
*Tok tok tok ...
Seorang karyawan lobi, mengetuk pintu ruangan Zayn lalu membukanya perlahan.
Didalam ruangan, Ridwan dengan sigap langsung berdiri dan berjalan laju mendekati pintu. Seakan-akan berusaha mencegat orang yang tidak diinginkan datang masuk ke dalam ruangan Zayn.
Sosok gadis muda dengan pakaian seragam khusus karyawan lobi, muncul bersama sebuah bunga lily putih di tangannya.
Ridwan menatap bunga itu dengan sedikit bingung sekaligus merasa ada yang kurang. Segera dia membuka pintu ruangan Zayn, selebar mungkin untuk mengecek apakah ada orang lain yang datang selain karyawan lobi itu.
Kosong, dan tidak ada siapapun atau sosok Queen yang dia bayangkan yang datang membawa bunga itu.
Ridwan mendesis lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Seolah merasa aneh, jika bukan Queen sendiri yang mengantarkan bunga ini. Karena gadis itu selalu berusaha datang sendiri untuk mengantarkan bunga itu pada Zayn.
“Ada apa Wan?” Zayn mendelik heran melihat tingkah Ridwan yang seperti orang kebingungan.
“Ah ... tidak, tuan muda.” Sahut Ridwan, tersenyum pada Zayn.
Zayn kembali pada pekerjaannya, dan Ridwan mengambil bunga itu dari tangan karyawan lobi. Sekali lagi, mata Ridwan terus melihat ke arah luar pintu berharap ada sosok Queen di luar sana yang sedang mengintip, melihat bunganya sampai dengan selamat di ruangan Zayn. Namun nihil, sampai karyawan lobi itu keluar lalu menutup pintu ruangan Zayn kembali, sosok Queen tetap tak terlihat.
“Aneh ...” gumam Ridwan, memutar dan memeriksa bunga lily putih itu secara teliti. Barangkali ada sebuah surat atau apapun yang Queen letakkan disana.
Zayn menarik nafas panjang. Mengetuk mejanya, kesal dengan kegaduhan yang dibuat Ridwan.
“Ada apa denganmu?”
Ridwan menengok ke arah Zayn, lalu mengangkat bunga itu. Menunjukkannya pada Zayn.
“Kenapa memangnya bunga itu?” Tanya Zayn, heran melihat bunga yang tidak asing di matanya.
“Tidak, tuan muda. Hanya saja aku merasa ada yang aneh.” Ridwan mendudukkan dirinya di sofa sambil terus menatap bunga itu lekat-lekat.
“Hm?” Gumam Zayn yang terus mendengar.
“Tidakkah ini terlalu mudah untukku hari ini?!”
Zayn terus diam, mendengar celotehan Ridwan.
“Biasanya gadis gila itu yang mengantarkan bunga balon putih ini ke ruangan anda, tuan. Bahkan meskipun dilarang dan sekuat apapun kita menolak kedatangannya, dia tetap datang dengan segala cara untuk memaksa masuk. Bahkan sampai membuatku cedera beberapa kali.” Ridwan meletakkan bunga lily itu di atas meja, namun masih belum mengalihkan pandangannya dari bunga lily itu.
Zayn bangkit dari tempat duduknya, berjalan mendekati Ridwan.
“Tidakkah aneh menurutmu? Ini terasa terlalu mudah. Bahkan beberapa hari yang lalu, aku masih bergulat dengannya hanya karena dia ngotot masuk ke ruangan anda, tuan.” Ridwan melirik Zayn, merasa ada sesuatu yang aneh.
Dengan wajah datarnya, Zayn menatap bunga yang tergeletak di atas meja.
“Memangnya kenapa jika dia tidak datang?!” Tanya Zayn.
“Aku hawatir, tuan.” Sebuah kegusaran muncul diwajah seorang lelaki yang ber image sangar.
“Ada apa denganmu, Wan?” Zayn terkekeh, menyeringai pada Ridwan.
