
Apa ini? Kenapa panggilan itu terasa familiar ditelingaku?! Gumam Sabi, memandang kosong. Merasakan betapa familiarnya nama itu baginya.
“Hey.. heeey..” Seru Queen sambil mendorong pundak Sabi beberapa kali, berusaha menyadarkan Sabi dari lamunannya.
“Ha? Yaa?!” Seru Sabi yang tersadar dari pikirannya sendiri.
Queen merasa bingung dengan Sabi yang pikirannya tiba - tiba melayang entah kemana. Queen melirik Zulaikha yang masih berdiri di belakang sofa kukit.
Gadis itu juga terlihat sedang berpikir, namun setelah dia menyadari bahwa Queen sedang memandangnya. Zulaikha segera tersenyum kecut, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Ada apa dengan mereka berdua?! Bos dan sekertaris sama saja. Aneh! Gumam Queen, berjalan meninggalkan Sabi.
“Mau kemana lagi kamu?” Tanya Sabi yang tiba - tiba mencegat Queen.
“Bukan urusanmu.” Sahut Queen singkat.
“Sepertinya kalian punya masalah yang harus diselesaikan. Jadi aku tidak mau ikut campur.” Imbuh Queen, seolah menyadari sesuatu tengah terjadi diantara mereka berdua.
Sabi tertegun, dan melirik Zulaikha yang tak jauh berdiri di depannya.
Apakah dia harus membahas ini bersama dengan Zulaikha hari ini? Tapi perasaannya kembali tidak ingin melakukan hal itu. Sangat tidak nyaman jika otak dan hatimu tidak bisa bekerjasama untuk melakukan sesuatu.
Aaarrghhg... Keluh Sabi pada dirinya sendiri.
Dirinya begitu dilema. Kenapa juga Queen harus hadir disaat yang tidak tepat dan membuyarkan semua tekad yang telah membara.
“I hate you.” Ucap Sabi, melirik Queen.
“Wha whua whaaat? I hate you?! Kamu mengatakannya padaku?!” Sergah Queen, tak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Iya. Aku benci kamu.” Sahut Sabi dengan tatapan seriusnya.
“Whats? Memangnya apa salahku padamu? Kenapa tiba - tiba bilang membenciku, hah?!” Queen semakin nyolot, tak terima dengan ucapan Sabi yang membencinya.
“Tidak kenapa. Aku hanya membencimu. Entah mengapa, aku hanya ingin mengatakannya padamu.” Jelas Sabi.
Queen langsung balik menyerang Sabi dengan bahasa Parisnya, tidak lupa dengan gestur tubuhnya yang banyak gerakan tambahan seperti ulat bulu.
Hati Sabi sedikit tergelitik, melihat Queen yang bicara dengan bahasa Paris karena dimatanya Queen terlihat seperti alien. Bicara menggunakan bahasa asing tanpa menggunakan titik koma, sangat laju.
“Pergi sana, pergi.” Sabi mendorong Queen perlahan keluar dari ruangannya, sebelum Queen akan melihatnya tertawa.
Sabi lalu menutup dan mengunci pintu ruangannya, agar gadis itu tidak bisa masuk melihatnya tersenyum geli.
“Yaa.. buka!!! Biru.. aku bilang buka! Aku belum selesai. Apa kamu mau mati? Ha? Kamu mau mati rupanya, awas kamu..” teriak Queen dari balik pintu, dengan penuh emosi sambil mengetuk dan menendang pintu ruangan Sabi beberapa kali.
Sabi berbalik dan tersenyum puas, juga sedikit tertawa mengingat kelakuan Queen.
Suasana hatinya jadi lebih membaik dari sebelumnya. Sabi berjalan duduk di sofanya, tempat andalannya untuk duduk.
“Maafkan saya tuan muda.” Ucap Zulaikha yang membungkuk di belakang Sabi.
“Minta maaf kenapa?”
“Saya tidak bisa mencegat Nona Queen, masuk kedalam ruangan anda hingga membuat anda terganggu.” Jawab Zulaikha tegas.
