FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
50. Horror Fantasy



Sabi mulai panik melihat Queen yang jatuh pingsan dengan mimisan yang masih berlangsung. Dengan sigap, Sabi mengangkat tubuh Queen, lalu digendongnya menuju jalan raya.


Masih dalam keadaan panik, Sabi menahan sembarang mobil untuk membawa Queen ke rumah sakit. Sebuah mobil berwarna hitam legam pun menepi, dan menurunkan kaca mobilnya.


“Bisa saya minta tolong? Antarkan saya ke rumah sakit.” Ucap Sabi yang masih dalam keadaan panik.


Pemilik mobil yang ternyata adalah seorang wanita, melirik Queen yang terkulai lemah, digendong Sabi.


“Masuklah.” Jawabnya ramah.


Sabi membuka pintu mobil bagian belakang, dan masuk dengan terus menggendong Queen dikedua tangannya.


Pemilik mobil itu segera menancap gas dengan kecepatan tinggi. Sedangkan Sabi terus mengelap mimisan Queen yang masih mengalir. Sesekali Sabi melirik keluar jendela, untuk melihat rumah sakit yang akan mereka singgahi. Namun, saat sudah di depan rumah sakit, pemilik mobil itu justru tambah menancap gas dan tidak singgah di rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat tujuan mereka.


“Hey... apa yang kau lakukan? Rumah sakitnya sudah lewat!” Teriak Sabi, geram melihat kelakuan pengendara mobil itu yang seakan dia sengaja.


“Tenang saja. Aku kenal gadis itu, dia tidak suka rumah sakit. Jadi jangan membawanya kesana.” Ucap pemilik mobil dengan santainya.


“Lalu kita mau kemana?”


“Tenang saja, sedikit lagi kita sampai.” Jawab pemilik mobil itu. Lalu menambah laju mobil hingga membuat Sabi sedikit merasa takut.


Mobil yang mereka tumpangi, akhirnya berhenti di depan sebuah cafe bertuliskan ‘Memories’, yang ada dipinggir pantai. Ya cafe tempat Queen dan Zayn bertemu dan cafe tempat dimana Queen, Sabi dan Zulaikha makan siang bersama.


“Lah ini..” Seru Sabi ketika melihat cafe yang pernah dia datangi.


“Ayo turun.” Ajak wanita itu.


Sabi keluar dari mobil bersama dengan Queen yang terus digendongnya. Raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa herannya dengan situasi yang sedang terjadi.


“Kenapa kamu membawa kami kesini? Apa sebenarnya yang ingin kamu lakukan? Apakah kamu pikir kami berdua ingin makan siang? Apa kamu tidak bisa lihat dia sedang membutuhkan seorang dokter? Waaah... aku tidak percaya dengan pikiranmu yang bahkan lebih absurd dari pikiranku.” Celoteh Sabi, yang kesal pada wanita itu.


Bagaimana bisa orang yang sedang tak sadarkan diri dengan mimisan yang terus mengalir, malah dibawa ke cafe. Setiap orang yang diperlakukan seperti itupun akan jadi kesal, termasuk Sabi.


Wanita itu hanya tersenyum sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.


“Dia hanya kelelahan. Tidak perlu terlalu berlebihan, kamu jadi terlihat seperti pacarnya jika seperti itu.” Ucap wanita itu.


“Bu bos.. ruangannya sudah siap.” Seru seorang wanita yang menjadi pegawai di cafe itu.


“Terimakasih.” Sahut wanita yang ternyata bos di cafe itu.


“Ayo ikut aku. Kamu tidak mungkin akan terus menggendongnya seperti itu kan?!” Imbuh wanita itu, lalu berjalan menuju ruangan yang telah disiapkan untuk Queen.


Mau tidak mau, suka tidak suka, Sabi mengikuti wanita itu masuk dibalik pintu yang pernah dia masuki dulu.


Apakah ini masih cafe? Ini lebih terlihat seperti rumah yang ada di film - film horor fantasy. Jika mereka akan menyewakan cafe ini untuk dijadikan tempat syuting, pastilah banyak sutradara yang akan mengambil cafe ini. Gumam Sabi yang terus menyapu pandangannya.


