
Pada saat posisi matahari tepat diatas kepala, cuaca sedang panas - panasnya dan lingkungan luar sedang silau - silaunya karena sang surya hari ini sedang menunjukkan kegagahannya dengan sangat baik.
Beberapa orang justru lebih memilih untuk berdiam diri didalam ruangan ber Ac atau berdiri di depan kipas angin. Namun bagi orang - orang yang tidak punya pilihan lain selain harus tetap diluar rumah untuk bekerja, mereka hanya bisa mengandalkan kebaikan alam untuk bertiup sepoi, menghilangkan peluh yang membasahi tubuh setiap orang yang masih beraktifitas diluar ruangan.
Setelah beberapa jam pergi, dan melewati rintangan kemacetan ibu kota serta kebingungan mencari letak sang penjual kaki lima. Akhirnya, Zulaikha si gadis bertubuh agak kecil dengan semangat yang membara dan dengan kulit yang tetap putih meski habis terpapar sinar matahari yang begitu menyengat saat itu, serta keringat yang tak luput membasahi wajah dan pakaiannya. Tidak menghilangkan semangat gadis itu.
Dijinjingnya sebuah plastik putih kecil, yang semua orang bisa melihat isinya bahwa dia baru saja membeli sebuah Pop ice dengan rasa Vanila blue. Warna biru muda segar, serta beberapa air yang menetes di gelas minuman itu, seakan membuat setiap orang yang melihatnya ingin membeli juga minuman itu untuk membasahi leher mereka yang kering akibat cuaca yang begitu panasnya.
Sabi yang masih didalam ruangannya, belum juga kunjung menyelesaikan pekerjaannya. Melainkan dia hanya beristirahat, santai dan telfonan tanpa beban. Saat ini pun dia sedang merencanakan untuk keluar dan bersantai - santai. Seolah laki - laki ini tidak memiliki beban sama skali jika membiarkan pekerjaannya menumpuk.
"Oke Jon.. sedikit lagi aku menuju ketempatmu, jangan lupa sharelock!" ucapnya santai, seraya mengakhiri pembicaraannya ditelefon.
"Tuan.. ini pesanan anda. Pop Ice Vanila Blue" ucap Zulaikha yang barusan sampai keruangan Sabi dengan wajah kelelahan menahan panasnya cuaca siang itu, namun dia masih berusaha untuk tetap tersenyum.
Segera Sabi menoleh ke arah Zulaikha, lalu mengalihkan pandangannya keatas meja dan cepat - cepat meraih Pop Ice yang telah diletakkan Zulaikha diatas mejanya. Tanpa ragu - ragu Sabi menancapkan sedotan dan segera menyeruput minuman berwarna biru segar itu.
"Aaahhh..." serunya puas.
Zulaikha yang melihat ekspresi tuannya yang merasa puas dengan apa yang dibelinya, menjadi lega dan merasa tidak sia - sia keluar disaat panas - panasnya. Sebuah garis kembali menoreh diwajahnya membentuk sebuah senyuman.
Sabi tiba - tiba berdiri dari duduknya, masih dengan memegang minuman yang sedari tadi dia minum.
Dan tiba - tiba plak!
Minuman yang dipegang Sabi jatuh, lebih tepatnya sengaja dijatuhkan. Minuman itu berhamburan dilantai, serta mengenai celana dan juga sepatunya sendiri. Entah apalagi yang dia rencanakan kali ini, yang pasti dia sengaja melakukan itu.
"Astagah.. sepertinya tanganku terlalu licin." serunya sambil terkekeh.
Apa? terlalu licin? bisa - bisanya dia mengatakan tangannya terlalu licin, sementara aku melihatnya dengan sengaja menjatuhkan minuman itu. Zulaikha menganga, melihat perbuatan Sabi yang sangaat sangat dia sengaja.
"Hey.. apakah kamu buta?!"
"Ha? iya tuan?!" Zulaikha tersadar dari lamunannya.
"Bodoh!" ucap Zayn, sambil menarik sebuah senyum licik.
"Kalau kamu lihat sesuatu yang berantakan seperti ini, kamu harus cepat membersihkannya!" Bentak Sabi sambil menunjuk - nunjuk lantai basah dengan kakinya.
Benar saja, dia sengaja menjatuhkan minumannya sendiri karena untuk mengerjai Zulaikha. Agar gadis itu memiliki banyak pekerjaan sehingga dia bisa meninggalkan kantor dengan enteng, dan juga apalagi kalau bukan karena dia merasa senang melihat orang lain merasa jengkel.
"aaa.. baik tuan!" Zulaikha mengangguk mengerti, dan segera berjalan keluar dari ruangan.
Ini orang kenapa sih? tidak ada wibawanya sama skali. Bertindak semaunya, marah semaunya. Dia pikir dia bocah! Zulaikha mendongkol, namun dengan suara yang amat pelan, bahkan seperti bisikan yang hanya dia sendiri bisa dengar.
Namun dengan telinga yang tajam dan posisinya yang tepat dibelakang Zulaikha , Sabi masih bisa mendengar celotehan Zulaikha.