Raut wajah hawatir mulai terpampang di wajah Zulaikha. Entah mengapa gadis itu merasa hawatir dengan kehadiran Queen di dekat Sabi. Entah karena perintah Zayn yang memintanya untuk menjadi orang yang paling dekat dengan Sabi dibandingkan dengan Queen, atau karena Sabi adalah teman masa kecilnya hingga memancing sedikit rasa kecemburuan di hatinya.
Alasan kedua bukanlah hal yang tabu bagi seorang wanita, karena wanita adalah mahluk yang paling tidak bisa menyembunyikan atau mengelak dari rasa cemburu. Sekalipun itu Zulaikha.
“Tidak apa.” Ucap Sabi dengan santainya.
“Zu.. ambilkan laporan di atas mejaku. Mungkin kita harus mengadakan rapat mengenai event itu.” Sambung Sabi, berusaha menyingkirkan pikirannya tentang Zulaikha.
“Baik tuan muda.”
...........
“Minggir! Biarkan aku masuk.” Bentak Queen pada Ridwan.
“Maaf Nona, anda tidak boleh masuk. Ini perintah dari tuan Zayn.” Sahut Ridwan datar, menatap Queen sinis.
“Minggir atau_”
“Atau apa?” Sergah Ridwan.
“Atau aku akan membuat keributan, sekaligus menghajarmu.” Sahut Queen tegas, dan penuh percaya diri.
Mata Ridwan langsung melotot sempurna, mengingat kejadian terakhir kalinya dengan Queen. Kalah dan juga terlihat memalukan.
“Jadi sebelum itu terjadi, menyingkirlah! Karena aku tidak suka jika bunga ini kehilangan beberapa kelopaknya.” Imbuh Queen dengan nada lembut namun menusuk, sambil membelai bunga lily putih yang dipegangnya.
Sedikit gentar, Ridwan menelan salivanya. Bersiap dengan kuda - kudanya untuk menahan Queen agar tidak bisa masuk ke dalam ruangan Zayn.
“Menyingkirlah, selagi aku memintanya baik - baik.” Ucap Queen lembut.
Ridwan tetap tak mendengar dan tetap kokoh berdiri di depan pintu, tak mau menyingkir.
“Aku bukan tipe wanita yang sabaran dan penurut. Jadi jangan memancingku. Menyingkirlah.” Ucap Queen lagi, masih tersenyum dengan ayunya.
Ridwan tidak menyaut dan sama sekali tidak menunjukkan pergerakan sedikitpun. Wajahnya tetap datar, sambil kedua tangannya yang saling meremas. Bersiap untuk menghadang Queen.
“Aku bilang menyingkir, menyingkir!” Nada suara Queen mulai naik.
Ridwan tetap kokoh tidak mau menyingkir.
“Aah.. kamu benar - benar menjengkelkan yah.” Queen menyelipkan rambutnya yang tergerai didepan ke belakang telinganya. Hingga seluruh wajah cantiknya terlihat jelas.
Tanpa basa basi lagi, Queen langsung menendang kaki Ridwan tepat di tulang keringnya.
“Aah.. Nona, anda sudah kelewatan!” Rintih Ridwan, dengan wajah yang memerah kesal.
“Aku kan sudah bilang, aku bukanlah wanita yang penyabar dan penurut. Jadi jangan salahkan aku.” Sahut Queen, menatap Ridwan dengan tatapan yang tajam.
Tanpa berkata - kata, Ridwan segera maju dan mendorong Queen. Hingga gadis cantik itu mundur beberapa langkah. Ridwan terus maju, dan melayangkan tinjunya tepat menuju wajah Queen.
Refleks, Queen menangkap kepalan tangan Ridwan yang lebih besar berapa kali lipat dari tangannya. Tidak tinggal diam, Ridwan dengan sekuat tenaga terus mendorong tinjunya. Namun dengan sekuat tenaga pula, Queen menahan tinju Ridwan dengan sebelah tangannya.
Queen melirik bunga lily yang dipegang disalah satu tangannya. Salah satu kelopak bunga lily itu rontok dan berjatuhan di lantai. Melihat hal itu, Queen jadi kesal. Tatapan matanya semakin tajam bersamaan dengan kekuatan tangannya yang semakin bertambah.
Queen lalu memutar tangan Ridwan, hingga membuat lelaki itu sedikit terkejut karena mulai merasakan sakit di pergelangan tangannya. Namun Queen cuek, dan terus memutar tangan Ridwan.
