FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
34. Dejavu



Zulaikha sampai di seberang jalan tempat Sabi dan Queen, sambil menjinjing sepatu Queen yang tertinggal di UGD tadi.


Dilihatnya dari jauh Sabi yang sedang menggendong Queen sambil digoyang - goyangkan, seolah sedang bermain dan bercanda bersama.


Waah.. mereka langsung akrab, padahal tadi marahan. Gumam Zulaikha, sambil tersenyum kecut.


Seolah ada perasaan sedih dalam hatinya, melihat tuannya langsung bisa sebaik itu pada orang lain, padahal dia membutuhkan waktu berminggu - minggu untuk membuat tuannya bersikap baik padanya.


Hey hey.. kenapa aku jadi jealous sekarang?! Astagah.. tidak tidak!!! Gumamnya sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.


Ini pasti karena aku kelelahan. Aaiissh.. sial! Zulaikha mencoba menolak apa yang dia rasakan.


Ditarik nafasnya dalam - dalam. Berusaha tersenyum tegar, lalu melirik lampu lalu lintas yang berganti merah. Zulaikha pun melangkahkan kakinya, menyeberangi jalan bersama orang - orang lainnya.


Sesampainya di seberang jalan, Zulaikha segera menghampiri Queen dan Sabi yang sedang berjabat tangan.


"Tuan muda.. nona Queen." panggil Zulaikha.


Sabi dan Queen segera melepaskan jabatan tangan mereka satu sama lain. Entah mengapa, mereka terlihat canggung seperti tertangkap basah sedang pacaran.


"Hey.. darimana saja kamu?" tanya Sabi, basa - basi menyapa Zulaikha.


"Maaf tuan.. saya tadi menyelesaikan administrasi pembayaran perawatan nona Queen." jawab Zulaikha.


"Astagah iya.. Im so sorry, I forget about that (Aku sangat minta maaf, aku lupa tentang itu)." Seru Queen menepuk jidatnya.


"Tidak apa - apa nona.. ah iya, ini sepatu nona." balas Zulaikha, menyerahkan high heels berwarna merah itu pada Queen.


"Tidak usah. Buang saja sepatu itu." Queen menepihkan tangan Zulaikha, berusaha menghindari sepatu merah itu.


"ha? kenapa nona? sepatu ini masih bagus."


"Hey jadi tadi kamu tidak pakai sepatu?" Sabi menganga kaget melirik kaki telanjang Queen.


"Aku merasa sial memakai sepatu itu. Terlalu banyak kesialan yang aku alami hari ini karena sepatu itu. dan iya tadi aku lupa memakai sepatu itu." Queen menjawab spontan dua pertanyaan sekaligus.


"Tapi nona.. jika sepatu ini dibuang, anda akan memakai sepatu apa? jalanan sangat kasar dan juga mulai dingin." Zulaikha meletakkan sepatu itu di depan kaki Queen, berharap dia memakainya kembali.


Itu sepatu mahal dan bermerek, jika aku menjadimu nona. Aku tidak akan mudah membuang sepatu seperti itu. Zulaikha melirik sepatu itu lamat - lamat.


"Ambillah..." ucap Queen enteng. Seolah tau isi hati Zulaikha yang menginginkan sepatu seperti itu.


"Ha? tidak nona. Nona harus memakai sepatu itu. Nanti kaki nona terluka." Zulaikha menggeleng, berusaha menolak halus tawaran Queen yang sangat menggiurkan.


"Hey jangan malu - malu.. ambillah. Aku lihat sepatu itu cocok di kakimu. Sekali - kali pakailah sepatu yang cantik, dengan begitu kamu menghargai kedua kakimu yang selama ini bekerja keras membantumu." ucap Queen mengambil sepatu merah itu, lalu diberikan pada Zulaikha. Tepat dikedua tangan Zulaikha.


"Lalu nona akan memakai sepatu apa?" tanya Zulaikha ragu - ragu sambil memeluk sepatu itu.


"Aku punya dia." menunjuk Sabi dengan matanya.


"Aku? kenapa aku?" kening Sabi berkerut heran melihat Queen dan Zulaikha bergantian.


"Katamu kamu akan melakukan apapun yang aku minta."


"iyaa.. lalu apa hubunganku dengan sepatu?" tanya Sabi lagi, menatap Queen.


"Hubunganmu adalah gendong aku, sekarang!" jawab Queen sambil melompat ke arah Sabi.


Queen menepuk - nepuk pundak lelaki itu untuk turun berjongkok ke bawah. Sabi yang sebenarnya tidak mau, terpaksa menurut mengingat kata - katanya beberapa menit yang lalu.


Aiishh.. sial! kenapa hidupku jadi serumit ini.


"Gendong aku." Queen merapatkan dirinya di belakang tubuh Sabi, lalu merangkulkan kedua tangannya di leher Sabi.


