
Merasa ada yang terjadi dengan tubuhnya, alam bawah sadar Queen dengan cepat langsung mengirim sinyal untuk bangun dan membuka matanya perlahan.
Apa ini?
Matanya perlahan melihat ke sekitar, otaknya pun berusaha mencerna apa yang terjadi. Karena seingatnya tadi, sepertinya dia tertidur saat duduk bersama dengan Sabi. Tapi kenapa dia sekarang dalam posisi berdiri dan tengah bersandar pada pelukan seseorang?!
Wait!!!
Queen memejamkan matanya sekali lagi, dan menarik nafas, memastikan apakah dia sedang bermimpi atau tidak.
Bau parfum ini, kenapa seperti ... baunya?!
Sekali lagi dia menarik nafasnya, mencium bau parfum Zayn yang sangat familiar di hidungnya.
Astagah, demi apapun. Ini baunya Zed!
Senyumnya merekah, akhirnya setelah sekian lama dia bisa mencium bau Zed lagi dengan jelas seperti ini. Dia semakin yakin bahwa dia sedang bermimpi.
Oh mimpi, terimakasih. Meskipun hanya dalam mimpi, setidaknya aku bisa mencium baunya lagi. Aku seperti berada dipelukannya sekarang!
Eh tunggu, bukankah aku memang sekarang sedang dipelukan seseorang?! Berarti sekarang aku sedang bermimpi dipeluk Zed! Wah, luar biasa!!!!
Queen tersenyum girang dalam pelukan Zayn. Tangannya langsung membalas pelukan Zayn yang dia pikir hanya mimpi.
Zayn langsung terkesiap, saat menyadari Queen membalas pelukannya. Dirasakannya tangan gadis itu mulai melingkar di tubuhnya, memeluknya erat.
“Maaf, apa anda sudah bangun?” Tanya Zayn memastikan keadaan Queen.
Bahkan aku bisa mendengar suaranya. Aaaaa!!!!
Queen semakin mengeratkan pelukannya, rasanya dia tidak ingin bangun dari mimpi ditengah bolongnya ini. Mimipi ini begitu nyata dan begitu membahagiakan, pikirnya.
“Queen Lee.” Panggil Zayn berusaha membangunkan Queen.
“Sepertinya dia sangat senang dipeluk oleh anda, tuan.” Seru Ridwan, tersenyum tipis melihat mereka berdua.
“Queen Lee ... bangun!” Zayn langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Queen, lalu mendorongnya menjauh hingga Queen hampir tersungkur ke lantai.
“Awww ...” keluh Queen, berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Hampir saja dia terjatuh.
Apa ini? Kenapa mimpi ini terasa begitu nyata?! Gumamnya memperhatikan ke sekitar.
Seluruh mata tertuju padanya, terkecuali Zulaikha yang fokus memperhatikan Sabi yang tertidur di bahunya.
“Apa ini? Kenapa kalian berdua, eh bertiga ada dalam mimpiku?!” Gumam Queen menunjuk ke arah Ridwan, Sabi dan Zulaikha.
Ridwan langsung membuang mukanya, berusaha menyembunyikan ekspresi ketawanya. Sedangkan Zayn, mendesis melihat Queen yang berpikir apa yang terjadi barusan adalah mimpi.
“Tidurmu pasti sangat nyenyak sampai berpikir ini adalah mimpi.” Ucap Zayn, menatap Queen tajam.
“Jadi ini bukan mimpi?” Timpal Queen, mengerjapkan matanya beberapa kali.
“Pukul saja dirimu untuk memastikannya.”
Ucapan dan tatapan dingin Zayn, langsung menghantam akal sehatnya. Membuatnya langsung sadar bahwa benar ini bukan mimpi.
Tapi ada hal aneh yang mengganjal di kepalanya. Jika ini bukan mimpi, lalu kenapa Zayn bisa memeluknya seperti tadi?! Bahkan semenjak sikap Zayn berubah beberapa tahun yang lalu, jangankan memeluk seperti tadi, memegang tangannya pun Zayn tidak mau.
Apa dia sudah kembali seperti dulu?! Gumam Queen, tersenyum lebar pada Zayn.
“Kenapa kamu melihatku seperti itu?” Tanya Zayn semakin menatapnya tajam.