“Aku hawatir tuan, jangan-jangan dia terluka. Karena beberapa hari yang lalu aku menghadangnya tidak lagi menganggapnya seorang wanita, tapi menganggapnya seorang pria.” Ridwan mengingat-ingat kembali perkelahiannya dengan Queen, beberapa hari yang lalu.
“Jadi, apakah dia terluka atau pingsan saat melawanmu?” Zayn memasukkan kedua tangannya di saku celananya, dan terus menyimak apa yang dikatakan Ridwan.
“Tidak, tuan.”
“Lalu?”
“Meskipun saya sudah menganggapnya sebagai seorang pria, saya tetap kalah dari dia, tuan.” Sahut Ridwan, menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
Ridwan tersenyum malu melihat Zayn yang sedang menatapnya tajam.
Segera Zayn memutar bola matanya. Dia pikir Ridwan yang akan menang kali ini karena sekertaris maconya itu sudah sangat menghawatirkan lawan berkelahinya. Namun nyatanya, Ridwan tetap kalah melawan Queen. Jadi untuk apa menghawatirkan seorang pemenang?! Seharusnya Ridwan menghawatirkan harga dirinya yang sebagai seorang pria bisa kalah dari seorang wanita.
Zayn menarik nafasnya dalam-dalam, sambil menutup kedua matanya. Berusaha untuk tetap tenang dengan ucapan Ridwan, yang seakan memancing kegeramannya.
“Tapi meskipun dia yang menang, aku tetap hawatir, tuan.”
“Berhenti bicara. Kamu terlalu membuang-buang waktu, dengan segala over thingkingmu.” Sergah Zayn, berusaha tidak mau mendengar apapun yang Ridwan ucapkan lagi.
“Bagaimana jika dia terluka, tuan? Karena ... meskipun dia pandai berkelahi, tapi ... dia seperti orang yang sangat rapuh.” Imbuh Ridwan, masih belum mau berhenti menghawatirkan Queen.
“Hey ... hentikan over thingkingmu tentangnya. Aku kenal dia dengan sangat baik. Dia seperti 5 tentara wanita dalam 1 tubuh. Dia kuat, baik itu tubuh maupun hatinya. Bahkan belum ada satu orang wanita yang pernah ku temui, bisa sekuat dari dia.” Zayn membantah argumen Ridwan tentang Queen, sambil mengingat-ingat betapa tangguh dan tegarnya Queen, dulu saat mereka masih bersama.
“Seberapa dekat anda dengannya, tuan?”
“Kami tidak dekat. Kami hanya sekedar saling kenal.” Jawab Zayn singkat, menatap bunga lily itu lekat.
Ridwan mendesis, merasa ada yang aneh antara Zayn dan Queen.
“Iya sepertinya anda benar, tuan. Karena jika anda begitu dekat dengannya, anda pasti tau bahwa dia tidak setangguh yang anda pikirkan.” Celetuk Ridwan, meraih bunga lily itu.
“Apa maksudmu, Wan?” Zayn menatap tajam Ridwan, melihat sekertaris pribadinya itu membawa bunga lily putih itu menuju tempat sampah.
“Jika seseorang benar-benar dekat dengan orang lain, maka pasti dia akan tau kelebihan dan kekurangan dari orang tersebut. Seberapa kuat dan seberapa rapuh orang itu. Namun jika mereka tidak dekat, maka yang terlihat hanya salah satunya. Antara kelebihan dari orang itu atau kekurangan dari orang itu.” Jelas Ridwa sambil memeragakannya dengan kedua tangannya yang masih menggenggam erat bunga lily itu. Sebelum akhirnya, dia melepaskan bunga lily itu jatuh kedalam tempat sampah.
“Seperti tuan, yang hanya melihat ketangguhan Queen dan aku yang hanya hanya bisa melihat kerapuhan Queen yang disembunyikan dibalik sifat arogannya.” Ridwan berbalik, menatap Zayn yang tatapannya mendadak berubah tajam.
Dengan cepat Zayn mendekati Ridwan dan memukul kepala Ridwan tanpa ragu-ragu, lalu mendorongnya dengan segala kekuatannya. Mata Zayn terlihat membulat sempurna, menatap Ridwan dengan tatapan kesal.