“Silahkan masuk.” Ucap wanita itu, yang telah membukakan Sabi pintu.


Sabi masih enggan untuk masuk, karena suasananya jujur saja mengerikan baginya yang memiliki jiwa penakut. Meskipun interiornya terbilang mahal dan antik, namun bagi Sabi ini seperti rumah horror fantasi, menyeramkan.


“Masuklah.. jangan takut. Di dalam ada beberapa orang pelayanku yang akan membantu dia meredakan mimisannya.” Ujar wanita itu.


Sabi melirik wajah Queen yang pucat pasi dengan darah yang berceceran di sekitar hidung dan mulutnya. Queen membutuhkan bantuan, namun pikiran Sabi terlalu penakut.


Sabi sedikit mendongak ke dalam untuk melihat situasi ruangan yang akan dia masuki. Benar saja, disana sudah ada beberapa orang pelayan yang mengenakan dress serba putih. Terlihat seperti asisten - asisten rumah tangga mistis Eropa. Hanya saja, pelayan disini menggunakan warna putih.


Sabi bergidik ngeri. Namun demi Queen, dia harus masuk. Sabi menarik nafasnya panjang, berusaha menarik keberanian dari atmosfir yang dia hirup. Dengan yakin dan percaya, dia masuk ke dalam ruangan itu. Meletakkan Queen di atas tempat tidur yang berwarna merah marron.


“Permisi pak.. bisakah anda_”


“Tidak!” Bantah Sabi yang memotong ucapan pelayan berbadan gemuk itu.


Pelayan itu hanya tersenyum dan membungkuk.


“Aku tidak akan meninggalkannya sendiri disini.” Imbuh Sabi, menutupi rasa takutnya jika dia harus berdiri di koridor ruangan seorang diri. Lebih baik dia di dalam ruangan ini bersama Queen, karena setidaknya dia tidak sendiri.


“Pelayanku tidak memintamu untuk keluar. Dia hanya ingin kamu duduk disana dan berbalik belakang. Karena mereka akan menggantikan baju, Queen.”


“Oh.. baiklah.” Sabi mengangguk setuju dan duduk ditempat duduk seperti yang diminta oleh wanita itu.


Rasa penasaranpun mengusik kalbunya. Sabi penasaran apa yang mereka lakukan pada Queen, meskipun dia sudah tau jawabannya yaitu menggantikan baju Queen. Padahal baju Queen tidak kotor, tapi kenapa harus diganti segala?! Memikirkan itu membuat Sabi menjadi sedikit gelisah, jika mereka melakukan hal yang aneh pada Queen. Apalagi dia tidak boleh menoleh ke belakang dan Queen masih dalam keadaan pingsan.


Sabi mencoba mengambil kesempatan, sedikit mengintip. Namun belum saja kepalanya menengok ke belakang, wanita itu sudah lebih dulu meneriakinya.


“Jangan berbalik! Apa kamu mau melihat tubuh telanjangnya?!”


Sontak Sabi langsung diam bagaikan batu, tidak banyak gerak lagi.


Apakah dia bisa membaca pikiran?! Dari tadi dia seperti tau saja isi pikiranku. Tapi aku berbalik bukan untuk melihat tubuh Queen yang telanjang. Hanya untuk memastikan saja, kalau mereka tidak melakukan hal yang aneh pada dia.


“Sudah selesai. Berbaliklah.. kami tidak melakukan hal aneh pada temanmu.” Ujar wanita itu.


Tuhkan! Fiks. Dia bisa baca pikiran orang. Gumam Sabi, lalu berbalik. Menatap wajah wanita misterius itu.


“Aku tidak seperti yang kamu pikirkan. Berhenti memikirkan hal - hal yang aneh.” Ucap wanita itu, lalu berlalu pergi meninggalkan ruangan.


Sabi melirik beberapa orang pelayan yang masih menetap dalam ruangan itu. Mereka hanya menunduk dan diam seperti batu.


“Apakah kalian tidak akan pergi?” Tanya Sabi.


“Apakah anda menginginkan kami pergi, pak?!” Tanya salah seorang pelayan itu.


