FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
8. Teman Lama



Sabi menatap lamat-lamat pantulan dirinya didepan cermin sembari mengingat-ingat mimpinya semalam. Didalam kamar mandinya, dia terus memikirkan mimpi buruknya yang membuat pikirannya saat ini sangat tergganggu. Namun dia tidak bisa berbuat banyak, termasuk mengunjungi dokter spesialis jiwa maupun spikolog.


Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar terbuka, disusuli dengan suara langkah kaki sepatu wanita yang nampaknya sudah tidak asing bagi Sabi. Sabi hanya diam mematung dan tak bersuara, berharap orang itu segera keluar dari dalam kamarnya.


" Ibu tau kamu didalam... " Ucap Ibu memangku tanggan dipinggangnya yang ramping, sambil berdiri didepan pintu kamar mandi Sabi.


Kalau begitu pergilaah buu.. aku sedang tidak ingin membicarakan apapun dengan Ibu.


" Ibu tau kamu tidak akan keluar. Tapi... Ibu hanya ingin mengatakan bahwa itu hanyalah mimpi buruk, kamu tidak perlu bertemu dengan dokter spesialis jiwa atau spikolog atau apapun itu namanya kamu tidak butuh itu."


Lalu aku harus bagaimana? pikiranku semakin kacau bu... Sabi menghentakkan tangannya ke dinding.


" Kamu.... " tiba - tiba saja perkataan Ibu terpotong ketika seorang lelaki dengan setelan jas yang sangat rapih masuk ke kamar Sabi yang ternyata adalah pamannya, Andi Syafar.


"Apa yang terjadi padanya? kudengar dia bermimpi buruk lagi semalam."


Sial! dia tau darimana tentang Sabi semalam?! Geram Ibu.


"Aku sudah bilang padamu, bawa Sabi berobat keluar negeri. Dokter - dokter disana pasti bisa menyembuhkannya." Sambung paman Andi Syafar dengan raut wajah hawatir.


"Maaf kak.. Sabi tidak sakit. Lagi pula dia juga baru diangkat sebagai direktur, pasti banyak pekerjaan di kantor yang menantinya." Ucap Ibu dengan geram sambil tetap mempertahankan senyuman manisnya didepan kakak iparnya.


Tiba - tiba paman terkekeh..


"Hahaha.."


"Apa kamu bergurau? Mana mungkin orang sehat bisa bermimpi buruk setiap malam selama beberapa tahun dan tidak kunjung hilang, bahkan sekarang dia bermimpi sambil mencekik lehernya!" Ujar paman dengan wajah yang mulai serius dan tatapan yang tajam.


Ibu tertegun mendengar kata - kata yang terlontar dari mulut paman, yang baginya itu bagai sebuah hinaan.


"Bawa dia keluar negeri besok untuk berobat, walau bagaimanapun dia adalah keponakanku. Meskipun sudah jauh sekali..."


Paman melirik Ibu dan mendapati ekspresi kesal pada wajah wanita separuh baya itu. membuatnya merasa menang.


Kurangajarr! Maki ibu dalam hati.


"Sabi tidak..." ucapan Ibu segera terpotong oleh suara paman yang lebih besar.


"Sabi tidak perlu datang ke kantor, biar urusan kantor akan diambil alih oleh Zayn." potong paman sambil berbalik meninggalkan Ibu yang masih berdiri kesal menatap punggungnya.


Kamu rupanya ingin bermain api denganku Syafar! Bentak Ibu dalam hati.


Sabi yang mendengar hal itu semakin merasa frustasi. Dia merasa sangat tidak berguna bagi siapapun. Mimpi buruk yang selalu dialaminya merupakan aib bagi ibunya, dan ketidakhadirannya di kantor adalah sebuah keuntungan bagi pihak lain.


Lalu aku harus bagaimana? sampai kapan aku akan menyimpan ini semua dan menahannya?! Sabi menempelkan kepalanya di dinding sambil membenturkan kepalanya beberapa kali berusaha untuk membuka pikirannya.


Suara Ibu yang tak lagi terdengar, mungkin menandakan Ibu telah keluar dari kamar. Sabi segera menarik dirinya dari dinding dan berjalan keluar dari kamar mandi. Baru saja dia membuka pintu, Ibu sudah menyambutnya diluar pintu dengan tatapan tajam dan menusuk.


"wadduh!" seru Sabi terkejut.


"Hari ini kamu tidak perlu pergi ke kantor, dan sebentar malam jangan lupa minum obat tidurmu dan kunci pintumu rapat - rapat. Jangan sampai kejadian ini terulang kembali!" cetus Ibu lalu pergi meninggalkan Sabi yang masih berdiri terkejut lengkap dengan handuk putihnya yang melingkar menutupi bokongnya.


