
Setelah bekerja setengah hari di kantor, Sabi pulang dengan wajah kusut seperti ditekuk. Diliriknya pintu kamar Queen yang tertutup, diliriknya lagi Zulaikha yang sedari tadi menemaninya seharian.
“Mungkin nona Queen sedang beristirahat, karena tadi dia pulang duluan.” Seru Zulaikha.
“Aku tidak bertanya tentang dia.” Ketus Sabi, tambah badmood dengan keadaan.
“Saya minta maaf tuan.”
“Pergi sana, istirahatlah..” usir Sabi, mulai menaiki anak tangga.
“Baik tuan mu_”
“Eh.. tidak. Selesai kamu mandi dan ganti baju, ke kamarku sebentar.” Ucapnya lalu berlari menuju kamarnya.
Tadi disuruh istirahat, belum juga berapa menit bahkan baru beberapa detik dan dia sudah berubah pikiran. Dasar! Keluh Zulaikha yang hanya bisa mengeluh dalam hati sambil melihat punggung Sabi dari jauh.
Hari semakin larut, bulan dan bintang semakin memancarkan sinarnya. Anjing mulai melolong merdu, membuat suasana malam hari di rumah keluarga besar Andi semakin terasa sunyi.
Di balkon, terlihat Sabi tengah memainkan handphone nya dan membuka sebuah pesan yang dikirim oleh John. Rupanya John tengah makan malam bersama dengan psikiater yang pernah mereka temui lalu.
“Dasar John..” seru Sabi terkekeh melihat senyum khas John yang berfoto riang bersama dengan psikiater cantik.
Melihat wajah psikiater cantik itu, membuat pikiran Sabi kembali teringat akan kata-katanya dulu. Itu membuat perasaannya menjadi gelisah.
Bagaimana jika dia tidak bisa sembuh? Bagaimana jika dia akan terus-terusan bermimpi buruk selama sisa hidupnya? Dan apakah suatu saat nanti dia akan menjadi gila? Apakah dia akan dibuang?
Ya Tuhan...
Sabi bergidik ngeri membayangkan dirinya di masa depan.
Dia pasti menjadi aib terbesar di keluarga Andi.
“Tuan muda..”
Suara Zulaikha mengagetkan Sabi dari pikirannya. Segera dia berbalik dan melihat Zulaikha masuk dengan canggung ke dalam kamar.
“Masuklah..” Sabi berjalan menghampiri Zulaikha. “Mumpung kamu disini, aku ingin kamu menolongku.” Sabi menarik tangan Zulaikha menuju ke sebuah tempat tidur.
“Tu tuan muda.. anda sedang apa?”
Gadis polos itu rupanya terlihat sedikit ketakutan, melihat dirinya dibawa ke sebuah tempat tidur oleh seorang pria.
“Hey.. apa kamu sedang berpikir kotor tentangku?”
“Ti tidak tuan muda.. tapi.. hmm..” Zulaikha menggigit bibirnya, bingung ingin mengeluarkan kata-kata yang ada di kepalanya.
“Singkirkan pikiran kotormu itu! Aku hanya minta pertolonganmu sedikit saja.”
“Hmm? Mi minta tolong apa tuan?”
Sabi merebahkan badannya di atas tempat tidur miliknya, dirinya lalu membungkus tubuhnya perlahan dengan selimut putih yang hangat. Dengan keadaan telentang, Sabi mulai menutup matanya perlahan.
“Sekarang bernyanyilah untukku, sampai aku tertidur.” Ucapnya.
“Ha? Bernyanyi? Tapi saya tidak pandai bernyanyi tuan..”
“Kalau begitu lalukan saja seperti terakhir kali yang pernah kamu lakukan padaku.” Sabi mengerutkan alisnya kesal.
“Hmm.. baiklah.” Saut Zulaikha sedikit kaku.
