
"Tuan Zayn..." Panggil Zulaikha sembari menghapus air matanya.
Langkah kaki Zayn pun terhenti, kemudian seulas senyuman tergores di wajah tampannya.
"Ada apa?" tanyanya sambil berbalik, melihat Zulaikha dengan keadaan mata yang basah.
Sampai segini skali kamu memikirkan lelaki bodoh itu dan saudara perempuanmu?! Seharusnya kamu memang harus memilih saudara perempuanmu dibandingkan lelaki bodoh itu. Gumam Zayn yang nampak terkejut melihat mata Zulaikha yang basah.
"Apa yang bisa meyakinkanku jika tuan benar - benar memiliki informasi mengenai saudara perempuan saya?" tanya Zulaikha.
"Hey.. Apa kamu meragukan tuan Zayn?" teriak Ridwan dari belakang Zayn, yang rupanya mulai naik darah mendengar ucapan Zulaikha.
Segera Zayn mengangkat tangannya, memberi isyarat pada Ridwan agar diam dan segera, Ridwan langsung diam seperti kucing yang disiram air.
"Dia.. adalah saudara kembarmu." jawab Zayn tenang.
Apa?! Mata Zulaikha membelalak kaget dan tidak percaya akan apa yang didengarnya.
Selama ini tak seorang pun di kota ini, ada yang tau jika dia memiliki saudara kembar. Terkecuali orang - orang di desanya. Itupun hanya segelintir orang yang tau dan itu hanya tetangga rumah mereka yang ada di gunung.
Kehidupan mereka begitu miskin. Saking miskinnya, ayah mereka hanya mampu menyekolahkan satu anak saja. Hingga mereka berdua memakai identitas yang sama demi bisa bersekolah, lalu mereka akan berganti - gantian masuk sekolah. Hingga orang - orang desa hanya tau bahwa hanya anak bernama Zulaikha lah yang bersekolah. Sementara anak yang satu selalu menyamar sebagai Zulaikha jika di sekolah.
"Ba bagaimana bisa_" ucap Zulaikha terbata.
"Aku kan sudah bilang, aku adalah bosmu yang sesungguhnya. Ketika aku memilihmu sebagai karyawanku, maka tak ada satu hal tentangmu yang tidak ku ketahui." Zayn memotong ucapan Zulaikha.
"Apa anda memata - mataiku?"
"Hm.. anggaplah begitu." jawab Zayn enteng.
"Jadi bagaimana? aku tidak bisa berlama - lama disini untuk menyaksikan wajah kagetmu itu. Masih banyak hal yang harus ku urus. Termasuk membereskan pekerjaan yang tidak bisa tuan mudamu itu lakukan." Beber Zayn mengerutkan sedikit dahinya.
"Baik. Aku menerima tawaran anda tuan." ucap Zulaikha berusaha yakin, bahwa keputusan yang dia ambil sudah benar.
"Baiklah.. keputusan yang bijak." Balas Zayn, sembari meninggalkan Zulaikha yang masih mematung meyakinkan dirinya.
Apakah keputusanku ini sudah tepat? Apakah aku bisa percaya padanya? Tuhan.. semuanya kuserahkan padamu. Gumam Zulaikha menatap punggung Zayn yang mulai menjauh darinya.
..........
Kala itu matahari baru saja kembali ke tempatnya. Begitupun Zulaikha, kali ini dia pulang lebih cepat dari biasanya. Diliriknya aprtemen sederhana tempat dia berteduh dari teriknya matahari dan dinginnya hujan dan malam.
Segera dia masuki apartemen itu sambil menarikkan nafas, agar terlihat tegar di depan ayahnya.
Dia pun masuk kedalam apartemen, disana dia mendapati orangtua satu - satu miliknya yaitu ayahnya yang tengah duduk di depan tv sambil menonton acara tv kesukaannya.
"Aku pulang.." kata Zulaikha sembari melepaskan sepatu dan tasnya.
Ayahnya yang bernama Joseph, sama skali tak menyaut salam dari putri tunggalnya. Dia hanya melirik Zulaikha dari sofa, lalu kembali melirik tv yang ada di depannya.
"Acaranya bagus yah pa?" tanya Zulaikha antusias.
"Hm.." jawab pak Joseph.
Zulaikha mendudukkan dirinya di atas sofa, bersampingan dengan ayahnya. Dilirik lagi lelaki paruh baya itu, yang kulitnya telah banyak berkeriput.
Kerja kerasnya selama di desa dulu, membuat kulitnya mengalami banyak kerutan karena selalu terpapar matahari.
Melihat hal itu, hati Zulaikha kembali bersedih. Mengingat ayahnya yang semakin menua namun dirinya belum mampu membuat ayahnya bahagia sebagaimana impiannya selama ini.
