FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
84. Hujan Meteor 2



“Zed..” Seru Queen tak percaya.


“Sudah kukatakan berulang kali untuk berhenti memanggilku dengan nama itu.” Ucap Zayn dingin, tidak menatap Queen. “Aku juga tidak suka makan cokelat, jadi silahkan bawa kembali cokelatmu itu.”


“Ba bagaimana bisa kamu mengatakan itu? Jelas-jelas dulu kamu_”


“Berhentilah membawa masa lalu. Karena aku sudah tidak disana.” Potong Zayn dingin, menatap Queen Lee dengan tatapan tajam menusuk.


Queen membalas tatapan mata Zayn yang tajam itu dengan raut mata yang sayu. Namun Zayn sama sekali tidak menunjukkan empatinya, dan justru menaikkan kaca jendela mobilnya hingga tertutup rapat dan Queen tidak bisa melihat sosok Zayn sama skali.


“Jalan, Wan.” Seru Zayn, mengalihkan pandangannya melihat ke arah yang berlawanan tempat Queen Lee berdiri.


Mobilpun berjalan dan meninggalkan Queen Lee yang masih berdiri tertunduk memandangi sebatang cokelat yang dibuang Zayn tadi.


“Tidak apa kali ini gagal lagi.” Ucap Queen Lee disela tarikan nafasnya. “Aku bisa mencobanya lagi besok. Besok, dan besok.” Queen membungkuk meraih cokelat itu. Ditatapnya cokelat itu dalam-dalam.


“Sisi baiknya, aku jadi tau kalau ini adalah daerah tempat tinggalmu.” Ucapnya sambil tersenyum tegar, dan membalikkan tubuhnya melihat ke arah mobil Zayn pergi.


...........


“Waah hujan meteor.” Ucap Zulaikha tersenyum cerah melihat hujan meteor dari balkon kamar Sabi.


Sabi yang ada di sebelahnya juga ikut tersenyum melihat keindahan alam itu.


“Kamu suka?” Tanya Sabi, dan Zulaikha mengangguk ayu. “Kalau begitu nikmati. Momen seperti ini sangat jarang terjadi.” Sambung Sabiru melirik ke arah Zulaikha yang terus memandangi langit.


“Aku akan memotretnya.” Ucap Zulaikha, mengeluarkan handphonenya dan memotret pemandangan langkah itu.


“Bagaimana hasilnya? Coba kulihat.”


“Yah, tidak terlalu kelihatan jelas. Tapi bolehlah.. untuk disimpan jadi kenang-kenangan.” Sahut Zulaikha dengan wajah cemberut melihat hasil jepretannya yang tidak terlalu memperlihatkan meteor itu dengan jelas.


“Mana? Coba aku lihat.” Sabi meraih paksa handphone yang dipegang Zulaikha, hingga Zulaikha meliriknya kesal.


“Ya iyalah, tidak jelas. Namanya juga kamera handphone.” Ejek Sabi diiringi gelak tawa saat melihat hasil jepretan Zulaikha. “Coba kamu berdiri dipojokan balkon situ.” Imbuhnya, sambil menunjuk pojok balkon dengan tatapan matanya.


Zulaikha melirik ke arah yang ditunjuk Sabi, dan bergerak kearah yg dimaksud tuannya itu.


“Lalu?”


“Bergaya. Aku akan memotretmu dari sini.” Sahut Sabi, sudah siap dengan kamera handphone ditangannya.


Merasa sedikit canggung, Zulaikha tersenyum kaku dan menggaruk belakang lehernya.



“Hey, ganti gayamu. Gaya seperti itu jelek.”


“Aku bahkan belum bergaya, tuan.” Sahut Zulaikha hampir tak terdengar.


“Kalau begitu cepat bergaya.” Pintah Sabi yang sudah siap membidik.


Zulaikha pun menarik tangannya dari belakang lehernya. Melihat ke arah Sabi, dan tersenyum kecil dengan matanya yang lebar memancarkan aura polosnya.


Cekrek!!!


“Nih, coba kamu lihat.” Sabi memberikan handphone itu kembali pada tuannya sambil tersenyum bangga atas hasil jepretannya.


Bukannya tersenyum, alis Zulaikha malah berkerut melihat hasil jepretan Sabi. Sontak hal itu menarik perhatian Sabiru.


“Kenapa?”


“Ah, tidak tuan.” Jawab Zulaikha menggelengkan kepalanya.


“Kenapa? Baguskan?!” Tanya Sabi ngotot.


“Iya tuan, bagus.” Zulaikha mengacungkan jempolnya, tapi lupa tersenyum hingga mengisyaratkan hal yang sebaliknya.