Zulaikha mulai gelagapan dan bingung harus bagaimana, karena jujur bukan dialah orang yang menemani Sabi malam itu. Dia hanya kebetulan datang disaat itu dan Sabi sudah mengira bahwa dirinya lah yang bersama dengan Sabi. Tapi jika Sabi tidak menganggap orang itu adalah dirinya, maka Sabi tidak mungkin akan sebaik ini pada dirinya.
Dengan ragu dan kaku, Zulaikha mulai membuka mulutnya untuk bernyanyi. Namun baru saja dimulai, Zulaikha mendengar sebuah dengkuran tak jauh dari tempat dia duduk. Diliriknya asal suara itu, dan benar. Suara dengkuran itu adalah suara dengkuran Sabi yang sudah tertidur pulas.
Syukurlah.. akhirnya dia tertidur, jadi aku tidak perlu repot-repot menyanyi untuknya.
Dipandanginya wajah bosnya itu. Terlihat tampan dan juga polos. Dia terlihat sangat tenang saat tidur.
Apakah kamu benar-benar bukan anak itu? Entah kenapa aku yakin anak itu adalah anda tuan. Hanya saja.. jika anda benar anak itu, kenapa anda tidak mengenaliku?
“Tuan muda..” Sapa pak Tri yang tiba - tiba muncul.
“Eh.. kamu?!” Seru pak Tri sedikit heran melihat kehadiran Zulaikha yang ada di samping tempat tidur Sabi.
“Eh.. iya pak. Saya tadi dipanggil tuan muda.” Jawab Zulaikha kaku, entah mengapa dirinya merasa seperti sedang ketahuan pacaran oleh ayahnya. Wajah Zulaikha langsung bersemu malu.
“Aah.. begitu. Saya kemari hanya ingin menyampaikan sesuatu pada Tuan muda. Namun Tuan muda sudah tertidur.
“Haruskah saya membangunkan Tuan muda, Pak?” Tanya Zulaikha polos.
“Eh.. jangan! Biarkan dia tidur dengan tenang.” Cepat Pak Tri menolak saran Zulaikha yang baginya itu sangat berbahaya. Karena tidak mudah bagi Sabi untuk tertidur tenang.
“Jika urusanmu sudah selesai dengan Tuan muda, jangan lupa melapor padaku.” Sambung Pak Tri sebelum meninggalkan kamar Sabi.
Zulaikha kembali memandangi wajah Sabi. Ditatapnya setiap lekukan diwajah lelaki itu. Mencoba mencari persamaan dengan wajah anak kecil yang ada diingatannya.
Jika dilihat - lihat mereka terlihat sama. Mulai dari mata dan lesung pipi. Tapi kenapa dia tidak mengenaliku?! Padahal wajahku tidak berubah drastis antara dulu dan sekarang.
Zulaikha menggeleng - gelengkan kepalanya. Berusaha menyingkirkan pertanyaan yang selalu terbesit di pikirannya.
“Hey.. jika kamu benar anak itu, maka ingatlah. Aku adalah anak kecil penjual kue yang sering kamu beli dulu. Kamu juga pernah membeli kueku dengan uang 10ribu, tapi yang kamu ambil hanya 1. Setelah itu kamu langsung pergi. Setelah itu juga, aku langsung menganggapmu seperti seorang malaikat.” Ucap Zulaikha dengan mata berbinar.
Rasanya dia sangat senang menceritakan sepotong kenangan masa kecilnya pada orang yang dia anggap anak kecil itu. Meskipun orang itu sama sekali tidak mendengarnya.
“Tuan muda.. saya pamit.” Ucapnya lagi, lalu pergi meninggalkan kamar Sabi.
...........
Sementara itu, di kamar sebelah.
Queen yang habis meminum beberapa obat, terlihat menahan mual menahan pahitnya obat yang barusan dia telan.
“Aishh.. pait sekali.” Keluhnya dengan suara bergetar.
“Seharusnya tadi aku tidak memakan makanan itu.” Sesalnya mengingat makanan di Cafe siang tadi.
