FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
45. Menyambut Gio



Tak seperti biasanya, Sabi hari ini bekerja dengan serius dan fokus. Begitupun Zulaikha yang terlihat begitu menikmati perannya sebagai sekertaris, akhirnya perannya sebagai sekertaris normal seperti sekertaris lainnya.


Sesekali Sabi melirik Sofa besar yang ada di depannya. Sofa itu kosong, tapi begitu menarik perhatiannya dan akhirnya dia menepis lagi pandangannya dari sofa itu.


“Tuan.. apakah anda lelah?” Tanya Zulaikha yang menyadari Sabi terus melirik ke arah sofa.


“Tidak.” Jawab Sabi singkat, masih fokus dengan pekerjaannya.


“Sebaiknya anda beristirahat jika anda sudah merasa lelah, tuan muda. Lagian sebentar lagi waktu jam istirahat tuan.” Sambung Zulaikha mengingatkan, sambil melirik jam tangan usangnya.


Sabi melirik Zulaikha sebentar, lalu merogoh kantong jasnya. Dia mengambil sebuah bungkusan cokelat favoritnya lalu diberikan pada Zulaikha.


“Makanlah.. sepertinya kamu lapar. Jika kamu ingin beristirahat, istirahatlah duluan. Aku tidak bisa berhenti disaat aku sangat menggebu - gebu seperti ini.” Ucap Sabi, lalu melanjutkan kegiatannya.


Zulaikha hanya diam menatap Sabi yang terus menyibukkan dirinya. Terkadang dia merasa senang melihat Sabi yang serius bekerja seperti ini, namun ada kalanya dia merasa senang juga melihat Sabi ketika menjadi konyol dan bertingkah seperti anak - anak di depannya.


Sabi kembali melirik Zulaikha yang terus memperhatikannya dengan sangat dalam. Dia lalu mendengus, lalu memutarkan kursinya hingga dia berputar - putar diatas kursinya.


Zulaikha tertegun sekaligus tersenyum tipis melihat sikap Sabi yang mendadak seperti itu.


Hingga kursi itu berhenti berputar dengan sendirinya, Sabi melirik Zulaikha. Hingga mata mereka berdua bertemu. Zulaikha langsung cepat - cepat mengalihkan pandangan matanya.


“Pergilah beristirahat sana. Aku tidak suka jika bekerja terus diliat seperti itu.” Keluh Sabi.


“Ma maaf tuan muda. Baiklah saya akan keluar sebentar.” Ucap Zulaikha sambil menyelipkan anak rambut dibelakang telinganya. Lalu pergi meninggalkan Sabi yang masih terus menatapnya.


“Hey.. kalau kembali ke sini, jangan lupa beli ayam geprek 2 sama nasi 1, dan soda yah.” Sabi meneriaki Zulaikha yang berada di ambang pintu.


“Baik tuan muda.” Sahut Zulaikha sambil tersenyum mengacungkan jempolnya.


“Oke..” balas Sabi lalu mengangkat jarinya bersimbol oke pada Zulaikha.


...........


Zulaikha berjalan menyusuri lobi perusahaan yang besar dan ramai dengan pegawai yang juga akan beristirahat. Disana dia berpapasan dengan Zayn dan Ridwan yang juga akan keluar.


“Ikut aku.” Ucap Zayn dengan nada berbisik saat tepat berada di sebelah Zulaikha, lalu melaju pergi mendahului Zulaikha.


Zulaikha yang mendengar itu, segera melirik lelaki yang berbisik padanya yang sudah jauh berada di depannya. Menyadari orang itu adalah Zayn. Zulaikha perlahan - lahan melirik ke sekitar lalu mengukuti Zayn dari belakang.


Saat sampai di parkiran, terlihat Ridwan yang telah berada di sebelah mobil menunggu kedatangan Zulaikha.


“Masuklah.” Pintah Ridwan dengan wajah serius menunjuk ke kursi depan.


Dengan lincah, Zulaikha menurut dan masuk ke dalam mobil, duduk di kursi depan sesuai dengan perintah Ridwan. Ridwan lalu masuk, dan langsung mengemudikan mobil.


Dengan perasaan tegang sambil meremas roknya. Zulaikha sesekali melirik spion yang memantulkan bayangan Zayn yang sedang duduk di kursi belakang seorang diri dan sedang menatap spion dengan tajam.


Sontak Zulaikha segera mengalihkan pandangan matanya.