Sabi terus mengikuti Zulaikha dari belakang. Seperti tidak puas membuat Zulaikha mendongkol, dia bahkan beberapa kali mengikuti gerakan bibir Zulaikha tanpa suara. Mengejek - ejek Zulaikha dari belakang.
Merasa diikuti, Zulaikha berbalik dan melirik tuan mudanya dengan tatapan bingung dan rada jengkel. Namun tidak melupakan senyuman on top dibibirnya yang kecil. Yang harus dia perlihatkan kepada tuan mudanya agar tidak dianggap tidak beretika dan memunculkan masalah baru lagi. Karena Zulaikha tipe gadis yang tidak suka mencari masalah. Sehingga sejengkel apapun dia, senyuman tidak boleh lepas dari wajahnya.
"kenapa?" tanya Sabi berpura - pura memasang wajah keheranan.
"Maaf tuan.. kenapa anda mengikuti saya?" Zulaikha balik bertanya dengan sedikit rasa ragu apakah benar dia diikuti atau hanya perasaannya saja
"Mengikuti kamu? hahh.. pede sekali kamu!" Serkah Sabi diiringi gelak tawa.
"Saya mau keluar! ya jelaslah lewat pintu itu. Perasaan sekali.." Sambungnya, berjalan melewati Zulaikha sambil sengaja menyenggol bahu Zulaikha dengan kuat, hingga membuat gadis itu sedikit hampir kehilangan keseimbangannya.
Sabar Lai.. sabar... sabar.. Zulaikha memejamkan matanya dengan sesekali mengelus lembut dadanya, berusaha agar emosinya tidak terpancing.
Entah sudah berapakali Sabi dengan sengaja menyenggol bahu Zulaikha, namun sepertinya dia merasa senang bisa melakukan itu. Karena mempermainkan orang memang adalah kegemarannya, dan Zulaikha menjadi salah satu mainan baru baginya.
"Anda mau keluar kemana tuan? bukankah anda seharusnya bekerja?" Cegat Zulaikha.
"Bukan urusanmu!"
"Tapi tuan.. jika tuan Zayn tau.."
"Ya ya ya.. jika Zayn tau dia akan marah. Masa bodoh dengan Zayn!" Sabi memotong ucapan Zulaikha yang belum saja selesai dia katakan.
"Aku tidak bisa bekerja jika pakaianku basah seperti ini! lihat!" Sabi menunjuk celana dan sepatunya yang basah akibat terkena pop ice dengan ujung matanya.
"Ini sangat mengganggu, aku tidak bisa fokus bekerja jika pakaianku basah dan lengket seperti ini!" sambungnya.
"Tapi tuan.. ini masih jam bekerja, anda tidak boleh keluar kantor. Paling tidak kerjakanlah sedikit pekerjaan tuan yang belum diselesaikan." Ujar Zulaikha yang masih berusaha menahan Sabi.
"Oh iya.. katanya kamu sekertaris pribadiku ya?!"
"iya tuan." jawab Zulaikha mantap.
"Kalau begitu, buat dirimu itu berguna dengan membantuku. Bukankah pekerjaanmu seharusnya membantuku menyelesaikan pekerjaan kantor?!"
"Iya tuan, tapi..."
"Maaf tuan, tidak seperti itu.."
"Kalau begitu, selama aku pergi mengganti pakaianku. Kamu bersihkan lantai disana." Sabi menunjuk ketempat dia menjatuhkan minumannya dengan sengaja.
"dan kerjakan juga sedikit pekerjaanku yang disana." lanjutnya sambil menunjukkan setumpukan kertas yang tersusun rapih diatas meja kerjanya, seakan belum pernah terjamah sedikitpun oleh tangannya.
"Maaf tuan.. tapi pekerjaan itu_"
"yaa.. pekerjaan itu selama beberapa jam kedepan menjadi milikmu. Tidak ada tapi tapi dan jika kamu tidak mau, tidak kenapa." potong Sabi yang berushaa membuat Zulaikha tidak banyak membantah dan berceloteh.
"Besok kamu bisa mencari perusahaan lain." Sambungnya sambil mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum.
Sial!
Sabi mengatupkan kedua tangannya di kantong celananya. menunggu sebuah kata dari Zulaikha, namun ternyata Zulaikha memilih diam karena dia tidak punya pilihan lain selain melaksanakan perintah dari bos resenya itu.
Sabi kembali mengangkat kedua bahu lebarnya, masih menunggu kata - kata dari Zulaikha yang masih mematung menatap dalam Sabi, dengan perasaan dongkol padanya.
Sambil menarik nafas kasar lalu ditahan, kemudian berusaha dihembuskannya dengan lembut. Zulaikha akhirnya bersuara.
"Baik tuan muda."
"Okeeee!" Seru Sabi sambil sedikit berteriak girang.
Sabi pergi meninggalkan Zulaikha yang masih menatap punggungnya yang mulai hilang pergi dibalik pintu.
"Baiklah tidak apa - apa, setidaknya anda mulai menganggap saya sebagai sekertarismu. Meskipun rasanya aku ingin sekali mencekik lehermu!" Ucap Zulaikha kesal dengan sedikit berteriak kesal.