“Ah tidak, bukan begitu maksudku. Maksudku, jangan pergi. Temani aku disini bersama dengannya.” Jawab Sabi dengan sedikit rasa canggung.


Jujur saja, berdiri di depan beberapa pelayan yang diam, menunduk seperti batu. Rasanya sangat canggung dan aneh. Tapi sepertinya lebih baik ada mereka di dalam ruangan ini, karena akan terasa mencekam jika hanya ada dirinya dan Queen saja dalam ruangan itu, ditambah lagi hanya dia yang sadar. Rasanya pasti sangat mencekam.


Sabi duduk di sebuah kursi yang diletakkan di sebelah tempat tidur itu. Di tempat tidur, tempat dimana Queen terbaring dengan wajah pucatnya, beserta sebuah kapas yang menutupi salah satu lubang hidung Queen, tempat mimisannya tadi keluar.


Sabi melirik baju yang Queen kenakan, dress panjang berwarna putih. Membuat Queen terlihat seperti seorang putri yang sedang tetidur.


Setelah beberapa jam berlalu. Sabi membuka matanya, menyadari bahwa dia tertidur dengan menndukkan sedikit badannya ke kasur. Dia lalu meregangkan badannya yang terasa pegal dengan posisi tidurnya yang melelalahkan tulang belakangnya.


“Aaakkhh... sudah berapa lama aku tertidur?! Rasanya belakangku akan patah.” Keluh Sabi yang masih melakukan peregangan.


Eh?! Gumam Sabi merasa ada sesuatu yang aneh.


“Queen? Queen dimana?” Seru Sabi yang baru menyadari Queen tidak ada di atas tempat tidur.


“Nona itu baru saja keluar beberapa menit yang lalu.” Ucap salah satu pelayan berbadan gemuk.


Sabi melirik beberapa pelayan itu, mereka masih berdiri dengan posisi kepala yang terus menunduk ke bawah. Sama seperti sebelum dia tertidur.


“Hey.. berapa jam aku tidur tadi?” Tanya Sabi.


“3 jam, pak.” Jawab pelayan itu.


Apa?! Tiga jam? Dan selama 3 jam mereka seperti itu terus?! Gumam Sabi tak percaya.


Sabi merasa mereka bukanlah manusia. Bulu kuduknya langsung berdiri sempurna, menyadari kejanggalan yang aneh ini.


“Aku akan keluar.” Ucapnya bergegas pergi meninggalkan beberapa pelayan itu.


Jantungnya semakin berdetak tak karuan karena perasaan takut yang menyelimuti dirinya. Bulukuduknya pun masih terus merinding. Membuatnya semakin ketakutan luar biasa.


“Lebih baik melihat hantu yang jelas berwujud sebagai hantu daripada hantu yang menyamar jadi manusia. Takutnya nanggung. Iihhh..” Sabi semakin mempercepat kakinya melangkah, menuju pintu keluar.


Langkahnya semakin cepat, cepat dan sedikit berlari. Namun rasanya, dia seperti tidak sampai - sampai. Sabi melajukan langkahnya lagi, dan memutuskan berlari. Sebuah cahaya terlihat di ujung pintu yang dia masuki tadi, sesegera mungkin Sabi berlari ke arah pintu itu dan membukanya.


Sampailah Sabi di ruangan utama cafe itu. Disana terlihat Queen yang sedang berdiri sambil berbicara dengan wanita misterius itu. Mereka bicara dengan sangat akrabnya dan sesekali tertawa.


“Queen..” seru Sabi.


“Eh.. sudah sadar kamu rupanya.” Ucap Queen.


“Harusnya aku yang mengatakan itu padamu!” Timpal Sabi, segera menarik tangan Queen.


Sabi menarik Queen, menuju pintu keluar.


“Hey hey.. ada apa denganmu? Kenapa kamu terlihat pucat?!” Queen mencegat Sabi, dan menutup kembali pintunyang sudah ditarik Sabi.


“Kita harus pergi dari sini!” Bisik Sabi, menarik kembali tangan Queen.


Queen tidak mau bergerak, dan menahan lengan Sabi agar tidak pergi.


