FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
63. Roti Cokelat



Cafe kecil dengan lampu yang sedikit kuning menerangi teras cafe itu, menyambut kedatangan Sabi dan Zulaikha yang keluar dari mobil perlahan. Sabi sedikit menghirup udara, merasakan bau khas yang keluar dari bangunan sederhana itu. Aroma coklat panas yang sudah bisa tercium bahkan dari pintu masuk, bersama dengan aroma roti yang manis membuat lambungnya kembali bergetar tak sabar ingin memesan.


Mata Zulaikha menatap keseluruhan cafe kecil itu yang terlihat sederhana dengan vibes hangat. Dia berpikir bahwa cafe seperti ini sangat cocok untuk didatangi oleh sebuah keluarga kecil yang bahagia. Senyumnya merekah memikirkan itu.


“Ayo masuk, Zu.” Ajak Sabi, melangkah masuk ke dalam cafe.


Beberapa orang dengan pasangannya masing-masing, terlihat tersenyum bahagia dengan obrolan mereka masing-masing sambil meminum cokelat panas. Beberapa keluarga kecil pun terlihat ada di beberapa titik, berkumpul dengan bahagianya tepat seperti gambaran yang ada di kepala Zulaikha.


Zulaikha tersenyum melihat pemandangan hangat ini. Rasanya dia juga ingin membawa keluarganya untuk berbincang-bincang di cafe ini, namun mengingat di keluarganya yang hanya tersisa dia dan ayahnya. Zulaikha menggeleng kepalanya, dan sadar untuk mengurungkan niatnya. Ayahnya juga takkan mungkin mau.


“Zuu ...” panggil Sabi, menyadarkan Zulaikha dari pikirannya.


Sabi melambaikan tangan pada Zulaikha, mengajak gadis itu untuk duduk di dekat jendela, tempatnya duduk bersama Queen dulu.


Zulaikha datang menghampiri Sabi, dan terlihat sedikit takjub dengan vibes tempat duduk yang Sabi pilih.


“Waahh ... cafe ini, benar-benar hangat dan terasa seperti rumah.” Gumam Zulaikha menyapukan pandangannya ke bagian dinding tempat mereka duduk.


“Iya kan?! Aku yang mendesain cafe ini.” Ucap Sabi dengan bangga.


“Benarkah?!”


Sabi mengangguk dan melihat dinding cafe yang berwarna cokelat muda, dengan separuh dinding dipenuhi dengan ornamen kayu. Semakin membuat cafe itu terlihat hangat dan nyaman.


“Dulu cafe ini hanyalah rumah biasa, dan buka usaha kecil kecilan untuk membantu perekonomian keluarga ini.” Kata Sabi.


Seorang pelayan laki-laki yang usianya tak jauh lebih muda dari Sabi, datang membawa tumpukan kertas dan polpen untuk mencatat pesanan Sabi.


Pelayan itu bernama Boby, dia terlihat seperti sudah biasa dengan kehadiran Sabi di depannya. Sehingga dia tidak terlihat sopan saat datang menghampiri mereka dan dengan santainya bicara dengan nada menantang pada Sabi. Padahal sebelum datang menghampiri meja mereka, Boby terlihat sangat ramah pada pelanggan lainnya.


“Pesan apa?”


“Biasa, 2 porsi.” Jawab Sabi, sedikit ngegas.


“Oh..” balas Boby, lalu pergi meninggalkan Sabi dan Zulaikha begitu saja tanpa mencatat pesanan mereka.


Zulaikha menganga melihat interaksi mereka yang terlihat tidak biasa.


“Tenang. Dia anak dari pemilik cafe ini. Kami sudah saling kenal sejak masih SMA, tapi dia saat itu SMP kalau tidak salah.” Ucap Sabi, seolah tau Zulaikha sedang heran melihat mereka berdua.


“Kamu lihat yang tadi kan? Namanya Boby. Ayahnya meninggal saat dia baru saja masuk SMP. Sehingga ibunya harus banting tulang dengan membuka usaha kecil-kecilan menjual roti.” Sambung Sabi, menjelaskan sejarah Cafe yang mereka datangi.


Zulaikha mengangguk mengerti dan menyimak cerita Sabi, yang terasa menyenangkan.


“Rotinya sangat enak, jadi aku dan John berinisiatif untuk sedikit membantu Boby dan Ibunya dengan sedikit merenofasi rumah mereka jadi cafe seperti sekarang ini.” Jelas Sabi sambil menunjuk ke dinding dekat meja kasir, tepat pada sebuah bingkai foto hitam dengan ukuran yang sedikit besar.


Zulaikha melirik ke arah yang ditunjuk Sabi, melihat apa yang ditunjuk oleh Sabi meskipun tidak terlihat jelas karena jarak mereka yng cukup jauh dari tempat mereka duduk.


“Kamu bisa melihatnya disana.” Seru Sabi.


“Ooh ...” gumam Zulaikha.


“Ada apa denganmu? Apakah kamu kesal pada bosmu ini?”


