FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
53. Sweet Home



“Tuan muda ... tuan muda ... “ panggil Zulaikha, berusaha membangunkan Sabi yang tengah bermimpi buruk.


Sabi terus mengerang ketakutan dengan tubuh yang basah, dan penuh dengan keringat. Raut wajahnya pucat dan terlihat sangat ketakutan, seolah ketakutan itu telah membelenggu seluruh tubuhnya dan enggan melepaskan tubuh itu dengan mudah.


“Tuan muda ...” Zulaikha mulai berteriak, masih berusaha membangunkan Sabi.


Perasaannya semakin tak tenang karena untuk pertama kalinya dia melihat Sabi seperti ini.


“Aakkhh ... aaaakkh ...” Sabi mengerang dan meraung ketakutan dengan tubuh yang menegang.


Zulaikha pun bisa melihat urat di leher, kepala dan lengan Sabi, muncul sempurna ke permukaan. Memperlihatkan betapa Sabi amat ketakutan dan berusaha melawan mimpi buruknya.


Namun, Sabi tidak pernah bisa untuk melawan mimpi buruknya. Dia masih terus terbelenggu oleh mimpi buruk yang terus membuatnya dihantui oleh rasa takut, resah dan gelisah.


“Apa yang terjadi dengannya?”


Zulaikha mulai panik, dan tidak bisa mengatasi apa yang dilihatnya pagi ini. Segera dia berlari keluar kamar, dan mencari pertolongan.


“Aku harus minta tolong pada siapa?” Zulaikha melirik ke sekitar. Mencari seseorang yang bisa menolong Sabi.


“Ah ... Pak Tri!” Seru Zulaikha, langsung berlari mencari Pak Tri.


Seperti yang diduganya, Pak Tri pasti ada di ruang makan keluarga besar Andi. Disana terlihat seluruh keluarga Andi telah berkumpul dan makan dengan santainya. Sementara PakTri terus berdiri di dekat Nenek, memantau makanan yang disantap oleh Nenek.


“Pak Tri ...” panggil Zulaikha yang tak sengaja dengan suara yang sedikit besar.


Pak Tri hanya menoleh, dan menatap Zulaikha dengan heran. Sementara seluruh keluarga Andi langsung menatap ke arah Zulaikha.


Pak Tri yang melihat seluruh keluarga seperti merasakan terganggu dengan kedatangan Zulaikha yang gaduh, membuat Pak Tri segera menghampirinya dan menatap Zulaikha tajam seakan siap untuk membunuh gadis itu.


“Apa yang membuatmu datang dengan sangat tidak tau diri seperti ini hah?!” Bentak Pak Tri dengan nada yang sedikit berbisik namun dengan tatapan siap membunuh.


Zulaikha yang melihat respon Pak Tri yang begitu marah padanya, membuat mentalnya sedikit menciut takut dan langsung menundukkan pandangannya.


Dirinya kali benar - benar takut pada Pak Tri kali ini, tidak heran kenapa semua pelayan di rumah ini sangat tunduk padanya. Ternyata karena jika marah, Pak Tri bisa menjadi seperti seorang yang bukan Pak Tri yang biasa terlihat diam dan tenang.


“Hey!” Panggil Pak Tri menarik tangan Zulaikha lalu memcengkramnya kuat seolah sengaja melakukan itu untuk membuat Zulaikha mengeluarkan sebuah kalimat.


Zulaikha sedikit meraung kesakitan, remasan tangan Pak Tri pada tangannya benar - benar sakit. Pria besar ini benar - benar tidak memandang gender pria atau wanita. Jika ada bawahannya yang berbuat salah maka akan dia tindaki dengan adil dan sama.


“Pak ... pak ... Tuan muda sabiru ... tuan muda sabiru butuh pertolongan!” Ucap Zulaikha terbata bingung menjelaskan keadaan Sabi.


Seluruh keluarga kembali menatap Zulaikha ketika mendengar nama Sabi disebut. Termasuk Nyonya Sura, pandangannya menatap lurusnpada Zulaikha seakan tak menyukai gadis itu.


“Ada apa dengan tuan muda Andi Sabiru? Katakan!” Pak Tri menambah kuat remasannya pada tangan Zulaikha, hingga membuat gadis itu sedikit berjinjit menumpukan sakit yang dia rasa pada ujung kakinya.


