
Sabi duduk disebuah meja makan didalam sebuah ruangan. Ruangan itu nampak lebih besar dari kamar hotel yang terakhir kali dia kunjungi.
Diliriknya seluruh ruangan itu hingga kesudut - sudutnya, bahkan sampai ke kolong - kolong bawah meja pun diperhatikannya dengan seksama dan teliti. Seolah - olah sedang memeriksa apakah ruangan itu aman atau tidak.
Kejadian terakhir yang menimpanya cukup membuatnya syok dan masih membuatnya cukup waspada.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Jon memecah pikiran Sabi yang berkeliaran memikirkan kejadian tadi.
"Hm.." Sautnya lirih.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku Jon." tanya Sabi, menatap Jon tajam.
"Pertanyaan apa?" tanya Jon bingung, sambil duduk disamping Sabi dengan membawakan 2 cangkir teh herbal.
"Pertanyaan tadi." jawabnya menatap secangkir teh yang sudah kosong.
"Ooh.. yang tadi." seru Jon tersenyum, mengulurkan sebuah cangkir teh didepan mereka. Tepatnya didepan kursi kosong yang ada didepan mereka.
"Kenapa meletakkannya disana? bukannya itu untukku?" protes Sabi, lalu menarik gelas teh itu kedepannya.
Plaakk! Tiba - tiba saja Jon memukul tangan Sabi hingga dia mendesis nyeri.
Tangan Jon yang besar dan kokoh tentu saja akan membuat siapa saja mendesis jika dipukul menggunakan tangan itu. Tangan pekerja keras yang membawanya ke gerbang kesuksesan seperti sekarang ini.
"Ini bukan untukmu!" cetus Jon, seraya mengembalikan teh itu ketempatnya tadi.
"Kamu kan sudah punya teh, jadi yang ini untuknya." Sambungnya lagi, sambil tersenyum.
"Siapa?"
"Orang yang akan menjawab pertanyaanmu tadi." jawab Jon.
Ha? siapa? pegawai pria tadi? atau jangan - jangan si hantu?
"Jon.. kamu sudah gila? kalo kamu punya dendam kesumat sama aku, bukan gini caranya Jon. " Sabi mulai merinding menatap kesekitar.
"Gila kenapa? nah kan kamu mau aku jawab pertanyaan kamu tadi, yaa beginilah caraku menjawab."
"Gila kamu joon.. Gilaaa! bisa - bisanya kamu mau manggil hantu psikopat itu. Kamu mau liat aku mati berdiri hahh?!" teriak Sabi kesal.
"Siapa yang kamu katai hantu psikopat?" Sahut seseorang yang rupanya baru datang dan mendengar perkataan mereka.
Sabi dan Jon melirik ke asal suara. Jon tersenyum manis menyambut kedatangan tamunya itu. Namun berbeda dengan Sabi, dia justru berteriak ketakutan.
"Aaaaaaaa....!!!"
Dengan sekuat tenaganya, dia melemparkan bantal kursi ke arah tamu yang rupanya gadis tadi yang melemparinya dengan botol anggur.
"Berhenti!" Ucap gadis itu sambil menghindari bantal - bantal yang dilempari Sabi dengan mudah.
Sabi tak mendengar, dilemparinya terus bantal kursi yang ada didekatnya. Hingga tidak ada lagi bantal kursi yang tersisa, diliriknya lagi gelas tehnya yang kosong. Dengan cepat dilemparnya gelas kosong itu pada gadis yang dibencinya.
"Jangaaaaaan..." teriak Jon.
Plak!
Gelas itu nendarat tepat dikepalan tangan gadis itu.
Jon melotot melihat kepiawaian gadis itu dalam menangkap gelas yang dilemparkan Sabi, semacam ada rasa lega dibatinnya.
Sementara Sabi melotot tak percaya dengan apa yang dilihatnya, dikedip - kedipkannya kedua matanya, namun keadaan tak berubah. Gadis itu masih dengan posisi tenang menangkap gelas yang dilemparnya.
