FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
22. Anak Lelaki itu



Ada sebuah rasa yang telah lama tenggelam, perlahan - lahan rasa itu kemudian naik kembali membawa harapan dan bahagia.


Seperti itulah perasaan Zulaikha hari ini. Ada rasa bahagia direlung hatinya, hingga terlihat sudut bibirnya naik keatas namun sesekali ditahannya.


"Ada apa denganmu?" tanya Sabi yang merasa terganggu dengan sikap Zulaikha.


"ha?" seru Zulaikha. tersadar dari perasaan bahagianya.


"Kamu kenapa senyum - senyum sendiri seperti itu?"


Dasar kepo. senyum - senyum salah. Tidak senyum lebih salah.


"Kenapa diam? kalau boss bertanya, harus jawab!" Bentak Sabi, jengkel.


Aaarghhh...


"Tidak apa - apa tuan. Saya hanya senang."


"Kamu sedang puber yaa?" ejek Sabi, terseyum sambil mendelik ke Zulaikha.


"Astagah tidak tuan. tidak tuan muda."


"Jangan bohong!" Segera Sabi berdiri mendekati Zulaikha.


"aku tau wajah - wajah yang sedang puber."


Ini orang kenapa kepo banget sih.. Zulaikha perlahan - lahan melangkah mundur, berusaha menghindar.


"Hayoo.. kamu sedang puber yaa.." ejek Sabi lagi perlahan - lahan mendekati Zulaikha.


"Tidak tuan muda." bantah Zulaikha, berusaha menjauh dan menghindari tatapan mata Sabi.


Sabi yang melihat Zulaikha merasa malu atas pertanyaannya, semakin bersemangat untuk mengejek Zulaikha. Apalagi melihat Zulaikha yang berusaha menjauh dan menghindari tatapan mata dengannya, membuat Sabi merasa lucu dan gemes melihat Zulaikha sehingga membuatnya merasa semakin bersemangat.


"Awas!" Sabi berteriak berusaha memperingati Zulaikha, apa yang ada dibelakangnya.


Namun terlambat. Langkah kaki Zulaikha mentok menabrak sebuah pot, hingga membuat kakinya kehilangan keseimbangan.


Tubuh Zulaikha pun akhirnya oleng, dan gagal menyeimbangkan tubuhnya.


Aaa..


Sebuah tangan tiba - tiba terulur menahan tubuh kecil yang hampir saja jatuh. Kedua pasang mata pun akhirnya bertemu dan saling bersitatap satu sama lain.


Sebuah senyuman pun tersungging di bibir Sabi hingga membuat dua buah sumur terukir dikedua pipinya. Senang bahwa dia berhasil bergerak cepat, menangkap Zulaikha yang hampir saja jatuh.


Sementara dampak dari senyuman itu, membuat jantung seorang gadis berdegup - degup kencang tak beraturan akibat melihat betapa menawannya senyuman itu. Seolah perasaan itu tak asing baginya, hingga dia menikmati debaran itu, sekaligus senyuman itu.


"Apa kau menyukaiku?" tanya Sabi, memecahkan lamunan Zulaikha.


"Hah?"


"Sepertinya aku barusan mendengar jantungmu. Jika itu benar suara jantungmu, berarti kamu menyukaiku." Sambung Sabi.


Mendengar ucapan Sabi, Zulaikha segera melepaskan dirinya dari pelukan tangan Sabi yang telah menyelamatkannya.


Sial. Kali ini dia lengah. Terlarut dalam senyuman itu, hingga dia harus menanggung malu.


"Ti.. tidak tuan muda." ucapnya menunduk sambil merapikan pakaiannya yang tidak berantakan.


"Saya menderita jantung lemah. Jadi jika saya kaget, jantung saya akan berdegup kencang. Lagian apa hubungannya jantung berdegup kencang tanda saya menyukai anda tuan?!" Jelas Zulaikha yang jelas - jelas berbohong dan sangat nampak di mata Sabi.


Sabi sontak tertawa melihat Zulaikha yang mencoba membohonginya.


"Saya tidak menyukai anda tuan!" Ucap Zulaikha dengan nada yang sedikit meninggi.


"Lalu?"


"Saya menyukai orang lain tuan."


"Siapaa?" goda Sabi.


"Seseorang. Yang pasti bukan anda tuan muda."


"Iyakah?" goda Sabi lagi.


Zulaikha semakin keki dan malu untuk melihat Sabi yang terus menggodanya. Hingga membuatnya lagi - lagi tersudut, menunduk malu.


Otaknya seperti beku. Tidak ada alasan yang bagus terlintas dipikirannya. Lagian kenapa juga dia harus terlena dalam senyuman itu. Lihat, dampak dari itu semua dia harus berfikir mencari alasan yang bagus agar tuannya itu tidak semakin menggodanya.


Ayo berpikir Lai... pikir, pikir..