“Memangnya kenapa?” Tanya Queen dengan nada yang sedikit berbisik.


“Tempat ini ada hantunya! dan tempat ini aneh. Pokoknya kita harus pergi dari sini. Tidak seharusnya kita berada disini, Queen.”


Queen tergelak tawa mendengar jawaban Sabi yang bagaikan lelucon baginya. Queen lalu menari Sabi perlahan.


Sabi sedikit berkeras tidak ingin mengikuti Queen. Namun Queen terus memaksa, hingga mau tidak mau Sabi mengikuti langkah Queen perlahan.


Sabi ditarik menuju sebuah mading yang ada di dinding cafe itu. Disana terpajang beberapa foto pengunjung yang pernah datang berkunjung ke cafe itu.


“Lihat. Ada banyak orang yang datang kesini. Mana mungkin cafe ini adalah cafe berhantu.” Ucap Queen, berusaha menenangkan Sabi.


“Iya memang banyak yang datang Queen, tapi bagaimana yang datang itu adalah hantu juga.l?! Kamu tidak lihat apa, seluruh interiornya dan suasananya. Terasa mencekam seperti film horor fantasy. Lihat juga pelayan di kamar, mereka aneh. Mereka bukan manusia, Queen.” Tutur Sabi yang masih was - was setengah ketakutan.


“Berarti kita berdua hantu dong?! Kapan kita berdua mati?!”


Mata Sabi membulat sempurna. Ketakutannya semakin menjadi.


Apakah aku sudah mati?! Jangan - jangan aku mati karena kecelakaan mobil karena mobil tadi sangat laju.


“Hahahaha.. hey, rileks! Aku hanya bercanda.” Queen menepuk pundak Sabi.


“Queen..” rengek Sabi. Semakin memperkuat remasan tangannya pada Queen.


Queen memitar bola matanya, tidak bisa dia sangka ternyata ada lelaki yang penakut di dunia ini. Dia pikir wanita adalah makhluk yang paling penakut, ternyata lelaki juga ada.


Merasa gemas dengan tingkah Sabi yang ketakutan seperti anak SD, Queen mencubit lengan Sabi. Hingga lelaki itu merintih kesakitan.


“Ya.. sakit!” Rintih Sabi, mengelus lengannya yang dicubit oleh Queen.


“Sakitkan? Berarti kamu masih hidup. Gimana sih..” seru Queen, menarik Sabi duduk di salah satu kursi yang ada di cafe itu.


“Kak.. aku pesan makanan yang tadi yah.” Ucap Queen pada wanita misterius itu.


Wanita itu mengangguk lalu, masuk ke dapur.


“Hey.. kenapa kamu bisa mengenalnya?” Tanya Sabi yang masih was - was.


“Aku sering kesini. Jadi aku mengenalnya dan mulai berteman dengannya. Yah meskipun dis sedikit sulit untuk diajak berteman.” Jawab Queen santai.


“Berhenti berteman dengannya jika dia sulit untuk diajak berteman. Masih banyak orang lain yang mau berteman denganmu. Lagian dia juga terlalu meresahkan. Jadi berhentilah datang kesini.” Ucap Sabi.


“Kamu ini kenapa sih?! Kamu ternyata lebih penakut dariku yah.”


“Penakut? Sembarang! Aku tidak penakut, hanya saja aku tipe orang yang terlalu waspada.” Sabi berusaha mengelak.


Queen tertawa mendengar ucapan Sabi yang benar - benar terdengar seperti seorang penakut. Bisa - bisanya dia masih mengelak dengan gesturnya yang terlihat sangat nyata, terlihat seperti seorang penakut.


“Kenapa kamu tertawa? Kamu tidak percaya?!”


“Iya iya.. aku percaya.” Sahut Queen disusuli sebuah tawa kecil.


“Hey.. kamu mengejekku? Aku benar - benar bukan penakut. Aku hanya waspada. Waspada!” Sabi terus mengelak, membuat atmosfir diantara mereka berdua menjadi ceria dan membuat bulu kuduk Sabi menurun perlahan tanpa dia sadari.


Bersambung ....