“Ciihh ...” lagi-lagi Boby mendesis kesal. “Siapa yang tidak akan kesal denganmu?!” Boby meletakkan gelas cokelat panas dengan sedikit kasar, membuat cokelat panas itu sedikit menyembur keluar dan Sabi mengerang kesal.


“Hey ... berhati-hatilah dengannya.” Panggil Boby pada Zulaikha yang memandangnya heran. “Dia memang terlihat polos, tapi percayalah akhir-akhir ini dia menjelma menjadi buaya.” Ketus Boby, menunjuk Sabi dengan sorotan matanya.


Zulaikha melirik Sabi dengan tatapan tak percaya. Seolah tak percaya bahwa seorang Sabi yang selalu dipantaunya selama 24 jam adalah seorang playboy. Bagaimana mungkin, bahkan Sabi tidak pernah terlihat bersama dengan satu orang gadis manapun. Yaah ... terkecuali Queen Lee. Tapi masa iya Queen Lee. Tidak mungkin!


Zulaikha menggeleng kepalanya, menyingkirkan pikiran kotornya.


“Jangan melihatku seperti itu. Aku tidak seperti yang dikatakannya.” Sabi mendorong jidat Zulaikha dengan kedua jarinya, menjauhkan pandangan Zulaikha padanya. “Kamu sembarangan main fitnah yaa! Apa kamu tau bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan, hah?!” Sabi sedikit meneriaki Boby.


“Fitnah fitnah ... memang kenyataan. Sekarang abang sudah pintar main perempuan. Kemarin dulu beda, sekarang beda juga. Besok yang mana lagi bang?!” Hardik Boby, tak kalah kuat dari suara Sabi.


Zulaikha menganga tak percaya sambil bertepuk tangan tak percaya dengan ucapan Boby.


“Zu ... jangan dengarkan dia_”Sergah Sabi tergantung, tiba-tiba merasa dirinya seperti lelaki yang ketahuan selingkuh oleh pacarnya.


Sabi tergelak tawa, memancing keheranan Zulaikha dan Boby.


“Apa ini? Kenapa sekarang aku merasa seperti sedang ketahuan selingkuh?! Aaakhh .... dasar!” Gumam Sabi, sembari mengambil tisu yang ada di depannya.


“Terserah kalian mau bicara apa, anggap saja saya buaya. Lagian tidak terlalu buruk bukan jadi buaya?!” Sambungnya sambil menggulung-gulung tisu yang diambilnya lalu dilemparkan pada Boby, hingga mengenai mulut Boby yang sedikit menganga mendengar respon Sabi.


Untung saja tisu itu tidak sampai masuk ke mulut Boby, jika masuk mungkin mereka berdua akan bertengkar seperti anak kecil.


“Terserah kamu sajalah bang. Malas aku.” Keluh Boby yang kalah debat dengan Sabi. Rupanya hasutannya tak berhasil membuat Sabi kesal padanya, padahal dia sudah bersemangat untuk berdebat dengan Sabi hari ini.


Sabi terkekeh geli melihat Boby yang terlihat cembertu dibuatnya. Boby pergi meninggalkannya bersama dengan Zulaikha yang tersenyum lebar melihat interaksinya bersama Boby.


“Silahkan dimakan, aku jamin kamu bakalan ketagihan.” Ucap Sabi, mendorong piring minimalis yang diatasnya terdapat beberapa roti isi coklat.


Zulaikha mengangguk dan mengambil sebuah roti. Dicicipnya roti itu sedikit dan pupil matanya melebar.


“Waah rotinya enak skali. Cokelatnya lumer dimulut.” Gumam Zulaikha.


“Tuhkan. Queen saja awalnya tidak mau makan roti ini, tapi pas dia makan, kakinya tidak bisa berhenti bergerak karena saking enaknya.”


Zulaikha langsung melirik Sabi. Diperhatikannya ekspresi lelaki itu baik-baik, berusaha mencari ekspresi kesal yang biasa dia tunjukkan saat berkelahi bersama Queen. Namun tidak ada ekspresi kesal disana, yang dia lihat hanyalah ekspresi bahagia saat dia menceritakan Queen padanya.


Apakah mereka sedekat itu?


“Hey ada apa denganmu? Lihat, coklat berhamburan dimulutmu.” Ucap Sabi, saat melirik Zulaikha yang tengah memandangnya.


Segera Zulaikha mengelap coklat yang ada di sekitar mulutnya seperti yang dikatakan Sabi padanya. Namun dia tidak mengelap sampai ke sudut bibirnya, hingga membuat Sabi sedikit terkekeh dan menyentuh lembut sudut bibir Zulaikha, membersihkan sedikit cokelat yang bersarang disana.


Mata Zulaikha membulat sempurna, jantungnya pun semakin deg degan dibuat Sabi. Tangannya semakin meremas kuat roti yang ada digenggaman tangannya hingga membuat coklat dari dalam roti itu sedikit keluar dan mengotori telapak tangannya. Tapi Zulaikha tidak memperhatikan itu, yang dia perhatikan hanyalah wajah Sabi yang sedang tersenyum di depannya. Membuat jantungnya terasa melelemah dengan pipi yang mulai berubah warna merah merona.


Bersambung ...