"Pa.." panggil Zulaikha.
"Hm.." jawab pak Joseph.
"Papa besok ngga usah kerja yaa, biar Lai aja yang kerja. Kan Lai sekarang udah kerja. Jadi, papah di rumah aja. Istirahat gitu.." Bujuk Zulaikha, menggandeng manja lengan ayahnya.
"Tidak, papa nda mau. Papa tetep nak kerje. " pak Joseph menolak.
"Pa..."
"Papa nda mau Lai. Mau sekeras ape kamu nak pakse bapak. papa tetep kerje!" tolak pak Joseph keras.
"Papa istirahat aja.. gaji Lai lumayan banyak kok pa.. lebih dari cukup malahan.." Zulaikha masih tetap berusaha membujuk.
"Ini bukan cume persoalan gaji atau cukup tak cukup uang kite. Tapi papa tetap nak kerja, siapa tau saje esok atau luse papa bisa ketemu Zu." pak Joseph bersikeras menolak tawaran Zulaikha.
Mata Zulaikha mulai berkaca - kaca mendengar ucapan ayahnya. Dia sangat tak tega melihat orangtua satu - satu miliknya harus terus bekerja hingga di usia tuanya. dan mendengar bahwa ayahnya masih saja terus berharap bertemu dengan saudara kembarnya yang hilang, membuat hatinya semakin pilu.
Jika saudara kembarnya masih hidup dan bisa ketemu, itu bagus. Karena usaha ayahnya membuahkan hasil. Namun bagaimana jika saudara kembarnya telah tiada?! Apakah ayahnya harus terus bekerja sebagai tukang sapu jalanan seumur hidupnya, hingga maut menjemput ajalnya.
Tentu saja itu sangat menyakitkan bagi dirinya sebagai seorang anak yang terus mengamati ayahnya setiap hari.
"Pa.. tidak usah dipikirkan kak Zu. Kan dokter bilang, papa ngga boleh banyak berpikir. Nanti papa bisa sakit." Bujuk Zulaikha lagi, berusaha menahan air matanya.
Segera pak Joseph menepis tangan Zulaikha yang dari tadi menggandeng lengannya.
"Ape?! nda usah dipikirkan katamu?! Dia saudarimu! bagaimana bisa kamu setega itu same dia?!" Bentak Pak Joseph geram.
"Kamu disini bisa makan, tidur enak, sekolah, kuliah lalu kerja di tempat yang bagus. Sedangkan.. dia.. Zu.. tidak tau dimana sekarang, sedang ape, masih hidup keh atau tak! tak ade yang tau!" imbuh pak Joseph yang mulai mengalirkan air mata kesedihan bercampur rindu.
"Mamak kau saje sampai akhir hidup dia, terus memikirkan Zu. Bagaimana saya yang bapaknye.?! pikir ituu!" sambung Pak Joseph, berteriak mengeluarkan semua amarahnya.
"Pa.. sudah paaa!" ucap Zulaikha dengan sedikit berteriak.
"Lai akan berusaha menemukan kak Zu. Lai janji. Lai akan menemukan kak Zu, apapun yang terjadi. Tapi papa janji, untuk sementara ini jangan dulu mengingat kak Zu." tutur Zulaikha yang membiarkan air matanya mengalir.
"Papa nda butuh janji Lai, sudah banyak orang berjanji pada papa namun semuanye bohong Lai." Bentak pak Joseph yang mulai frustasi mengingat kenangan dulunya yang sering ditipu.
Zulaikha yang melihat keadaan ayahnya yang mulai frustasi, segera memeluk erat ayahnya agar tidak menjadi depresi dan semakin tertekan akan kenangan dulunya.
"Pak.. sudah pak. Lai sudah bertemu dengan orang yang tepat." ucap Zulaikha mengelus punggung ayahnya lembut.
"Dia orang yang akan memberitahu informasi tentang kak Zu." Imbuhnya lembut, sambil meneteskan air mata.
"Jadi, papa jangan dulu ingat kak Zu ya.. Papa harus terus sehat, biar bisa dengar kabar tentang kak Zu." Sambungnya berusaha tegar.
..........
Di dalam mobilnya yang mewah, Zayn bersama dengan sekertaris setianya pergi ke suatu tempat. Namun sepertinya tempat yang mereka kunjungi merupakan tempat resmi, karena mereka pergi masih tetap mengenakan setelan jas yang rapih seperti biasanya.
Zayn yang duduk di kursi belakang, terlihat terus mengotak atik ponselnya tanpa menghiraukan Ridwan yang sudah beberapa kali bertanya padanya.
Segera Ridwan membunyikan klakson dengan sangat kuatnya, hingga terdengar oleh Zayn.