“Kenapa juga mereka memesan makanan tanpa bertanya apapun kepadaku dulu?! Kenapa mereka begitu sok tau skali apa makanan yang pantas untuk aku makan dan tidak?! Stupid!!!” Keluh Queen, kembali meneguk air.
Queen melirik jendela kamarnya yang besar, jendela itu belum tertutup dan angin malam itu membuat tubuh kurusnya menggigil kedinginan.
“Pantas saja dingin, ternyata jendela lupa ku tutup.”
Dia berjalan menutupi jendelanya, saat hendak menutup jendela secara full. Tiba - tiba dia mendengar sebuah suara yang mengganggu telinganya.
“Apa itu?”
Suara samar - samar itu semakin random, dan membuat jiwa penasaran Queen meronta - ronta.
“Oh ****!!!” Makinya jengkel.
Dia membuka kembali jendela besar itu, dan berjalan ke balkon kamarnya. Matanya melirik ke balkon kamar milik Sabi.
“Hey Sabi.. apa yang kau lakukan, hahh?!”
Tak ada jawaban. Hanya suara rintihan yang terus terdengar oleh telinganya.
“Hey.. apa kau sedang menonton porno?!”
Tetap tak ada jawaban.
“Hey... jika kau sedang menontonnya, setidaknya kecilkan volumenya!!! Kamu sangat mengganggu malamku.” Teriaknya lagi jengkel.
“Sial!” Dengusnya jengkel sembari memutar bola matanya.
Kakinya refleks melangkah ke tempat yang membuat hatinya malam itu frustasi. Tanpa sadar, dia telah berdiri di depan pintu kamar Sabi.
“Aiishh.. Apa yang aku lakukan disini?” Keluhnya menendang pintu kamar Sabi, pelan.
Pintu kamar itu ternyata tidak tertutup rapat, sehingga langsung terbuka sedikit ketika Queen menendangnya.
“What? Dia tidak mengunci pintu kamarnya?! Apa dia tidak takut apa diliat orang nonton film porno?!” Queen membungkam mulutnya, terkejut dengan pikirannya.
Seketika, terbesit sebuah ide konyol di kepalanya. Matanya yang sedikit sipit segera melirik kamar Sabi dengan tatapan licik.
Kakinya langsung berjinjit memasuki kamar Sabi, agar tidak memancing perhatian Sabi. Queen lalu mengendap - endap perlahan dibalik guci, lalu segera lagi berpindah dibalik tiang. Berusaha tak terlihat, hingga rencana liciknya untuk mengagetkan serta memergoki Sabi yg sedang menonton film porno.
“Kali ini akan kupergoki, dan kupastikan ini jadi senjata paling ampuh untuk mengancammu disetiap kondisi.” Bisiknya pada dirinya sendiri diselingi tawa geli.
Suara erangan itu semakin jelas dan benar - benar dekat. Pastilah posisinya tepat berada di depan asal suara yang dari tadi dia dengar, pikir Queen.
3.. 2.. 1...
Haaaaa..!!!! Teriak Queen sambil muncul dibalik persembunyiannya.
“Eh?!”
Mata Queen membelalak kaget melihat pemandangan yang berbeda dari apa yang dibayangkannya tadi.
“Bobo?!” Queen menggaruk kepalanya yang tak gatal. Lebih tepatnya dia heran sekaligus malu pada pikirannya yang sangat cabul.
“Ya Ampun.. apa yang aku pikirkan?! Kenapa otakku secabul itu, sampai - sampai aku berpikir kalau manusia bodoh itu lagi nonton porno.”
“Aiishhh..” Keluhnya lagi.
Sementara Sabi di depan Queen masih tertidur dengan keadaan mengerang karena bermimpi buruk. Wajahnya basah penuh dengan keringat, bajunya pun ikut basah.
“Btw.. apa yang terjadi dengannya? Apakah dia bermimpi buruk seperti kemarin?” Queen mulai mendekati Sabi secara perlahan.
“Lah iya.. kayaknya dia bermimpi buruk.” Queen semakin mendekatkan dirinya, memperhatikan Sabi dengan teliti.