Merasa,!sakit yang dia rasa semakin menjadi. Ridwan melayangkan tinjunya dengan tangannya yang lain, namun dengan mudah Queen berhasil menghindar hingga tinju Ridwan sukses mendarat di dinding.
Queen memutar satu kali lengan Ridwan.
“Aaarrggghhh...” teriak Ridwan, yang kesakitan.
Tanpa memberikan jeda, Queen langsung mendorong Ridwan dengan kedua tangannya tanpa melepaskan bunga yang dipegangnya. Hingga tubuh Ridwan membentur dinding.
Dengan cepat, serangan kaki, Queen layangkan ke kepala Ridwan. Namun berhasil ditangkap oleh Ridwan, membuat lelaki itu tersenyum puas.
“Dasar!” Bentak Queen yang geram melihat senyuman Ridwan.
Tak tinggal diam. Queen melayangkan kaki satunya lagi searah vertikal untuk menghantam kaki Ridwan. Hal itu membuat Ridwan kehilangan keseimbangannya, dan Queen menarik kakinya, yang ditahan oleh Ridwan tadi. Membuat Ridwan terjatuh menghantam lantai.
Bukan hanya kaki nya lagi yang bakalan memar, tapi lengannya perlu mendapat perawatan lebih lanjut beserta dagu Ridwan yang terluka akibat jatuh menghantam lantai.
“Aku kan sudah bilang menyingkir, selagi aku masih memintanya secara baik - baik.” Ucap Queen, melirik Ridwan dengan tatapan tanpa dosa. Lalu melangkahi tubuh Ridwan yang tergulai lemah.
Beberapa karyawan yang menyaksikan perkelahian mereka berdua, hanya melongo tak percaya bahwa ada wanita yang berani melangkahi Ridwan seperti itu.
Siaaall!!!! Maki Ridwan, meratapi kekalahannya yang kedua kali.
Queen pun masuk dengan santainya ke dalam ruangan Zayn, sambil merapikan bunga lily yang sedikit berantakan akibat perkelahiannya.
“Ridwan, bisa ambilkan_” Zayn melongo, mendapati Queen yang dengan santainya masuk ke dalam ruangannya sambil membawa sebuket bunga lily putih.
“Good morning!” Sapa Queen dengan senyuman yang cerah.
“Mana Ridwan?” Tanya Zayn sinis, tak membalas senyuman ataupun sapaan Queen.
“Tuan... maafkan saya.” Seru Ridwan yang tiba - tiba masuk dengah keadaan yang berantakan dan sedikit lecet di dagunya.
Oh ****! Gumam Zayn, yang melihat keadaan Ridwan yang begitu kacau hanya karena seorang gadis.
“Tentang dia, sorry...” kata Queen dengan suara yang diimutkan.
Zayn menarik nafasnya panjang. Kali ini dia tidak bisa berkata apa - apa. Sekertarisnya yang terkenal galak dan jago dalam berkelahi, 2 kali kalah telak melawan seorang perempuan yang jauh dari penampilan tomboy.
“Kenapa kamu kemari? Bukankah aku sudah katakan padamu untuk tidak muncul di hadapanku lagi?!” Ucap Zayn dingin.
“Aku membawakanmu bunga lily putih yang cantik. Lihatlah.. betapa cantik dan murninya warna putihnya. Sungguh cantik.” Kata Queen tak menghiraukan ucapan Zayn yang dingin padanya.
“Lihat! Vas ini kosong melompong, mari kita letakkan bunga cantik ini di vas yang sama indahnya dengannya.” Sambung Queen mendekati vas putih kosong, yang berdiri diatas meja panjang dan ramping berwarna hitam.
“Waaah sangat cocok! Lihatlah Zed.” Seru Queen yang kegirangan, melihat kecocokan vas dengan bunga lily yang dibawanya.
Sekali lagi Zayn menarik nafasnya panjang. Dia sangat geram dengan tingkah Queen yang seenaknya dan tidak bisa diatur. Gadis itu baginya seperti sebuah dunia tanpa aturan, tidak ada aturan yang bisa membuatnya gentar.