"Kenapa diam? malu yaa..?" Goda Sabi lagi dengan sunggingan senyum yang masih belum hilang dari bibirnya.


"Tuan muda, atau jangan - jangan anda yang menyukai saya?"


Sebuah ucapan akhirnya terungkap dari mulut kecilnya.


Astagah.. apa yang barusan kamu katakan Lai. Bodoh! bodoh! bodoh!


Sebuah jantungpun berdegup kencang tak karuan. Ada rasa takut dan juga malu atas apa yang dikatakannya. Apalagi melihat ekspresi Sabi yang tiba - tiba datar, lalu menaikkan sebelah alisnya. Seperti menunjukkan ekspresi tak suka.


Habislah kamu Lai...


""Hahahaa..." Sebuah tawa tiba - tiba terdengar nyaring memenuhi rongga telinga Zulaikha.


Apa ini? kenapa dia ketawa? Apakah dia akan memecatku?!


"Hey.. apakah otakmu sudah pindah tempat ke lutut hah?" Ucap Sabi menyentuh jidat Zulaikha dengan jari telunjuknya.


"Hah?!" mata Zulaikha membulat, melihat tangan Sabi yang mendarat tepat di jidatnya.


Jantungnya semakin berdebar. Segera digelengkan kepalanya, agar jari telunjuk itu lepas dari jidatnya dan berusaha menghindar dari tatapan mata Sabi.


"Bisa - bisanya seseorang sepertiku akan menyukai wanita sepertimu." sambungnya, diiringi dengan gelak tawa.


"Tidak mungkin!" sambungnya lagi, tegas dengan senyuman yang masih belum lepas dari bibirnya.


Iya tuan muda, anda tidak mungkin menyukai saya. Saya tau itu tidak mungkin, dan kata - kata bodoh itu. Itu hanya sebuah kata pengalihan tuan muda. Zulaikha hanya bisa menunduk malu sambil mengutuk dirinya yang bodoh karena telah mengeluarkan kata - kata yang sama sekali tidak berbobot.


"Kamu baper yaa?!" goda Sabi lagi.


"Hah?! tidak tuan muda.. tidak!" segera Zulaikha mengangkat wajahnya, lalu melakukan pembelaan dengan menggeleng - gelengkan kepalanya. Berusaha meyakinkan Sabi yang terus menggodanya.


Yang meskipun awalnya Sabi tidak suka dengan keberadaan Zulaikha. Namun sekarang, terlihat perlahan - lahan dirinya telah menerima kehadiran Zulaikha tanpa dia sadari.


"Rupanya kalian sudah akrab yaa?!" ucap Zayn yang tiba - tiba muncul entah kapan dan darimana.


Seketika Sabi dan Zulaikha saling menjauh satu sama lain dan saling membuang pandangan, malu. Seolah - olah mereka tengah tertangkap basah saat sedang berpacaran.


"Kenapa berhenti? lanjutkan keakraban kalian. Kan kalau begitu bagus, jadi usahaku dalam memilihnya menjadi sekertarismu tidak sia - sia." Sambung Zayn memecahkan kecanggungan diantara Sabi dan Zulaikha.


"Apa maksudmu mengatakan itu?! keakraban? Ciih.. aku masih tidak menyukainya." kelak Sabi melirik Zulaikha kesal.


"Dasar... sudah tertangkap basah, masih belum mau jujur." Ucap Zayn sambil melemparkan sebuah map di atas meja, tepat di depan Sabi dan Zulaikha berdiri.


"Sekarang kekhawatiranku pada kalian berdua telah hilang. Silahkan lanjutkan, tapi jangan lupa hadir tepat waktu di agenda rapat sebentar." Sambung Zayn datar, lalu berlalu pergi begitu saja.


"Apa? tertangkap basah?!" seru Sabi.


"Yaa.!!! kamu pikir aku sedang melakukan apa tadi dengan dia hahh?!" teriak Sabi, jengkel.


Zayn tetap tidak goyah, dan tetap pergi begitu saja tanpa menghiraukan Sabi yang berkoar - koar dibelakangnya.


"Dasar otak fulgarr!" teriaknya lagi.


"Tuan muda sudah.." ucap Zulaikha berusaha menenangkan Sabi.


"Ini lagi satu, kamu kira aku sudah menerimamu jadi sekertarisku hah?! pergi sana! keluar dari ruanganku!" bentak Sabi dengan sedikit berteriak di depan Zulaikha.


"Ii.. iya tuan muda. ta tapi_"


"Tapi tapi apa hah?!"


"Tapi sebentar lagi rapat sudah mau dimulai tuan muda."


Mendadak Sabi diam, dan segera melirik jam tangannya.


Sial! kalau aku terlambat bisa - bisa Zayn akan mempermalukanku di depan paman.


"Cepat ambil map itu, dan sediakan segala yang akan kubutuhkan pada saat rapat." Pintah Sabi, lalu segera pergi berlalu meninggalkan ruangan.