“Sepertinya kamu tidak peduli lagi dengan nasib saudarimu yah?!” Ucap Zayn dingin.


Mendengar ucapan Zayn, Zulaikha langsung tertegun. Benar saja, dia sedikit melupakan nasib saudarinya selama bersama dengan Sabi. Hingga lupa mengabari Zayn setiap hal yang Sabi lakukan setiap harinya.


“Maafkan saya tuan.” Ucap Zulaikha, merasa bersalah.


“Jika kamu tidak peduli lagi dengan kabar saudarimu, katakanlah. Jadi aku tidak perlu menunggu.” Sergah Zayn dengan raut wajah tak senang.


Zulaikha menelan salivanya yang terasa berat. Entah karena takut pada situasi yang terasa menegangkan atau karena merasa bersalah pada saudarinya.


“Asal kamu tau, aku benci menunggu.” Imbuh Zayn.


“Ma maf tuan. Saya akan menceritakan semuanya pada tuan, apa yang tuan muda lakukan selama beberapa hari ini.” Ucap Zulaikha sambil meremas roknya.


“Baiklah. Ceritakan padaku secara rinci, tanpa ada yang terlewatkan sedikitpun.” Kata Zayn, lalu memejamkan matanya.


Zulaikha mulai menceritakan apa yang dilakukan oleh Sabi beberapa hari ini, secara terperinci tanpa disensor sedikitpun.


“Hmm.. apakah dia punya penyakit gangguan?!”


“Saya tidak tau tuan.”


“Kalau begitu cari tau.” Sergah Zayn tegas.


“Dan mengenai Sabi yang keluar bersama Queen seperti yang kamu ceritakan tadi. Kedepannya aku tidak ingin Sabi keluar kemanapun tanpamu. Kemanapun dia akan pergi, kamu harus ada disampingnya.” Sambung Zayn tegas menatap pantulan diri Zulaikha dari spion.


“Jangan biarkan dia keluar sendiri atau keluar hanya bersama Queen.” Tegas Zayn.


“Ta ta pi_”


“Tidak ada tapi tapi! Aku tidak mau kamu melewatkan sedikitpun informasi tentang dia. Jangan bertanya kenapa, karena ini perintah!” Serga Zayn semakin tegas tak ingin mendengarkan alasan Zulaikha.


“Baik tuan.” Akhirnya Zulaikha mengangguk pasrah dengan keadaan yang tidak mendukungnya.


...........


Tok tok tok...


“Masuuk..” ucap Sabi dengan sedikit berteriak.


Zulaikha masuk, sambil membawa beberapa pesanan Sabi.


Sabi melirik Zulaikha yang datang dengan wajah yang sedikit murung, lalu kembali melihat beberapa kertas tertumpuk yang ada di depannya.


“Kenapa cepat sekali kamu kembali? Padahal aku masih ingin menyelesaikan beberapa pekerjaanku.” Ucapnya masih semangat mengotak atik kertas didepannya.


“Maafkan saya tuan muda. Saya hanya tidak ingin anda menunggu terlalu lama.” Balas Zulaikha sambil mendekati Sabi.


“Tuan muda, sebaiknya anda makan dulu. Karena sebentar anda haru pulang lebih cepat untuk menyambut Paman Andi Syafar beserta sepupu anda.” Sambung Zulaikha lagi, lalu menyodorkan makanan yang Sabi pesan.


“Hmm.. benar juga. Kalau begitu taruh disana dulu.” Sabi menunjuk ke arah sofa dengan sorotan matanya.


Zulaikha mengangguk mengerti, dan meletakkan makanan itu di atas meja ditempat yang Sabi tunjuk. Sementara Sabi pergi mencuci tangannya.


“Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu murung seperti awan mendung?” Tanya Sabi, lalu duduk di sofa sambil mulai membuka makanannya yang membuatnya tersenyum sumringah ketika mencium bau ayam goreng itu.


Sebuah goresan senyuman pun terukir di wajah gadis itu. Dia merasa sedikit senang dengan perhatian kecil Sabi padanya.


“Kamu sudah makan Zu?” Tanya Sabi lagi sambil menyantap makanannya dengan lahap.


“Sudah tuan muda.” Jawab Zulaikha sambil berusaha menahan senyumannya.


Untung saja dia berdiri di belakang Sabi, mungkin jika dia duduk di depan Sabi. Pasti akan terlihat jelas bahwa wanita itu sangat senang dengan perhatian kecil yang diberikan oleh Sabi.


Sabi tiba - tiba berbalik, melihat Zulaikh yang terus berdiri di belakangnya.