“Jika ini bukan mimpi, lalu kenapa kamu memelukku?! Apakah kamu_”
Zayn langsung mendesis kuat, berusaha mencegatnya agar tidak mengatakan hal aneh yang bisa didengar oleh Zulaikha.
“Sepertinya kamu harus mengontrol dirimu ke dokter ahli jiwa.” Tegas Zayn, tidak membiarkan Queen mengeluarkan sepatah katapun. “Bisa-bisanya kamu tidur berjalan seperti itu dan langsung memelukku. Sungguh tidak sopan.” Sambungnya.
“A apa? Tadi aku tidur berjalan?!”
Zayn mengangguk, membenarkan pertanyaan Queen. “Jika kamu tidak percaya, kamu bisa menanyakannya langsung pada mereka berdua yang ada disini.” Jawab Zayn, ketus.
“Tidak mungkin!” Bantah Queen, yakin. Seumur hidupnya dia yakin tidak pernah tidur berjalan. Pasti ada sesuatu yang salah disini.
“Maaf Nona, tuan Zayn mengatakan yang sebenarnya.” Celetuk Ridwan, menatap Queen dengan tatapan meyakinkan.
“What?! Benarkah?!”
“Iya Nona, saya juga menyaksikan anda tidur sambil berjalan tadi.” Sambung Zulaikha yang tiba-tiba menyahut.
“Tidak, saya tidak pernah tidur sambil berjalan sebelumnya. Jika tidur berantakan mungkin iya, tapi tidak dengan tidur sambil berjalan.” Queen menolak mempercayai mereka semua. Dia sangat yakin dengan dirinya. Tidak ada yang lebih mengenalnya selain dirinya sendiri. Jadi dia tidak akan percaya bahwa tadi dia tidur sambil berjalan.
“Mungkin anda terlalu lelah, nona Queen Lee.” Ucap Ridwan, yang tetap tidak dipercaya oleh Queen.
Queen melirik Zayn yang tengah berdiri tak jauh darinya. Lelaki itu seperti biasa tetap menatapnya tajam dan dingin, tanpa belas kasih.
“Tidak, aku tidak_”
“Terserah anda nona Queen Lee, karena tuan saya Zayn Adijaya tidak mungkin akan memeluk anda tanpa alasan. Coba anda pikirkan baik-baik.” Sergah Ridwan, yang ngotot menyembunyikan kebohongan Zayn.
Queen terus melirik Zayn, mencoba mencari gelagat dari orang yang sedang berbohong. Tapi lelaki itu terlihat seperti biasa, dingin dan sedang memasukkan tangannya ke saku celananya.
Benarkah? Benarkah aku yang salah?!
“Nona Queen Lee, daripada anda terus mempermasalahkan perihal pelukan. Sebaiknya anda fokus bekerja.” Tegur Zayn. “Saya sudah meluangkan waktuku yang berharga untuk jauh-jauh datang kemari dan anda membuatku merasa sia-sia membuang waktuku yang berharga.” Cerca Zayn, menatap dingin Queen Lee.
“Benar, nona Queen Lee. Sebaiknya anda bergegas, karena kami memiliki agenda penting setelah ini.” Timpal Ridwan.
“Ah, iya. Maaf.” Sahut Queen, pelan. “Silahkan ikuti saya.” Ucapnya, mengajak Zayn dan Ridwan mengikutinya melihat pakaian yang telah dia buat.
Zayn dan Ridwan pun mengikutinya dari belakang, melihat beberapa desain yang ada di ruangan itu dan tak lama kemudian Ella dan Joy masuk membawa teh dan beberapa kue.
Setelah meletakkan teh dan kue di atas meja, Ella dan Joy tersenyum melihat aktifitas Queen bersama dengan Zayn. Meskipun mereka terlihat bersama karena urusan pekerjaan, tapi itu terasa lebih baik bagi mereka daripada tidak sama sekali.
“Pemandangan yang indah, dan juga sedih.” Gumam Ella, sembari menarik nafasnya perlahan.
Zulaikha yang tak sengaja mendengarnya, jadi fokus melihat ke arah Queen dan Zayn yang tengah membicarakan perilahal event dan pakaian yang akan dikenakan oleh model.
Apakah mereka juga akrab?!
Bersambug ...