"heuh.. baiklah. Tapi jangan pernah berubah pikiran." Sabi berdiri kembali dengan posisi sudah menggendong Queen dibelakangnya.


"Jika kamu berubah pikiran, aku akan menjatuhkanmu." menggoyangkan tubuh Queen lalu melepaskan kedua tangannya yang menahan paha Queen yang dia gendong.


Queen berteriak, lalu disusuli tawa sambil memukul - mukul punggung Sabi beberapa kali.


"Hey hey berhenti.. sakit!" keluh Sabi dengan senyuman yang tergores di bibirnya, sambil menahan Queen kembali agar tidak jadi jatuh.


"Stupiiiid!!!" rengek Queen, menjambak rambut Sabi sambil menggoyang kepala Sabi ke kiri dan ke kanan.


"Hey hey.. berhenti, aku tidak bisa melihat jalan. Kita akan jatuh." ucap Sabi diselingi gelak tawanya.


Tunggu! Sabi menghentikan langkahnya, mengingat kata - kata yang barusan dia ucapkan.


Kenapa rasanya aku pernah mengatakan itu?! Dia kembali mengingat - ingat kapan dan dimana dia mengucapkan kalimat yang sama.


"Hey.. kenapa berhenti? kamu lelah? apa aku berat?" tanya Queen melirik Sabi yang tenggelam dalam pikirannnya.


Sabi menatap Queen dalam - dalam, sambil merasakan suasana yang tidak asing ini. Rasanya dia pernah mengalami ini sebelumnya. Bukan hanya kalimatnya yang dia rasa pernah dia ucapkan. Tapi situasi yang dia alami begitu terasa familiar. Tindakan Queen yang menarik - narik rambutnya saat digendong, pertanyaan yang Queen berikan saat dia berhenti. Semuanya terasa akrab dan terasa pernah dia lakukan sebelumnya.


"Heey.. kenapa kamu menatapku seperti itu?" Queen melambai - lambaikan tangannya di depan wajah Sabi.


Sabi mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu mengalihkan pandangannya. Berbalik dan melihat Zulaikha yang ada di belakangnya.


Ada apa ini? Perasaan apa ini?


"Kenapa tuan muda? apa ada yang tertinggal?" tanya Zulaikha yang menghentikan langkahnya.


"Tidak.. tidak ada."


"so weird.. (aneh)" sela Queen.


"Siapa yang kamu katakan aneh?" tanya Sabi kembali berbalik ke depan.


"kamu." jawab Queen lugas.


"Ada apa denganmu?" sambung Queen masih penasaran dengan sikap Sabi yang mendadak aneh.


"Tidak ada.. aku hanya merasa, kalau aku pernah melakukan ini." Sabi kembali melanjutkan langkahnya.


"oh.. itu namanya Dejavu!" sergah Queen lantang.


"Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud, long, short, circuit, cortex, aku tidak mengerti semuanya." keluh Sabi menggoyang - goyang badannya ke kiri dan ke kanan.


Queen tergelak tawa dan memukul - mukul Sabi lagi.


"Yaah intinya Dejavu itu artinya kamu mengalami kejadian seperti pernah mengalaminya. Nanti kamu searching sendiri di google. Biar mengerti." Ucap Queen.


"Hm.. nanti kalo aku punya waktu." sahut Sabi.


"Sebentar.. sebenarnya aku bingung." Queen menepuk - nepuk pundak Sabi, memintanya untuk berhenti.


Sabi menghentikan langkahnya, melirik Queen dengan rautan dijidatnya. Antara kelelahan dan bingung.


"Hm.. kenapa lagi?"


"Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Queen, menyadarkan Sabi dan Zulaikha yang ternyata tidak menyadari kemana tujuan langkah kaki mereka.


"Heey.. benar! kenapa kita berjalan kaki? seharusnya kita naik mobil." seru Sabi berbalik melihat Zulaikha yang tersenyum canggung, menyadari betapa blank nya mereka bertiga.


"Heey.. Stupid!" Ucap Queen lalu tertawa.


Sabi dan Zulaikha ikut tertawa, merasa bodoh dengan diri mereka sendiri.


...........


Di dalam mobil yang sedang melaju menuju suatu tempat, Zayn terlihat sedang menerima telfon dari seseorang. Ekspresinya begitu serius mendengarkan apa yang dikatakan orang itu dibalik telefonnya.


\~Tugasmu sekarang, jangan biarkan Sabi berkembang atau naik. Pantau terus dia agar dia tetap terlihat buruk dan bodoh dimata orang kantor dan pemegang saham lainnya.


"Baik." Sahutnya, dingin.


\~Pastikan, jabatannya harus turun saat itu nanti.


"Baik." Sahutnya lagi.


Panggilan itu lalu terputus.


Zayn melirik keluar jendela, meletakkan handphonya kembali ke dalam jasnya. Alisnya berkerut menandakan pikirannya sedang berpikir keras atas permintaan seseorang dibalik panggilan itu.


