itu didepannya. Akhirnya Sabi memutuskan untuk berhenti menggoda gadis polos itu. Tidak baik terus menggodanya di jam krisis seperti ini, dia hawatir nanti akan keterusan. Dasar.


“Jika kamu keberatan, maka pulanglah Zu.” Perintah Sabi, melewati Zulaikha dan berjalan menuju sofa kulitnya yang ada di tengah ruangan kerjanya.


“Ti tidak, tuan. Saya akan tidur disini menemani, tuan.” Ucap Zulaikha, tegas.


“Menemaniku?!” Sabi berbalik menatap Zulaikha, dan Zulaikha kembali tergagap.


Benar saja apa yang dipikirkannya tadi, salah ucap maka akan salah presepsi. Rasanya dia ingin mengulang kembali kata-katanya dan lebih memilih diam, daripada terpojok dan malu sendiri dengan ucapannya seperti ini.


Astagah ya Tuhan ...


Sabi terkekeh.


“Kalau mau menemaniku, kamu tidur di sofa yang ini.” Sabi menunjuk dengan sorotan matanya dengan tangan yang menepuk kepala sofa yang dipegangnya. “Nanti aku tidur di sofa yang itu.” Sambungnya, lalu berjalan menuju sofa yang dia maksud.


“Ba baik, tuan.” Zulaikha mengangguk mengerti, masih belum berani menatap wajah Sabi.


“Beristirahatlah. Aku juga akan segera beristirahat dan jangan coba-coba membuat suara berisik saat aku tidur. Akan ku potong gajimu bulan ini.” Celetuk Sabi, menanggalkan jasnya dari tubuhnya dan menggantungkan jas itu di kepala sofa.


“I iya, tuan.” Zulaikha mengangguk mengerti dan berjalan menuju sofa yang ditunjukkan Sabi tadi padanya. Masih tetap menunduk dan tidak mau memandang wajah Sabi. Apalagi sekarang Sabi sudah membuka jasnya, dan hanya meninggalkan kemeja putih yang sedikit transparan memperlihatkan sedikit kulitnya.


Percayalah, saat ini adalah posisi canggung yang dirasakan oleh gadis polos seperti Zulaikha.


Tanpa berlama-lama, Zulaikha segera berbaring di sofa panjang itu dan saling berhadapan dengan sebuah meja menjadi penengah di antara mereka berdua. Dengan berbantalkan bantal sofa, mata mereka terpejam. Tidak terdengar sedikitpun suara kecuali suara Ac, yang seperti menjadi musik pengantar tidur mereka.


Tapi dibalik itu semua, ada pikiran yang merajalela kesana kemari memikirkan banyak hal. Baik Sabi, maulun Zulaikha. Masing-masing dari mereka tengah bergelut dengan pikiran mereka sendiri. Sampai akhirnya pikiran mereka juga yang membuat mereka tenggelam dan jatuh dalam dunia mimpi. Tertidur pulas dengan sendirinya.


*Bzzzzz .... Bzzzzz ... Bzzzzzzz


Handphone Sabi bergetar tanpa suara dari balik bantal sofa yang tengah menyangga kepalanya.


Sedikit kaget, Sabi segera bangun dan duduk, sambil mengatur nafas dan matanya yang masih sayu akibat masih mengantuk. Tangannya menarik handphone nya yang terus bergetar dari balik bantal sofa.


Ternyata itu adalah sebuah alarm dengan catatan ‘Bangun! Nanti mimpi buruk!’. Sabi segera mendesis kesal melihat alarmnya itu dan langsung mematikannya sebelum membuat Zulaikha terbangun. Matanya yang sayu tertuju pada gadis yang sedang tertidur dengan posisi miring dan meringkuk, menahan dingin.


Dia meraih jasnya yang sebelumnya dia gantung di kepala sofa tadi dan berdiri menuju ke sofs tempat Zulaikha berbaring. Langkahnya tiba-tiba berhenti, dan kembali melirik jas itu.


Bersambung ....