Plaaakk!!!
Tiba - tiba secepat kilat, gadis itu melemparkan kembali gelas kosong itu dengan santainya. Hingga membentur sempurna mengenai lemari kaca yang ada dibelakang Sabi.
"Aaaaaa...!" teriak Sabi dan Jon histeris.
"Jangan coba - coba memancingku." ucap gadis itu santai.
"Heyy.. itu lemari kesayanganku. Aku membelinya diluar negeri." rengek Jon melihat kaca lemarinya yang pecah berserakan bersama gelas teh.
"dan gelas itu juga mahal." Sambungnya menatap nanar serpihan gelas yang pecah.
"Notakan saja, akan ku ganti." Ucap gadis itu memandang Jon remeh.
Tanpa dipersilahkan oleh siapapun, gadis itu segera duduk dengan anggunnya di kursi yang telah disiapkan oleh Jon. Tepat didepan Jon dan Sabi.
"Joooon.." rengek Sabi.
"Dia ini manusia! manusiaaaa!" ketus Jon kesal.
Sabi mendelik, melirik gadis itu lamat - lamat. Berusaha mempercayai bahwa yang dikatakan Jon benar, dan benar saja yang dikatakan Jon ada benarnya. Tidak mungkin dia hantu. jika dia hantu, Jon bisa melihatnya. Meskipun dia masih seganas tadi, namun saat gadis itu berjalan untuk duduk, kakinya menginjak tanah. Mana ada hantu yang kakinya menginjak tanah bukan, kecuali mungkin dia pocong. Mana bisa pocong melompat jika kakinya tidak mengenai tanah.
Oke, dia manusia. Gumam Sabi mengangguk - angguk setelah memperhatikan gadis itu lamat - lamat.
Tapi.. kenapa bisa ada gadis dengan kelakuan se bar - bar ini.?! Apakah dia mantan tentara? atau agen mata - mata?! Gumamnya lagi dengan hayalan tingkat tingginya.
"Kenapa?" tanya gadis itu.
"Tidak!" jawab Sabi ketus.
"Oke Sabi.. langsung saja yaa.." seru Jon, memecah ketegangan diantara mereka ber dua.
"Perkenalkan, gadis didepanmu saat ini adalah Queen Lee. dan dia adalah seorang manusia. Bukan hantu - hantu club, oke?!" Sambung Jon memperkenalkan gadis yang ada didepan mereka.
"Apa kamu bodoh? bisa - bisanya orang sehebat dan secantik diriku adalah hantu." Sambung Queen sambil mengibaskan rambut cokelat bergelombangnya.
"Wajahmu terlalu jelek, makanya tadi aku pikir kamu hantu." ucap Sabi santai, membuang pandangannya.
Hah? Apa?!
Brukkk!!!
Queen menendang kaki Sabi tepat ditulang keringnya hingga dia berteriak kesakitan.
"Aaaa....!!!"
"heey.. apa kamu sudah gila? haahhh?"
"Orang yang suka boddy shaming berhak mendapat hal yang buruk, karena mereka sama sampahnya dengan sampah. Bahkan mungkin lebih buruk dari itu." ujar Queen tersenyum melirik Sabi yang merintih kesakitan.
"Itu gurauan. Gurauaaann! kamu tidak tau gurauaan haahh? gurauan itu bercandaa!" teriak Sabi kesal masih dengan mengelus - elus kakinya.
"Tidak ada yang patut dibercandakan dari fisik seseorang. Mungkin bagimu itu gurauan, namun bagiku itu bukan gurauan."
"Oke.. oke.. pliss berhenti. Ini ceritanya kalian dipertemukan untuk mendamaikan kalian berdua, bukan malah tambah bersitegang seperti ini." lerai Jon.
"Dia duluan." Sabi membela diri.
"Kamu yang duluan!" Bantah Queen dengan sedikit ngegas.
"Biasa aja kali! tidak usah ngegas!" serang Sabi.