"Ada apa denganmu Wan?" tanya Zayn yang masih menatap layar ponselnya.
"Seharusnya saya yang bertanya, anda yang kenapa tuan Zayn?" Ridwan malah balik bertanya.
"Aku? aku tidak apa - apa." jawab Zayn enteng dan masih belum melepaskan pandangannya dari ponsel.
"Dari tadi anda terus melihat ponsel tuan, tidak seperti biasanya anda begitu dan saya tau anda bukanlah pecandu gadget." ucap Ridwan risau.
"Oh.. tidak apa - apa. Aku hanya melihat berita saja." saut Zayn.
"Apakah kutu dan tuan muda Sabi mengganggu pikiran anda?!"
"Apa kutu? siapa kutu?" tanya Zayn penasaran dan mulai melepaskan ponselnya.
"Itu.. yang tadi itu. Asisten pribadi tuan muda Sabi." jawab Ridwan bersemangat.
"Oh Zulaikha." seru Zayn.
"Kutu? kenapa harus kutu?" tanya Zayn penasaran.
"yaa karna badannya kecil aja gitu kayak kutu." jawab Ridwan diselingi gelak tawa.
"Kamu ada - ada aja kasih nama panggilan ke orang. Ada kutu, ada ulat, ada bebek sawah. Pecinta binatang sekali kamu, sampai orang pun kamu ubah namanya jadi binatang." kata Zayn, kembali mengotak - atik ponselnya.
Ridwan hanya tertawa mendengar ucapan bosnya itu.
Meskipun Ridwan di kantor adalah orang yang sangat sadis dan kejam. Namun jika dia bersama dengan temannya dia bisa jadi orang yang paling akan sering tertawa. Karena pada dasarnya dia adalah orang yang humoris. Hanya saja, entah kenapa. Ketika dirinya masuk di perusahaan itu. Seolah - olah senyumnya itu sangatlah mahal. Dasar Ridwan.
"Tuan Zayn.." panggil Ridwan lagi.
"Hm.. kenapa?" tanya Zayn.
"Aku penasaran, bagaimana tuan bisa tau kalau tuan muda Sabi sedang tidak baik - baik saja.? Hingga anda memaksa si kutu itu untuk jujur?!" tanya Ridwan penasaran.
"Oh itu.."
"Sebenarnya aku tidak tau kalau Sabi sedang kesakitan. Aku hanya iseng menanyakan kabarnya, dan ketika sekertarisnya menjawab, kulihat ekspersi wajahnya seperti berbohong. Jadi ku paksa dia, sampai dia berkata jujur." Sambungnya.
"Wiiih.. hebat! ternyata anda selain cerdas, tapi bisa membaca mimik wajah ya tuan." puji Ridwan, tersenyum senang.
"Itu perlu wan, agar kamu tidak akan tertipu lagi.." saut Zayn dengan raut wajah sendu.
Seolah ada makna yang tersimpan dibalik ucapannya. Zayn menampakkan bahwa dirinya juga pernah ditipu dan merasakan sakit yang mendalam di batinnya.
"dan.. kejadian na'as tidak akan terulang kembali." sambungnya lirih.
Ridwan mengamati mimik wajah tuannya dari kaca spion. Terlihat raut wajah Ridwan pun ikut berubah, sama halnya dengan Zayn. Seolah dia juga bisa merasakan apa yang Zayn rasakan.
"Tuan.. kita sudah sampai." Akhirnya Ridwan memecahkan kesunyian setelah beberapa menit yang lalu mereka saling terdiam.
Ridwan segera keluar dari mobil dan langsung membukakan Zayn pintu. Zayn pun segera berdiri dan keluar dari mobil. Namun tanpa dia sadari ternyata ponsel yang sedari tadi dia letakkan dipahanya, terjatuh saat dia hendak turun dari mobil.
Ridwan yang menyadari hal itu, segera mengambil ponsel itu.
"Astagah hp nya jatuh dan dia tidak rasa. tuan Zayn tuan Zayn.." Ridwan menggeleng - gelengkan kepala, sembari membersihkan ponsel tersebut dari serpihan debu jalanan.
Namun siapa sangka, ternyata layar ponsel Zayn masih menyala dan terlihat sebuah foto dua orang anak remaja, laki - laki dan perempuan yang sedang duduk bersebelahan. Tersenyum tanpa beban, melihat ke kamera sambil mengangkat kedua jari mereka, memberi tanda piece.
"Hey.. ini tuan Zayn? ternyata dia sudah tampan sejak kecil yaa." seru Ridwan, tersenyum melihat wajah Zayn saat remaja.
"Eh.. gadis yang disebelahnya kok kayak ngga asing ya.." imbuh Ridwan mengamati anak perempuan yang ada di sebelah Zayn.
Bersambung...