“Ha..!!” Jerit Zulaikha yang kaget.


“Hey.. ada apa denganmu?” Tanya Sabi heran dengan mulut yang penuh.


Huuff.. untung saja tidak keliatan. Gumam Zulaikha. Bersyukur karna ekspresi senangnya tidak dilihat oleh bosnya.


“Maaf tuan muda. Saya tidak kenapa - kenapa.” Sahut Zulaikha dengan wajah datar, menahan senyumannya.


“Hmm..” Sabi kembali berbalik dan melanjutkan kegiatan makannya sambil tersenyum tipis.


Dibelakang, Zulaikha mengelus dadanya sambil kembali tersenyum melihat teman masa kecilnya.


Yah meskipun Sabi tidak mengenalnya sebagai teman masa kecilnya, setidaknya berada dekat dengan Sabi dan diberi perhatian kecil seperti itu sudah cukup membuat Zulaikha merasa senang.


...........


Acara penyambutan kedatangan Andi Fargio Adam pun tiba. Di rumah keluarga besar Andi telah berkumpul seluruh keluarga inti Andi, dimana ada Sabi, Nyonya Sura, Nenek, Paman Andi Syafar, Nyonya Denisa Laha dan tentunya putra kesayangan mereka Andi Fargio Adam, yang biasa disapa dengan Gio.


Beberapa orang penting yang dekat dengan Paman Andi Syafar pun turut diundang, seperti Anwar Adijaya dan anaknya Zayn Adijaya, Ayu Puspita dan putrinya Bunga Puspita Negara, Wiliam Wijaya dan Maksi Ibrahim. Selain Paman Andi Syafar yang mengubdang orang penting terdekatnya, Nyonya Denisa juga mengundang sebuah kelompok orkestra untung menghibur dan meramaikan, selain itu juga karena Nyonya Denisa sangat menyukai musik klasik.


Mereka semua berkumpul dalam sebuah ruangan besar tempat seluruh keluarga merayakan acara spesial. Lantunan musik klasik yang merdu, makanan dan minuman mewah yang telah tertata di meja besar bertabur emas, serta pakaian yang rapih, sopan dan tertutup namun terlihat sangat elegan ketika mereka memakainya. Terlebih Bunga yang memakai dress selutut yang melekat indah ditubuhnya, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang ideal, membuat beberapa pelayan berdecak kagum akan keeleganan wanita itu.


Sabi melirik satu persatu orang yang datang malam itu. Sesekali dia menarik nafas, dan tersenyum palsu ke setiap orang yang memandangnya. Tak terkecuali pada sepupunya Gio.


Dia melihat sepupunya itu dengan ujung matanya sambil terus memampang senyum palsu, seakan senang akan kehadiran orang itu. Padahal nyatanya dia tak terlalu senang dengan sepupunya itu. Bukan tanpa alasan, karena baginya kehadiran Gio akan semakin menyudutkannya di keluarga ini.


Gio dengan tampilan yang mendekati hampir sempurna, tak kalah tampan dengannya dan tentu keahliannya dalam pengetahuan maupun dalam berbicara sangat jauh unggul dibandingkan dengan dirinya. Namun meskipun begitu, aslinya Gio sangatlah sombong dan suka merendahkan orang lain yang derajatnya lebih rendah. Bahkan terkadang, Gio tidak suka mengakui bahwa dirinya bersalah sehingga terkadang dia selalu menyalahkan Sabi dan itulah alasan kedua mengapa Sabi tidak terlalu menyukai hadirnya Gio kembali ke rumah.


Sekali lagi Sabi menarik nafas, engap dengan sesuana yang diselimuti oleh pujian luar biasa terhadap Gio, padahal nyatanya manusia yang sedang mereka puji - puji adalah setengah iblis dengan tampang malaikat.


Sabi melonggarkan dasinya, hampir merasa mual mendengar pujian yang terlalu berlebihan. Diliriknya lagi Bunga yang duduk tepat di depannya yang sedang curi - curi pandang pada Zayn yang juga diam membisu menatap ke depan.


Ciih.. dasar triplex. Gumam Sabi yang menyaksikan wajah Zayn yg tanpa ekspresi.


“Oh iya.. mana ya? Kok tidak keliatan yah sejak sore tadi?!” Celetuk Nyonya Denisa yang menyadari ketidakhadiran Queen di acara ini.


“Oh iya, Queen dimana? Aku ingin berbincang husus dengannya.” Tutur Ayu Puspita.