"Stoooooppp! stoooooopp!!!" Teriak Jon yang mulai depresi dengan pertemuan ini. Berusaha menghentikan perdebatan diantara Sabi dan Queen.
"Kalian berdua ini bisa tidak berhenti bicara sedikit hah?!"
"Pokoknya alur pembicaraan ini, saya yang akan pimpin dan arahkan. Kalian berdua, kalau ada yang ngegas atau banyak bantah bakalan kena sanksi." Jelas Jon berusaha menguasai pembicaraan hingga Sabi dan Queen sama - sama memilih diam.
"Sangsi_"
"Stop!" teriak Jon menghentikan Sabi yang baru saja bicara.
"Sangsinya harus menggunakan kuasa kalian masing - masing untuk meminta maaf kepada tamu hotel yang telah kalian buat kaget akan insiden tadi." Sambung Jon tersenyum licik melirik Sabi dan Queen secara bergantian.
"Baik." Saut Queen santai.
Sabi yang melihat Queen, juga tak mau kalah dari Queen dan segera angkat bicara.
"Okkeee... mudah!"
"Baik.. baik.." Jon memulai pembicaraan serius.
"Jadi begini_"
Tiba - tiba sebuah nada dering terdengar, memotong pembicaraan serius Jon yang baru saja akan dimulai.
"Apa lagi ini? baru juga mulai!" keluh Jon mendengus nafas kesal.
"Maaf.." Queen berdiri dari tempat duduknya, mengangkat telfon yang berdering dari dalam tasnya.
"Maaf.. maaf.. dasar!" ejek Sabi melirik Queen sinis.
Saat mengangkat telefon, Queen tak lagi mempedulikan Sabi yang terus mengejeknya di belakang. Baginya satu panggilan itu adalah sesuatu yang penting, hingga tidak boleh dia lewatkan sedikitpun.
Selang beberapa lama kemudian, Queen kembali menatap Jon dan Sabi yang sedang menunggunya. Sabi membalas tatapan Queen dengan tatapan sinis dan jengkel, hingga nampak dia mengepalkan tangannya seolah - olah dia siap akan bergulat dengan Queen.
"Maaf.. Saya tidak bisa melanjutkan pembicaraan ini, ada hal penting yang harus kulakukan."
"Jadi menurutmu pembicaraan ini tidak penting gitu?!" Sergah Sabi dengan lirikan kesal.
"Yaa begitulah.." jawab Queen santai.
"Ciiih." Sabi mendesis sinis.
"Sudah Sabi hentikan!" Lerai Jon.
"Iya pergilah Queen.. nanti kita akan bicarakan kembali." Sambung Jon mempersilahkan Queen pergi.
"Ngga bisa gitu dong!" Teriak Sabi menghentikan langkah kaki Queen yang baru saja melangkah.
"Yang tersakiti disini itu aku, setidaknya kalau mau pergi ya minta maaf lah dulu. Bukan main pergi kayak gini. Dasar!"
Queen berbalik menatap Sabi dengan tatapan datar, tak sedikitpun terlihat sebuah goresan senyum dibibir kecil nan merahnya. Dia lalu menghela nafas panjang berusaha berpikir tenang, agar dia lekas pergi dari tempat itu.
"Untuk apa aku meminta maaf jika yang salah itu adalah kamu."
"Apaa?!" Mata Sabi membulat sempurna mendengar ucapan singkat Queen yang mampu membuatnya kembali memanas.
"Sudah gila kamu hahhh?!" teriaknya lagi.
"Jon.." Panggil Queen melirik Jon yang masih memegangi tangan Sabi.
"Jelaskan padanya, oke?! Saya terlalu malas berurusan dengan orang sepertinya. Tidak ada guna." Ucapnya lalu pergi meninggalkan Jon dan Sabi.
"Apa?! kamu yang ngga guna!" Teriak Sabi kesal berusaha menyusul Queen namun Jon semakin mempererat gandengannya hingga Sabi tidak bisa bergerak.
"woiiii! jangan pergi woii! sini satu lawan satu! Dasaarr! psikopat gilaaa!"
Bersambung..