Seketika wajah Sabi muram mendengar perkataan Ibunya, yang selalu berusaha menutupi kekurangannya. Sudah 8 tahun lebih dia mengalami mimpi buruk yang tak kunjung hilang, dan selama itu pula Ibu selalu berusaha menutupi apa yang dideritanya.


Bagi Ibu, ketika seseorang berkunjung ke dokter jiwa atau psikolog, artinya orang tersebut mengalami gangguan jiwa dan ketika seseorang mengalami gangguan jiwa, maka nilai seseorang itu akan turun dimata orang lain. Sangat tidak pantas untuk menjadi seorang pemimpin bagi banyak orang, terutama dalam hal memimpin sebuah perusahaan.


Ibu tidak mau itu terjadi pada Sabi, karena Sabi adalah anak sempurna dan pantas untuk menjadi pemimpin di Mall mereka. Sebab itu, Ibu selalu melarang bahkan mencegat Sabi untuk tidak pernah berkunjung ke dokter spesialis jiwa maupun psikolog.


***


Sementara di sebuah ruangan, terlihat Zayn sedang duduk di kursinya sambil meresapi teh nya dengan tenang. Menikmati pemandangan kota dari kaca jendelanya yang menghadap langsung ke kota. Ruangan kantornya tertata dengan rapih, bernuansa hitam abu - abu.


*Tookk.. tookk! Tiba - tiba saja pintu diketuk oleh seseorang.


Zayn segera memencet sebuah tombol yang ada di mejanya sehingga pintu terbuka secara otomatis.


"Maaf pak.. ini ada paket bunga untuk bapak Zayn Adijaya." seru seorang pegawai kantor wanita.


"Hmm.. bunga?" Zayn melirik kearah wanita yang memegang paket bunga itu.


"iya pak bunga.." seru pegawai itu dengan tersenyum ramah.


Mata Zayn langsung terpaku pada buket bunga Lily putih yang dibungkus dengan kain berwarna hitam serta pita berwarna pink yang tak luput lupa terlingkar rapih pada buket.


"Apakah pengirimnya berinisial LW?" tanya Zayn.


"Iya pak, disini tertulis from Lily white."


Apa? Lily?


Zayn segera bangkit dari tempat duduknya menghampiri pegawai wanita yang masih tersenyum melihat indahnya bunga yang dia pegang.


"Segera keluar dari ruangan saya." pintah Zayn sambil mengambil buket bunga lily dengan tatapan dingin.


Pegawai wanita itu segera keluar dengan perasaan takut dan merasa bersalah karena membuat seorang Zayn mengeluarkan hawa dinginnya. Ketika Zayn mengeluarkan sisi dinginnya kepada seseorang maka dia sedang marah pada orang tersebut, dan jika dia marah maka sekertaris pribadinya yaitu Ridwan yang akan segera mengeksekusi orang tersebut.


Zayn berdiri di jendela menatap ramainya pengunjung yang datang menghampiri mall, sembari meremas bunga lily yang dipegangnya.


Ternyata selama ini itu kamu...


Lily.. Sekarang apa lagi yang akan kamu lakukan?! Zayn menatap bunga Lily putih itu dalam - dalam sambil membelainya dengan lembut.


Kembali ke kediaman mewah rumah Andi. Disebuah balkon, terlihat seorang pria dengan pakaian serba hitam dengan kepalanya ditutup dengan topi dan jeket berwarna hitam menatap sambil mengukur ketinggian balkon dengan tanah dengan mengira - ngira tanpa alat ukur. Pria itu melakukan beberapa peregangan untuk melompat dari balkon yang tingginya sekitar 7 meter.


"1... 2... 3... haaaa!" seru lelaki itu berusaha melompat ke bawah.


"haaaa.. uuuhh tidak tidak tidak!!!" lelaki itu berteriak ketakutan. mundur kebelakang, membatalkan niatnya untuk melompat.


Lelaki itu menurunkan topi jaket yang menutupi wajahnya yang ternyata adalah Sabi.


"Heeeeyyooo...!" sapa seorang lelaki dari belakang Sabi.


Sabi terperanjak kaget, merapatkan dirinya ke tembok, menjaga dirinya agar tidak jatuh kebawah.


"Hey.. bruuh.. kamu sedang apa disitu?" Tanya lelaki itu yang heran melihat Sabi seperti pencuri yang sedang ketahuan beraksi.


Sabi meliahat kearah lelaki yang menyapanya. Lelaki itu mengenakan jaket denim hitam yang robek sana sini seperti jaket yang belum selesai dijait, celana pendek diatas lutut berwarna abu - abu dan rambut kriwil yang melambai - lambai bahagia akibat diterpa angin.