Sabi melirik Ibunya yang saat itu juga sedang menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya tentang ketidakhadiran Queen.


“Hm.. Sejak kemarin Queen keluar. Mungkin sedang ada urusan mendadak, dan dia juga mungkin tidak tau kalau kita mengadakan acara seperti ini makanya dia tidak sempat hadir.” Segera Sabi menjawab dengan lugas.


“Oh.. lalu kenapa kamu tidak memberitahunya?” Tanya Nyonya Denisa lagi.


“Iya, telfon dia sekarang.” Timpal Ayu Puspita.


Sial! Bagaimana caranya? Aku tidak punya nomor telfonnya.


“Tuan muda, ini nomor telfon Nona Queen.” Ucap Zulaikha yang berdiri di belakang kursi Sabi sambil menyodorkan handphone miliknya.


Sabi melirik Zulaikha, dan segera tersenyum sebagai tanda terimakasih karena jika Sabi tidak bisa menghubungi Queen, maka dia akan jadi bahan pembicaraan di meja itu saat ini.


“Sebaiknya tidak perlu. Karena acara ini sudah berlangsung, biarkan dia datang di acara penyambutan Andi Fargio di perusahaan.” Sergah Zayn, yang membuat Sabi batal mengambil handphone yang diberikan oleh Zulaikha.


“Iya benar kata Zayn, sebaiknya tidak usah. Nanti saja saat acara dilakukan di perusahaan.” Imbuh Bunga yang mendukung argumen Zayn.


“Hmm.. kamu benar juga Zayn.” Gumam Nyonya Denisa.


Mendengar hal itu Zayn tersenyum puas melirik ke arah Sabi dan Zulaikha.


“Tapi kamu tetap telfon Queen, tanya keberadaannya dimana?” Imbuh Nyonya Denisa membuat Zayn melirik Nyonya Denisa dengan tatapan yang dingin.


Mendengar hal itu, Sabi meraih handphone yang disodorkan Zulaikha dengan ragu - ragu.


“Telfonlah.. dan bilang tante menunggunya di rumah yah.” Tutur Nyonya Denisa lembut.


Dengan sangat terpaksa Sabi menekan tombol telfon pada layar telefon genggam itu. Tiba - tiba terbesit sebuah ide di kepalanya. Dia akan menggunakan Queen untuk kabur dari acara yang membosankan itu.


“Aku permisi menelfon di luar karena disini terlalu berisik.” Ucap Sabi pamit.


“Baiklah..” sahut Nyonya Denisa lembut.


Begitupun dengan Nyonya Sura, dia menganggukkan kepalanya mengiyakan izin anaknya.


Zayn segera melirik Zulaikha tajam, berharap gadis itu bisa melihatnya. Saat gadis itu tak sengaja melirik padanya, Zayn dengan cepat memberikan kode dengan pandangan matanya untuk mengikuti Sabi yang keluar menelfon Queen.


Melihat sorotan mata Zayn yang menunjuk ke arah Sabi yang berjalan keluar ruangan. Zulaikha diam - diam keluar ruangan menyusul Sabi dari belakang tanpa diketahui oleh Sabi.


“Angkat Queen.. angkat!” Ucap Sabi yang mulai kesal karena Queen tak kunjung mengangkat telfonnya.


Namun sampai beberapa menit, Queen tak kunjung mengangkat telfonnya. Sabi mendengus kesal.


“Sombong sekali dia!” Geramnya lalu mengambil handphone nya sendiri dikantong jasnya.


“Oke.. kita coba dengan nomor baru. Bisa saja dia menyombongkan dirinya dengan tidak mau mengangkat telefon dari sekertarisku.” Ucapnya lagi sambil mendial nomor Queen di handphone nya.


“Hey.. apa yang kamu lakukan disini?” Seru Bunga pada Zulaikha yang bersembunyi dibalik keramik besar yang tak jauh dari tempat Sabi berdiri.


Sabi menoleh, melihat ke arah Bunga dan menatapnya dengan heran.


Sementara Zulaikha, jantungnya serasa akan keluar dan merasa tidak enak atas sikapnya yang tidak sopan. Apa yang akan dia katakan pada Sabi jika dirinya ketahuan sedang menguping pembicaraannya dengan Queen. Apakah dia akan kehilangan kepercayaan dari Sabi atau bisa saja dia di pecat. Semua prasangkanya itu membuat tangannya dingin dan pucat sekaligus.


Bersambung.