Ciih.. tadi main ngusir - ngusir, sekarang malah nyuruh - nyuruh. Ni bos kayak teman saja. Kalau ngga butuh aku dijauhi, giliran butuh. tanpa rasa salah dan dosa main printah. Dasar!


Oh iyaa! Tiba - tiba sebuah tanya terlintas dipikirannya.


"Tuan muda.." panggil Zulaikha, yang kemudian menghentikan langkah Sabi.


"Hm.. apa lagi?"


"Anak laki - laki yang ada di rumah tuan ada berapa?"


Sabi menaikkan keningnya, sedikit berpikir. Seolah penasaran dengan pertanyaan yang didengarnya, Sabi membalikkan badannya menatap gadis itu heran.


"Kenapa memangnya?"


"Tidak tuan muda, saya hanya bertanya." Jawab Zulaikha ragu.


"Jadi ada berapa anak laki - laki di rumah tuan?" tanyanya perlahan dengan perasaan sesikit takut akan dimarahi.


"Tidak ada!" jawab Sabi tegas.


Raut wajah Zulaikha tiba - tiba berubah menjadi sendu mendengar jawaban tegas Sabi. Seolah harapannya semalam tiba - tiba pupus seketika.


"Di rumah tidak ada satu orang pun anak lelaki. Bahkan anak perempuanpun tidak ada! kenapa?" jelasnya tegas.


Apa?!Astagah benar, dasar bodoh! kenapa bertanya menggunakan kata anak lelaki, jelas - jelas pasti dia sudah dewasa. Seperti tuan Sabi. Gumam Zulaikha menyadari pertanyaannya salah. Membuatnya merasa lucu sendiri atas apa yang diucapkannya.


Tunggu... Berarti dia sudah dewasa? dewasa seperti tuan Sabi? Jadi.. Apa anak itu adalah_ Matanya membelalak melihat Sabi dari ujung kaki sampai ujung kepala. Seolah tidak percaya atas apa yang dipikirkannya.


Seorang anak lelaki yang selama ini dia cari keberadaannya, anak lelaki yang selama ini dia tunggu - tunggu kabarnya, anak lelaki yang selama ini membuat masa kecilnya dipenuhi rasa rindu akan sosok hadirnya. Dan sekarang apakah benar anak lelaki itu yang sedang berdiri didepannya saat ini?!



Deg!


Bersambung...


 


Seorang anak kecil dengan rambut panjang berwarna hitam, terikat dengan rapihnya. Terlihat berjalan, menyusuri jalanan kampung yang sepi dengan jinjingan kue di kedua tangannya.


Dengan rasa haus memenuhi rongga dadanya, rasanya dia ingin segera pulang ke rumahnya untuk beristirahat. Namun belum satupun kue miliknya terjual. Tidak mau pulang dengan tangan kosong, anak perempuan itu terus berjalan sambil sesekali berteriak 'Kue kue' sambil dibubuhi sebuah nada, agar orang - orang yang mendengarnya merasa tertarik.


Sebuah mobil sedan hitam melintas, mengibaskan rambut panjangnya. Sesaat kemudian mobil sedan tadi, mundur kebelakang dan berhenti tepat dimana gadis kecil itu melangkahkan kakinya.


Kaca mobil pun turun perlahan, dan terlihat seorang anak lelaki mengeluarkan kepalanya, menatap gadis kecil itu sambil tersenyum ramah.


"Aku beli kue." ucapnya.


"hah?!" kedua mata gadis itu membalalak, melihat anak lelaki yang sedang menatapnya sambil tersenyum.


Senyuman anak lelaki itu begitu menawan dengan kedua kendis yang menghiasi setiap pipi tembemnya. Tak heran membuat gadis kecil itu sedikit terpana.


"Aku beli yang ini yaah." ucapnya lagi sambil mengambil kue yang dia suka dari balik jendela mobil.


Gadis kecil itu masih tetap diam, dan tak bersuara.


"Nih uangnya." ucap anak lelaki itu sambil memberikan uang seratus ribu.


Segera gadis kecil itu tersadar dari lamunannya.


"Saya tak punya uang kecil."


Anak lelaki itu sedikit berpikir sambil memegangi dagunya. Kemudian dia tersenyum kembali yang memperlihatkan kedua lesung pipinya.


"Kalau begitu itu untukmu. Bye.. Sampai berjumpa lagi." ucapnya riang, sambil menaikkan kaca mobilnya.


"Ta.. tapi.."


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, mobil sedan itu berlalu, meninggalkan gadis kecil yang masih tertegun akan kebaikan anak lelaki yang dijumpainya.


Sebuah senyuman pun terukir di bibir kecil anak gadis itu, yang sekarang tumbuh menjadi gadis dewasa yang biasa dipanggil dengan Zulaikha.