Namun tak bisa dipungkiri, sakit itu tetap terasa hingga membuat Zulaikha sekali lagi mengerang kesakitan.


“Pak ... pak ... dia, dia terlihat seperti sedang tidur ta ... tapi seluruh tubuhnya berkeringat dan menegang.”


“Dia masih seperti itu?” Seru Gio yang tiba - tiba tergelak tawa, melepaskan sendok yang dipegangnya.


Sontak semua mata tertuju pada Gio, termasuk Zulaikha.


Gadis itu sedikit merasa heran dengan ekspresi Gio. Seolah - olah apa yang dialami Sabi, sepupunya adalah hal yang biasa bahkan suatu hal yang lucu. Bahkan Gio sempat - sempatnya mempraktekkan ekspresi wajah Sabi, hingga memancing tawa Paman Andi Syafar dan Nyonya Denisa.


Kenapa mereka menertawakannya?! Gumam Zulaikha, merasa sedih dengan ekspresi dari keluarga Sabi sendiri.


Nyonya Sura menarik nafasnya panjang dan melepaskan sendok makannya dengan perlahan. Ditatapnya Pak Tri dengan mata yang seoalah sedang menahan sebuah amarah dihatinya.


“Tri ...” panggil Nyonya Sura.


Pak Tri segera berbalik dan melepaskan cengkraman tangannya pada Zulaikha.


“Iya Nyonya.”


“Segera cek Sabi dan bangunkan dia.” Ucap Nyonya Sura, lalu bangkit dari duduknya dan keluar dari ruang makan.


Mata Zulaikha terus menyorot Nyonya Zulaikha yang bahkan terlihat begitu tenang tanpa ekspresi hawatir sedikitpun.


Pak Tri menunduk mengerti, lalu pergi menuju kamar Sabi.


“Aku pikir dia sudah berubah ternyata belum.” Seru Gio, mengakhiri kegiatan makannya lalu mendorong piringnya ke depan.


“Dia belum berubah, masih sama seperti itu dan bahkan semakin parah.” Sahut Nyonya Denisa.


Nenek berdiri dari kursinya, dan menatap Gio tanpa ekspresi.


“Tidak ada orang yang sempurna di dunia ini, dan itu adalah kekurangan adikmu. Kamu harus membantunya.” Ucap Nenek, lalu pergi keluar dari ruang makan.


Zulaikha terus diam di ruang makan itu dan terus memperhatikan respon keluarga Andi terhadap Sabi. Dia merasakan sedikit ada yang ganjal dan aneh di rumah ini.


“Ciih ... untuk apa aku membantunya?! Memangnya aku seorang ahli jiwa atau ahli mimpi?! Dasar nenek - nenek bau tanah. Bicara suka ngawur.” Celetuk Gio dengan sombongnya, memangku kedua tangannya di dada.


“Hey ... jangan seperti itu. Dia adalah nenekmu.” Tegur Nyonya Denisa, membelai kepala Gio dengan lembut.


“Apa yang dikatakan oleh Gio, itu benar!” Seru Paman Andi Syafar mengelap mulutnya dengan tisu.


“Anak kita bukan ahli jiwa atau ahli mimpi, jadi untuk apa membantu Sabi. Toh sebentar lagi juga ku lihat dia akan menjadi gila.” Sambung Paman Andi Syafar.


“Hah? Serius?!” Gio mengangatak percaya.


“Iya serius.” Paman mengangguk.


“Kata orang, jika tidak segera ditangani dengan baik akan menimbulkan kerusakan otak.” Sambung Paman.


“Ayah tau darimana?”


Paman Andi Syafar terlihat sedikit berpikir.


“Kamu tidak perlu tau. Intinya, otaknya semakin lama akan semakin rusak.” Jawab Paman simple.


Zulaikha melihat Gio dengan tatapan tak percaya, bahwa ada seorang keluarga yang bahagia jika keluarga lainnya mengalami hal buruk. Gio benar - benar terlihat seperti Iblis dengan tampang malaikat dimata Zulaikha. Sungguh Gio adalah sepupu yang paling buruk di dunia.