“Apa maksudmu membuang bunga ini hahh?!” Zayn berteriak kesal, menatap Ridwan dengan tatapan membunuh.
“Tu ... tuan, bukankah seharusnya bunga itu dibuang saja?!” Ridwan tergagap, takut melihat amarah Zayn.
Baru kali ini dia kena marah oleh Zayn, hanya karena perihal bunga. Dia pikir gosip tentang Zayn yang memecat karyawan hanya karena menyentuh bunga milik miliknya adalah gosip belaka. Ternyata sekarang dia merasa, bahwa itu bukanlah sekedar gosip.
Mata Ridwan mengerjap beberapa kali, sambil menelan salivanya. Rasanya dia akan dipecat jadi sekertaris pribadi Zayn, melihat betapa Zayn begitu benci ketika bunga miliknya dibuang di tempat sampah.
Yang ada dalam pikiran Ridwan saat ini, yaitu mendapat maaf dari Zayn. Apapun akan dia lakukan asal Zayn memaafkannya dan tidak memecatnya, atau setidaknya jika Zayn ingin memecatnya harus dengan alasan yang lebih bagus sedikit, dia tidak ingin dipecat dari pekerjaannya hanya karena perkara bunga. Betapa terlukanya harga dirinya nanti, anak cucunya pun pasti akan menertawakannya seumur hidupnya.
“Saya mohon maaf, tuan. Saya mohon maaf karena telah membuang bunga balon putih itu.” Ucap Ridwan bersungguh-sungguh.
“Ini bunga Lily!” Zayn mengangkat bunga lily itu sambil memberi penekanan pada kata terakhirnya.
Ridwan semakin tertunduk, dan merasa semakin salah. Layaknya anak kucing yang disiram air.
“Kenapa kamu melihatnya sebagai orang yang rapuh?” Zayn berjalan menuju vas yang biasa dia letakkan untuk menaruh bunga lily itu.
Mata Ridwan mengekori kemana langkah kaki Zayn pergi dan badannya pun ikut berputar saat pandangan matanya sampai dititik buta.
Ridwan sedikit terkekeh dan melirik Zayn dengan tatapan usilnya.
“Sebenarnya dulu, saat anda bertemu di cafe bersama dia. Aku sedikit mengintip dari luar cafe, tuan.”
“Kaaamuu!” Zayn seketika berbalik, membentar Ridwan yang menurutnya sangat tidak sopan karena sudah mulai ikut campur urusan pribadinya.
“Maaf tuan, maaf.” Ucap Ridwan memelas, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.
Zayn mendesis kesal, membalikkan badannya kembali dan merangkai bunga lily itu dalam vas hitam.
“Lalu?” Ucap Zayn, masih dengan nada kesal.
Ridwan mendelik sambil tersenyum kecil. Dia terlihat sangat bersemangat ketika sedang membicarakan sesuatu. Atau lebih tepatnya menggosip.
“Saat anda keluar dari cafe dan meninggalkannya dengan sangat tidak manusiawi_”
Zayn langsung mendesis, saat mendengar Ridwan menyebutnya tak manusiawi.
“Tapi memang benar, tuan. Anda meninggalkannya dengan sangat tidak manusiawi. Buktinya setelah anda melakukan itu, dia jatuh pingsan saat mengejar anda.” Sambung Ridwan.
Dia jatuh pingsan?! Gumam Zayn, menghentikan kegiatan merangkai bunganya.
Matanya menatap kosong ke luar jendela. Menyapu seluruh pemandangan yang ada di depannya.
“Apa kamu tidak salah liat?”
“Mana mungkin saya salah liat, tuan. Jika semua orang dalam cafe itu juga langsung terlihat panik saat melihat dia jatuh dengan kuatnya membentur lantai.” Dengan antusias Ridwan memeragakan dengan tangannya bagaimana posisi Queen jatuh ke lantai, meskipun Zayn tidak melihatnya.
“Jika anda tidak percaya, coba tanya pada Pak Eddie Sugio. Beliau ada disana saat Queen jatuh pingsan. Bahkan dia diangkut menggunakan ambulans.” Imbuh Ridwan memperhatikan Zayn yang melepaskan tangannya dari bunga lily itu.