“Stupid!” Maki Queen.
Queen pergi mencari handuk kecil di lemari - lemari kecil milik Sabi, setelah itu dia kembali ke tempat tidur Sabi. Diamatinya lagi lelaki malang itu.
“Stupid!” Makinya lagi.
“Aku tau kamu punya agama dan Tuhan. Jadi seharusnya sebelum tidur kamu berdoa dulu, biar tidak mimpi buruk seperti ini.” Ucapnya sambil mengelap pelan keringat di wajah Sabi.
“Dasar stupid!” Makinya lagi.
Diraihnya remot Ac yang ada di atas bufet. Dia lalu menurunkan suhu Ac agar Sabi tidak kegerahan.
“Tidak.. jangan pergi!!!” Ucap Sabi lirih.
“Eh? What?!” Seru Queen melirik Sabi yang mengigau.
Kepala Sabi mulai bergerak ke kiri dan ke kanan, terlihat sangat gelisah. Raut wajahnya pun semakin terlihat berkerut, gelisah, takut sekaligus sedih secara bersamaan.
“Hey dude.. what happend with you?!”
Refleks Queen menyentuh bahu Sabi.
“Kamu sedang mimpi apa sampai seperti ini?! Ini bahkan sudah kedua kalinya, aku melihatmu seperti ini.”
Queen menggoyang - goyangkan bahu Sabi berusaha menyadarkan Sabi dari tidurnya. Tapi bukannya sadar, tangan Sabi justru refleks memegang tangan Queen.
“Eh?!” Seru Queen yang sedikit terkejut.
“Zuu..” ucap Sabi lirih.
“Zuu?! Whos that?!” Seru Queen lagi.
Sabi meraung - raung tidak jelas, dan tampak sangat gelisah dan juga ketakutan.
“Aarrghh.. oke ini yang terakhir. Lain kali kamu harus berterima kasih padaku. Oke?!” Ucap Queen melirik Sabi dengan tatapan iba.
Kedua tangan Queen menangkup tangan Sabi yang diletakkan ditangannya tadi. Queen menepuk - nepuk tangan itu lembut, dan mulai bersenandung merdu sama seperti kemarin yang dia lakukan.
Raut wajah gelisah dan juga ketakutan yang sedari tadi terlukis di wajah Sabi, perlahan mulai terhapus berubah menjadi tenang.
Queen melirik raut wajah Sabi yang mulai tenang. Melihat Sabi yang mulai tenang, membuat hatinya teduh karena senandungnya yang tidak jelas mampu menenangkan seseorang. Sebuah senyumpun terukir di wajah gadis itu.
Meskipun senyum itu hanya bertahan beberapa detik, karena sebuah memori tentang kenangan dulu tiba - tiba terlintas di pikirannya.
Bagaikan film lama yang diputar kembali. Posisi, waktu dan pemain dalam kenangan itu tidak pernah dilupakannya sedikitpun. Kenangan tentang seorang anak lelaki, yang tengah bersenandung untuk dirinya yang masih sangat muda tengah terbaring
lemah tak berdaya penuh luka, hampir setengah tubuhnya termasuk wajahnya.
Luka yang membuatnya kesakitan hingga sulit untuk tertidur, membuatnya begitu menderita. Hanya anak lelaki itu yang menemaninya dengan nyanyian senandung sepanjang malam. Tanpa tidur terus menemaninya merasakan sakit yang dia rasakan.
Queen yang saat itu bernostalgia tentang masa lalunya, tak terasa bahwa senandung yang dia bawakan berubah nada menjadi lebih melow dari yang biasanya. Terdengar sedih beriringan dengan suasana hatinya.
Pintu kamar yang tadinya sedikit terbuka, kini telah ditutup rapat dari luar. Queen yang terbawa suasana dengan nostalgianya, tidak memperhatikan bahwa seseorang telah menutup pintu kamar Sabi dari luar.
...Bersambung.......
Jangan lupa like dan coment berikan saranmu yah😁 terimakasih 😄✌🏾