.............
Diruangan Zayn yang tenang, Ridwan sedari tadi memperhatikan Zayn dengan seksama hingga tidak fokus dengan pekerjaannya. Diperhatikannya Zayn yang masih sibuk mengetik di komputer miliknya sembari sesekali membolak - balikkan satu persatu dokumen yang ada dimejanya.
Seolah ada sebuah tanya yang ingin disampaikan Ridwan pada Zayn, namun lidahnya keluh karena bimbang apakah baik menanyakan itu pada tuannya atau tidak. Disisi lain dia juga tidak ingin mengganggu fokus Zayn, namun rasa penasarannya kali ini sungguh mengganggu fokusnya. Hingga dia sendiri kebingungan.
"Ada apa denganmu Wan?" tanya Zayn yang ternyata menyadari Ridwan yang sedari tadi memperhatikannya.
Ridwan masih diam, berusaha menyusun kata yang tepat untuk disampaikan pada tuannya agar dia tidak marah dengan pertanyaannya.
"katakanlah jika ada yang mengganjal dipikiranmu. Karena aku tidak suka nanti akan berpengaruh di pekerjaanmu." Sambung Zayn, menghentikan aktifitasnya dan fokus untuk mendengarkan Ridwan.
"Maaf tuan saya lancang menanyakan ini pada anda." Akhirnya Ridwan buka suara.
"Hmm.." Zayn mengangguk mengerti.
"Tadi saat tuan menolak nona bunga, tuan mengatakan alasan pertama menolaknya. Jika tuan mengatakan alasan pertama, berarti ada alasan kedua. Mengapa anda tidak mengatakan alasan kedua anda padanya?" tanya Ridwan dengan wajah serius.
"Hmm.. rupanya kamu sekarang semakin kepo yaa.. belajar darimana?"
"Maafkan saya tuan muda, saya tidak seperti yang tuan pikirkan. Tuan tidak perlu menjawab pertanyaan saya yang tidak berbobot itu tuan." Ucap Ridwan yang langsung berdiri dan membungkuk meminta maaf pada Zayn, namun dibalas sebuah senyum masam darinya.
"Sudahlah.. sudah.. tidak apa - apa." Zayn memberi isyarat untuk segera duduk kembali.
Namun Ridwan yang memiliki etika sopan santun yang tinggi, merasa sangat kurangajar kepada tuannya dan tetap memilih untuk membungkuk meminta maaf pada Zayn.
"Hey Wan.. berhenti!" Pintah Zayn dengan sedikit keras dan tegas.
Ridwan segera kembali duduk mengikuti perintah Zayn.
"Begitu banyak alasan aku tidak menyukai gadis itu. Hanya saja aku terlalu malas untuk mengutarakan semua yang kubenci darinya, karena hanya akan memakan banyak waktu." jelas Zayn, membuat Ridwan puas mendengarnya.
Seakan rasa penasarannya telah terjawab, kini batin Ridwan menjadi lebih tenang. Tadinya dia berpikir bahwa tuannya menyukai wanita lain sehingga menolak wanita secantik Bunga. Namun ternyata karena Bunga bukan tipe wanita idealnya.
Bagaimana bisa aku sebodoh ini, memikirkan bahwa tuan Zayn sedang jatuh cinta pada gadis lain. Dia mana sempat punya waktu untuk jatuh cinta, sedangkan sekedar bersantai - santai pun dia hampir tidak punya waktu.
Ridwa tersenyum sendiri, menertawai pikirannya yang bodoh karena telah berpikir jauh dari kenyataan.
Sementara Zayn, menatap sebuah bunga Lily putih didekat jendela kantornya. Lalu kemudian melanjutkan lagi pekerjaannya yang dia tunda tadi.
..............
Disebuah Bandar udara internasional ibu kota. Terlihat seorang gadis muda dengan rambut berwarna coklat, memakai masker hitam dan topi serta kacamata hitam menutupi hampir keseluruhan wajah gadis itu. Seolah - olah dia tidak ingin dikenali oleh siapapun.
Gerak - geriknya yang nampak sangat berhati - hati disetiap langkahnya agar tidak terlihat dan tidak menonjol. Membuat wanita itu semakin mencurigakan. Siapa dia? Apa yang dilakukannya di negara berkembang ini?
Di tas ranselnya yang berwarna hitam terlihat sebuah gantungan kunci bergelantungan melambai kesana kemari mengikuti pergerakan dari sang pemilik.
Gantungan kunci itu berupa sebuah kelopak bunga berwarna putih namunbtelah diselimuti oleh cairan lilin, hingga mengawetkan kelopak bunga itu agar tak lekang dimakan oleh waktu. Gantungan yang sama yang juga tergantung di koper pink berbulu yang sempat dia bawa saat di bandar udara paris.
"Taxiii..." teriaknya menahan sebuah taksi. Lalu masuk kedalam taxi itu kemudian taxi itu melaju dan berbaur dengan mobil lainnya dijalan raya yang padat dan macet.
Bersambung...