Zayn tidak menanggapi kata-kata Ridwan lagi. Pandangannya menatap kosong ke depan dengan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam kantong celananya.
“Tuan_” panggil Ridwan, mencoba memastikan keadaan Zayn yang mendadak diam.
Zayn tetap tidak menyaut. Dia seolah tengah memikirkan sesuatu di dalam kepalanya dan menyembunyikannya dengan ekspresi yang datar.
Tiba-tiba terdengar Zayn mendesis geram, lalu menundukkan kepalanya.
Apa ini? Apakah tuan muda merasa bersalah padanya?! Gumam Ridwan yang terlihat sedikit tersenyum.
Akan sangat baik jika dia merasa hawatir sekarang pada gadis gila itu, bukan?! Setidaknya dia harus menyukai seseorang satu kali, seumur hidupnya. Gumam Ridwan lagi, terus memperhatikan Zayn yang tertunduk diam di depan jendela kaca besar itu.
“Aku pikir kamu salah, Wan.” Celetuk Zayn, yang tiba-tiba mengeluarkan suara setelah beberapa saat lama diam membisu.
Ridwan mengadahkan pandangannya, menatap Zayn, dengan tatapan heran.
“Dia baik-baik saja.” Zayn membalikkan badannya, melihat Ridwan dengan tersenyum sinis.
Ridwan semakin bingung dibuatnya.
“Kemari, dan lihatlah.” Zayn berjalan meninggalkan tempat dimana dia berdiri.
Tanpa ragu, Ridwan berdiri dan berjalan menuju tempat Zayn berdiri tadi. Matanya menyapu seluruh pemandangan yang ada di luar jendela, berusaha mencari apa yang dimaksud oleh Zayn.
“Menunduklah, dan lihat trotoar.” Zayn menuntun mata Ridwan untuk melihat apa yang dilihatnya tadi sambil meraih ponselnya dari balik saku jasnya.
“Queen ... eh, bersama tuan muda Andi Sabiru?! Apa yang mereka lakukan di bawah sana?!” Gumam Ridwan, terus melihat Queen dan Sabi yang saling kejar-kejaran di trotoar layaknya anak kecil.
Mata Ridwan lalu membulat sempurna saat melihat Sabi menarik tangan Queen masuk ke dalam sebuah taxi.
“Mereka pergi kemana? Kenapa sekertarisnya tidak terlihat?!” Gumam Ridwan lagi, yang membuat Zayn semakin mendesis kesal menunggu orang yang dia telfon belum kunjung mengangkat telfonnya.
*Halloo ...
Terdengar suara Zulaikha dari seberang telfon.
“Apa yang kamu lakukan hah?! Bukankah sudah ku katakan padamu untuk tidak membiarkan Sabiru dekat dengan orang lain selain dirimu?!” Bentak Zayn, mendudukkan dirinya di atas sofa.
*Tu ... tuan muda sedang istirahat mencari makan, tuan.
“Seharusnya kamu terus berada disekitarnya, bahkan ketika dia makan ataupun mau buang air sekalipun.” Zayn menyeringai, membentak Zulaikha yang ada diseberang telefon.
*Ma maafkan saya, tuan.
“Cepat bergerak dan cari Sabiru. Jangan biarkan dia melakukan banyak kegiatan berdua dengan Queen.” Pintanya tegas.
*Apa? Tuan muda sedang bersama Nona Queen sekarang?! Tapi ... mereka tidak terlihat keluar bersama, tadi.
“Tapi nyatanya sekarang mereka sedang bersama.” Ketus Zayn, yang tidak bisa membiarkan Zulaikha ketinggalan sedikitpun informasi tentang Zayn.
“Cari dia sekarang, dan bawa informasi baru padaku hari ini. Jika tidak, ku pastikan kamu tidak akan pernah bertemu dengan saudaramu lagi.” Pinta Zayn tegas, lalu segera mengakhiri panggilan itu sebelum amarahnya semakin menguasai dirinya.
Bersambung ....