Gio mendadak melirik Zulaikha yang ternyata masih berdiri di pintu ruang makan.


“Jadi kamu belum pergi? Hm ... aku harap kamu sudah tau peraturan di rumah ini kalau setiap pelayan di rumah ini harus bisu dan tuli dari segala masalah yang terjadi dalam rumah ini.” Seru Gio, menatap Zulaikha tajam.


“Maafkan saya tuan muda.” Ucap Zulaikha, sambil membungkukkan badannya lalu pergi keluar dari ruang makan.


Waah ... dia benar - benar iblis. Tuan muda harus berhati - hati dengannya. Gumam Zulaikha sambil meninggalkan ruang makan itu dengaj perasaan yang kesal.


Saat hendak naik tangga, tiba - tiba seseorang menarik tangan Zulaikha hingga hampir membuatnya terjatuh.


Zulaikha melirik prang yang menariknya, sedikit syok ternyata orang itu adalah Nyonya Sura.


“Nyonya ...” seru Zulaikha lalu membungkukkan badannya, memberi hormat.


*plak!


Tiba - tiba telapak tangan Nyonya Sura mendarat sempurna disebelah pipi Zulaikha. Meninggalkan belas memerah di pipinya.


Mata Zulaikha membulat sempurna, tak percaya dengan apa yang barusan dia terima. Sebuah tamparan mendadak yang membuat sebelah pipinya seperti keram mendadak.


“Nyonya ...” seru Zulaikha masih memegang pipinya yang ditampar.


Matanya tertunduk, tak berani melihat sosok yang menamparnya.


“Puas kamu?! Puas sudah mempermalukan anak saya di depan keluarga saya?!” Bentak Nyonya Sura dengan nada suara yang berbisik.


Zulaikha memberanikan menatap mata Nyonya Sura yang penuh dengan amarah. Tak seperti biasanya, Nyonya Sura juga sama seperti Pak Tri yang terlihat berbeda ketika marah. Benar - benar menyeramkan.


“Aku tidak akan memaafkanmu lagi jika kamu masih mengulanginya. Jika saja bukan kamu yang menolong anakku setiap malam untuk tidur nyenyak, aku akan langsung memecatmu hari ini secara tidak hormat.” Sambung Nyonya Sura menatap Zulaikha tajam.


“Ma ... maafkan saya Nyonya, sa ... saya tidak mengerti apa kesalahan saya.” Sahut Zulaikha yang mencoba mengerti letak kesalahannya dimana.


Bukankah dia bertindak dengan benar?! Karena telah berbaik hati untuk menolong putranya pagi ini. Jika bukan Zulaikha yang melaporkannya pada Pak Tri, lalu siapa lagi yang akan melakukan hal itu untuk membantu Sabi.


Zulaikha benar - benar bingung dengan sikap semua orang yang ada di rumah ini.


“Apa?! Kamu tidak tau salahmu?! Wah kamu benar - benar membuatku marah pagi ini.” Ucap Nyonya Sura, sambil menarik tangan Zulaikha dengan kasar.


Sekali lagi, tangan Nyonya Sura mendarat disebelah pipi Zulaikha yang lainnya.


Zulaikha hanya bisa menutup mata, menerima tamparan kedua yang Nyonya Sura berikan padanya. Tubuhnya seperti akan runtuh dan air matanya seperti akan mengalir keluar dari pelupuk matanya.


Zulaikha meremas roknya dengan kuat, berusaha kuat menahan semua itu. Bagaimanapun dia tidak boleh menangis di depan Nyonya Sura, sudah cukup kemarin dia ketahuan oleh Queen karena menangis. Orang kaya tidak akan memperlakukanmu dengan baik meskipun mereka melihatmu meneteskan air mata, justru akan merasa semakin berkuasa dan semenah - menah.


“Aku heran kenapa kamu bisa terpilih menjadi sekertaris putraku, dengan otakmu yang kecil seperti udang!” Ucap Nyonya Sura sambil mendorong kepala Zulaikha beberapa kali dengan jari telunjuknya.


Zulaikha semakin memperkuat remasan tangannya pada roknya. Harga dirinya benar - benar tak ada artinya di rumah ini. Dia harus kuat bertahan, jika tidak, dia akan ambruk menangis dan membuat dirinya akan semakin dipermalukan.