“Tunggu sebentar. Kenapa vas ini dibiarkan kosong dan berdiri sendiri disini, tepat di depan kaca jendela besar ini. Apakah kamu memang sudah menyiapkan vas ini, untuk menyimpan bunga lily yang selalu aku kirimkan padamu secara rutin?” Queen tersenyum lebar menatap Zayn yang sama sekali tidak ingin memandangnya.
“Pergilah... Aku muak denganmu.” Sahut Zayn.
“Baiklah.. aku anggap jawabanmu, Iya!” Seru Queen, mengabaikan ucapan Zayn yang seperti pisau. Mampu menyinggung perasaan wanita manapun.
“Nona.. sebaiknya anda pergi. Tuan Zayn tidak ingin bertemu dengan anda.” Tutur Ridwan yang tengah kesakitan, tak sanggup lagi mendekat dengan Queen.
“Oh ayolah... aku tidak peduli!” Ujar Queen tersenyum puas, seakan perasaannya tidak merasa sakit sedikitpun mendengar ucapan kedua pria itu.
“Aku akan selalu datang disini, mengantarkanmu bunga lily putih. Tanpa lelah dan bosan sedikitpun. Meskipun kamu membuangnya, aku akan tetap mengisi vas itu dengan bunga lily putih.” Imbuh Queen.
Zayn tidak memperdulikan perkataan Queen, dan mengalihkan pandangannya ke jam tangan mewah miliknya.
“Aku takkan pernah lelah Zed. Karena aku menikmati setiap waktuku ketika melihatmu.”
Zayn tetap diam, tanpa memandang Queen.
“Sekalipun kamu mengabaikanku, mengacuhkanku sekalipun, tidak apa! Aku tidak peduli!” Tutur Queen, dengan mata yang terus menatap Zayn. Penuh harap dan kekuatan.
Aargh... Gumam Queen, merasakan sakit dibagian dadanya.
Tangannya terlihat mulai gemetar. Kakinya pun mulai lemas. Segera dia menyembunyikan tangannya yang gemetar, dibalik tas mininya.
“Ah.. sudah waktunya Me time.” Seru Queen melirik jam tangan putihnya. Berusaha mencara alasan untuk pergi dengan cara yang natural.
“Aku pergi dulu, sampai berjumpa lagi dan tetap jaga kesehatan yah.” Ucap Queen sambil melambai pada Zayn yang bahkan tak menengok padanya.
Melihat tidak ada respon dari Zayn, Queen tetap tersenyum meskipun senyumannya terlihat pasi dan berlalu keluar dari ruangan Zayn, secepat mungkin yang dia bisa.
Cepat! Cepat keluar dari sini. Gumam Queen yang terus menguatkan dirinya agar cepat keluar dari perusahaan ini.
Oh iya, lebih baik aku menelfonnya sekarang.
Queen segera mengetik sebuah nama ‘Ella’ di kontak handphone nya. Lalu mengetuk tombol panggil.
Tak lama dia menekan tombol panggil, Ella dengan cepat mengangkat telefon dari Queen.
“Cepat jemput aku disini, di perusahaan inti W.” Ucap Queen, yang mulai lemas.
Sesekali dia memukul - mukul dadanya yang sakit, dan melirik tangannya yang sudah sangat gemetaran karena efek sakit yang dia rasa.
Ini pasti karena aku terlalu banyak mengeluarkan tenagaku tadi. Mana keadaanku belum membaik. Aaah.. sudahlah. Demi Zed.
Queen melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti karena menelfon, sambil menaruh hanphone nya kembali ke dalam tas. Tiba - tiba ...
*Bruukk!!!
Queen menyambar seseorang dari arah yang berlawanan.
“Aawww..” keluh Queen.
“Queen..” seru Sabi.
Ternyata orang yang bertabrakan dengannya adalah Sabi.
“Yaa! Kalau jalan tuh jangan main nabrak!” Bentak Queen, lalu mengangkat kepalanya.
Sebuah darah mulai menetes dari hidung Queen, sehingga membuat mata Sabi terbelalak melihatnya.
“Queen..” teriak Sabi histeris, langsung memegangi kedua pundak Queen erat - erat.
“Wa wa what?” Queen celingak celinguk, heran.
“Darah!” Seru Sabi.
Oh tidak! Aku harus segera pergi dari sini.
Bersambung ....