"Joon?" tanya Sabi ragu - ragu, memastikan.


"yaaaa..." sahut lelaki itu yang ternyata bernama Jon.


"Jon kriboo?" Sabi bertanya lagi, memastikan.


"Amboy..." desah Jon yang mulai kesal dengan Sabi yang menyebutnya kribo.


"Jon kriboo jorok dekil kucel bau yaa kan?" Sabi mendekat ke tempat Jon berdiri. memastikan sendiri.


"Ambooy! lengkap banget! iya.. ini akuu! Jon kribo jorok dekil kucel bau yang suka bolos sekolah bareng kau!" Bentak Jon kesal.


"waaaaa... Jooooon!" teriak Sabi sambil melompat memeluk Jon yang masih berdiri kesal menatap Sabi.


"Wadaaww! wadaaww! wadddawww!" seru Jon yang berusaha menyeimbangkan badannya karena Sabi benar - benar memeluknya membuatnya kesulitan berdiri.


"hehhh.. turun! turun skarang tak?! kamu berat tau! dosa kamu makin banyak kayaknya ini." sambung Jon yang berusaha membuat Sabi turun dsri tubuhnya.


setelah sedikit berusaha, akhirnya Jon berhasil menyingkirkan Sabi yang bergantungan padanya.


"Saya pikir setelah kuliah diluar negeri kamu bakalan berubah jadi lebih dewasa atau apalah gitu.. ternyata masih sama saja!" keluh Jon melirik Sabi sambil memberi Sabi satu pukulan yang ternyata bisa ditangkis oleh Sabi.


"kamu juga ngga berubah.." balas Sabi sambil membalas pukulan Jon.


" apa kamu bilang? tidak berubah? heee..." seru Jon menangkap leher Sabi lalu menaruhnya dibawah ketiaknya.


"coba kamu liat ee kutu! itu lalu sepeda ontel yang saya naiki setiap hari ke sekolah sekarang sudah berubah jadi mobil BMW meen!" Sambil menunjuk kearah mobil BMW merah yang terparkir di depan rumah Sabi.


"sekarang usaha kontrakan ibu bapak saya sudah berubah jadi usaha hotel meen! sekarang saya punya hotel sudah 2, dan saya punya 1 diskotik meeen!" Jon dengan bangganya memamerkan kesuksesannya.


"widiih.. gitu aja sombong!"


"Bukan sombong kutu! tapi cuma mau kasih tau, bahwa seorang Jon Kribo sekarang sudah berubah jadi orang sukse meeen!" Jon terkekeh sambil melepaskan Sabi dari ketiaknya.


"kamu memang kan belum berubah kriboo!" teriak Sabi didepan wajah Jon dengan sedikit terkekeh.


"Banjiiirrr!" seru Jon mengelap pancaran liur Sabi diwajahnya. "Apanya yang berubah?"


"Bau kamuuuu! hooouuu!!!" teriak Sabi sambil tertawa. memukul Jon.


Jon tertawa dan menerima pukulan Sabi yang tidak berasa sakitnya.


Begitulah kedua orang itu, berteman dari masa SMA hingga harus terpisah ketika lulus SMA. Sabi melanjutkan kuliahnya di amerika sementara Jon melanjutkan kuliahnya di Eropa dengan mendapat beasiswa. Namun siapa sangka kedua manusia itu tetap akrab meskipun telah terpisah beberapa tahun.


Namun tiba - tiba saja sebuah ide melintas dikepala Sabi yang membuatnya tiba - tiba merangkul Jon.


"Apakah?" tanya Jon heran.


"Kamu bisa bantuin aku ngga?" Bisik Sabi.


"Bantuin apa?"


~Bersambung~



Disebuah bandar udara Paris - Charles de Gaulle. Terlihat seorang gadis muda dengan rambut pirangnya yang berombak terurai panjang sampai dipinggangnya yang ramping. Beserta pakaian yang rapih dan juga styles, gadis muda itu membenarkan kacamata hitamnya yang bertabur mutiara disetiap gagangnya agar lebih pas terduduk dihidungnya yang mancung.


"Aku lelah menunggumu ditempat ini. sebelum waktuku habis, aku akan menjemputmu. Tunggu aku.." ucap gadis muda itu sambil berjalan masuk kedalam bandara bersama dengan koper Pinknya yang berbulu.


Beberapa orang dibelakang gadis itu, dengan wajah eropa yang khas dibaluti dengan pakaian jas hitam rapih lengkap dengan dasi dan sepatu kulit hitam membungkuk melihat gadis muda itu masuk kedalam bandara seorang diri.