Dia membuang nafasnya. Menyentuh dahinya sambil sesekali menarik nafa lalu dibuang lagi perlahan.


"Ada apa tuan? apa ada yang mengganggu anda?" Tanya Ridwan yang ternyata menyaksikan tingakah laku Zayn di kaca spion.


"Tidak apa - apa. Fokuslah menyetir, jangan sampai kita menabrak sesuatu. Kamu taukan, aku benci kecelakaan." jawabnya cuek memalingkan pandangannya.


"Baik tuan." sahut Ridwan menurut.


Namun sepertinya rasa penasarannya tidak bisa dia sembunyikan, dia nampak gelisah, bibir dan lidahnya gatal untuk bertanya.


"Ehmm.. tuan." Ridwan tidak bisa menahan dirinya.


"hm.." saut Zayn, cuek.


"Apa anda memikirkan gadis yang anda tinggalkan di cafe tadi?" akhirnya pertanyaan yang ingin dia sampaikan dari tadi, terucap.


"Heh.. ada apa denganmu Wan? kenapa kamu jadi kepo sekali." Zayn menolak menjawab.


"Soalnya anda meninggalkannya dalam keadaan yang tidak baik - baik saja. Jadi aku pikir anda khawatir dengan dia." sahut Ridwan, memikirkan kondisi Queen yang sempat dia lihat saat di cafe tadi.


"Apa maksudmu?" Zayn mendelik, melihat Ridwan dari pantulan spion.


"Iya.. tadi dia tidak baik - baik saja tuan. Dia seperti_"


"Dia seperti menangis? dia memang begitu Wan, tidak usah pedulikan dia. Dia gadis yang kuat, aku tau itu." Potong Zayn, memperbaiki duduknya menghadap ke depan.


Dia tidak akan melemah hanya karna ku tinggalkan beberapa tahun. Zayn tersenyum tipis mengingat - ingat wajah Queen yang selalu ceria jika bertemu dengannya.


"Sepertinya lebih dari itu tuan.. tapi.. baiklah. jika tuan tidak merasa khawatir tentangnya." imbuh Ridwan, kembali fokus menyetir.


...........


"Ibu.. tidakkah ibu harus memikirkan kembali keputusan Ibu?" bentak Ibu Sabi pada mertuanya, Andi Salma.


Nenek Salma atau nenek Sabi yang sudah tua, dan rentah hanya bisa diam mendengar bentakan dari menantunya itu.


"Ibu.. setidaknya ibu harus adil. Baik pada Fargio maupun sama Sabiru bu." Ibu kembali membentak nenek Salma.


Wajah Ibu Sabi terlihat begitu kesal, hingga membutakan matanya dari rautan sedih yang terpancar di wajah Nenek Salma.


"Ibu.. segera keluarkan surat atau apa untuk membuat posisi Sabi setidaknya aman di perusahaan kita. Karena jika Ibu terus diam seperti ini, Sabi akan ditendang oleh seluruh anak - anak Syafar." Sambung Ibu lagi, kali ini dengan nada lembut. Lebih tepatnya suara yang berusaha dilembutkan untuk mengambil hati nenek tua rentah itu.


Namun Nenek Salma tak bergeming. Dia terus diam, menyimak apa yang Ibu sabi katakan. Tidak ada komentar, tidak ada balasan amarah untuk Ibu Sabi. Yang ada hanyalah rautan wajah kesedihan, menyaksikan perbuatan menantunya itu kepadanya.


"Hahhhh..." Teriak Ibu Sabi, memukul meja.


"Tidak ada gunanya bicara dengan Ibu. Ibu hanya mencintai anak - anak Syafar dibandingkan anak Mas Her." Imbuh Ibu, lalu pergi meninggalkan Nenek Salma yang menahan perih dalam dadanya.


Ibu pergi keluar dengan perasaan marah dan gusar. Jiwanya tidak tenang mengingat Gio yang akan segera kembali ke tanah air dan akan segera melengserkan Sabi dari tempatnya.


Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Sabi tidak boleh menjadi seperti ayahnya. Sabi harus lebih sukses dari Mas Her.


*Segera ibu merogoh saku roknya, mengambil handphone* dan mendial sebuah nama kontak di handphone nya yang berinisial 'B', lalu menekan tombol panggil.


\~ Halo..


"Kamu dimana? Kita harus bicara. Rencana A tidak berjalan baik. Jadi kita harus menyusun rencana B." seru Ibu dengan nada berbisik, seraya melirik ke sekitar. Jangan sampai ada satupun orang rumah mendengarkan apa yang dia ucapkan.


\~Baiklah.. tentukan saja dimana tempatnya, dan aku akan segera meluncur ke lokasi.


"Baiklah.." ucap Ibu, segera menutup telefon.


Aku akan menghentikanmu Syafar. Membanyangkannya saja, kamu tidak akan menyangka.