“Awas kamu yah! Jangan berani - berani kamu bertindak seperti pagi ini. Jika kamu masih belum mengerti dengan apa yang aku katakan, maka segera angkat kakimu dari rumah ini. Aku bisa mendapatkan sekertaris yang 10 kali lebih baik daripada kamu.” Imbuh Nyonya Sura, dengan sekali lagi mendorong kepala Zulaikha dengan sedikit lebih kuat, hingga membuat Zulaikha hampir jatuh jika saja gadis itu tidak berpegang pada tangga.


Zulaikha meremas pegangan tangga dengan kuat, menahan segala yang dia rasakan pagi ini. Matanya terlihat memerah menahan air mata yang sedari tadi ingin jatuhdan terus melihat Nyonya itu pergi dengan sombongnya, seolah tidak terjadi apapun setelah memperlakukannya dengan buruk.


...........


Sabi keluar dari kamarnya dan sudah terlihat rapih dengan jasnya.


“Tuan muda, silahkan ke ruang makan. Anda harus sarapan terlebih dahulu.” Ucap Pak Tri mengingatkan Sabi.


Namun Sabi enggan melangkahkan kakinya, saat melihat dibawah tangga ada Ibunya dan juga Zulaikha yang hampir jatuh akibat didorong Ibu.


Jujur saja dimata Sabi, Zulaikha terlihat sangat menyedihkan pagi ini, karena diperlakukan seperti itu olej Ibunya. Namun Zulaikha akan terlihat semakin menyedihkan jika dia muncul disana, meskipun hanya sekedar lewat.


“Tuan muda ...” panggil Pak Tri.


Sabi mengangkat tangannya, memberi simbol untuk berhenti bicara.


Dia hanya belum mau turun, mengingat perasaan gadis itu akan semakin terluka jika Zulaikha tau bahwa dia melihat dirinya diperlakukan dengan buruk.


Dengan sabar, Sabi menunggu dan tetap diam di depan pintu kamarnya. Jika jadi Zulaikha, mungkin Sabi juga akan merasakan sangat malu. Harga dirinya seolah tak ada artinya di rumah ini.


Kaki Zulaikha terlihat bergetar dan berusaha berdiri dengan pundak yang juga ikut bergetar karena tak mampu menahan tangisannya. Sabi yang melihat semua itu, segera mengalihkan pandangannya. Tak tahan melihat betapa menyedihkannya Zulaikha pagi ini.


“Sepertinya aku takkan sarapan hari ini.” Ucap Sabi dengan nada yang berbisik.


“Tapi tuan muda_”


“Aku akan sarapan di kantor.” Sergah Sabi, memotong ucapan Pak Tri.


Sabi memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Dia berusaha tuli dan buta pada pemandangan yang dilihatnya pagi ini. Serta tetap menunggu sampai sekertarisnya itu merasa lebih baik setelah mengeluarkan semua air matanya.


Dibelakang, Pak Tri terlihat sedikit tersenyum melihat kemurahan hati Sabi pada Zulaikha. Dia tahu bahwa Sabi lebih baik daripada Gio, jika soal kebaikan. Hanya saja, lelaki paruh baya itu menahan pujiannya dalam hati agar dia tetap terlihat netral pada seluruh keluarga ini.


Pak Tru kembali melirik ke arah Zulaikha yang terlihat telah mengusap air mata yang jatuh di pipinya.


“Tuan muda ... sepertinya anda sudah boleh lewat. Anda akan sangat terlambat jika menunggu lebih lama lagi.” Ucap Pak Tri, mengingatkan Sabi.


“Ah benarkah?!” Seru Sabi, mengalihkan pandangannya dari pintu kamar Queen yang masih tertutup.


“Hmm ... apakah Queen pulang semalam?” Imbuh Sabi.


“Tidak tuan. Sampai pagi ini, Nona Queen belum terlihat pulang ke rumah.” Sahut Pak Tri.


Sabi mengangguk mengerti dan melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.


Saat benar - benar berpapasan dengan Zulaikha, Sabi tidak menengoknya sedikitpun. Namun Sabi bisa merasakan gerakan Zulaikha yang langsung berdiri tegap dan mengikuti belakangnya.


Bersambung ...