Dengan cepat Sabi menarik kembali handphone Zulaikha dan melihat kembali hasil jepretannya yang dia anggap bagus. “Bagus tau hasil jepretanku, kamunya saja yang tidak tau fotografi.” Ucapnya kesal sambil memperlihatkan sekalilagi hasil fotonya pada Zulaikha dengan sedikit ngotot.


“I iya tuan, kan tadi saya bilang bagus.”


“Kamu bilang bagus kayak tidak ikhlas.” Timpal Sabi.


“Habisnya muka saya gelap tuan.” Sahut Zulaikha dengan suara yang hampir tak terdengar.


“Kan aku tidak fokus fotoin kamu, aku kan mau fotoin meteornya. Biar kamu ada kenang-kenangan.” Kelak Sabi menolak fakta.


Mendengar pertanyaan Zulaikha, Sabi langsung gagap tak bisa mengelak. “Coba kamu lihat meteornya, cantikkan?” Dalih Sabi berusaha menghindar tak mau mengakui hasil jepretannya jelek.


“Hm, iya makasih tuan.”


“Lah kok bilang makasih?! Tidak nyambung.” Seru Sabi sambil mengembalikan handphone pada Zulaikha dengan ketus.


“Soalnya tuan bilang cantik.”


“Trus?”


“Cantik itu saya, tuan.” Jawab Zulaikha santai tanpa beban.


Sabi sontak tertawa lepas, menepuk pundak Zulaikha hingga gadis itu sedikit merasa kesakitan. Namun melihat tuannya tertawa lepas tanpa beban membuatnya ikut tertawa.


“Kenapa ketawa? Saya memang cantikkan, tuan?!” Seru Zulaikha sambil menangkup wajah kecilnya dengan kedua telapak tangannya dan tersenyum dengan manis.


“Ahahaha tidak. Kata-katamu sama seperti Queen.” Sahut Sabi ditengah gelak tawanya. “Dia juga pernah bilang begitu, jadi aku langsung ingat dia.”


Senyum Zulaikha perlahan-lahan memudar. Ternyata Sabi tertawa bukan karena dirinya, tapi karena mengingat Queen yang juga pernah mengucapkan kalimat yang sama dengannya.


“Tuan, apakah anda dekat dengan Nona Queen Lee?” tanya Zulaikha ragu-ragu.


Sabi menoleh ke arah Zulaikha, melihat gadis itu dengan tatapan bingung tapi tanpa ragu langsung menggelengkan kepalanya. “tidak.”


“Tapi tuan muda dan nona terlihat sangat akrab tuan.” Imbuh Zulaikha tersenyum masam.


“Apakah terlihat seperti itu?” Tanya Sabi dan Zulaikha mengangguk. “Tadi saja kami bertengkar karena dia memperlakukanmu dengan kasar. Mana bisa dibilang akrab.”


“Terimakasih tuan.” Ucap Zulaikha merasa sedikit tenang mendengar ucapan Sabi.


“Terimakasih atas apa?”


“Terimakasih karena telah membela saya dari Nona Queen Lee.” Jawab Zulaikha sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.


“Jangan ucapkan terimakasih, aku tidak membelamu. Aku hanya melakukan tugasku sebagai atasanmu.” Sergah Sabi kembali menatap langit. “Kan aku sudah bilang, yang cuma bisa memarahi dan membentakmu itu hanya aku. Yang lain tidak boleh.” Sambungnya melirik Zulaikha yang ada disebelahnya.


Mata mereka bertemu satu sama lain. Sebuah sudut tipis membentuk diujung bibirnya. Entah kenapa hatinya merasa senang mendengar ucapan Sabi yang terdengar tulus, sehingga hatinya tidak sanggup untuk tidak memberikan sinyal bahagia dimimik wajahnya yang sendu itu.



...…....


Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan rumah keluarga Andi. Pintu belakang perlahan terbuka, dan Queen Lee keluar dari mobil itu dengan raut wajah yang lesu dan tak bersemangat.


“Nona, jika anda membutuhkan sesuatu langsung segera menelfon.” Ucap Ella dibalik setir kemudi.


“Iya.” Jawab Queen sambil mengangguk tanpa menoleh. “Pergilah beristirahat, besok kita akan lebih sibuk.” Sambungnya.


“Baik, Nona. Saya permisi pamit.”


“Hem..” Queen hanya membalas dengan gumaman dan Ella segera meninggalkannya.


Asisten rumah tangga membukakan Queen pintu rumah dengan ramah dan Queen masuk dengan lesunya seperti orang tidak makan 3 hari. Sesekali dia mendengus lesu mengingat kejadian tadi saat cokelatnya dihempaskan oleh Zayn ke tanah.


Kenapa dia benar-benar jadi seperti orang lain? Dia benar-benar berubah. Aku seperti kehilangannya. Sosok itu hilang kemana? Gumamnya lesu, menatap anak tangga demi anak tangga yang harus dia naiki menuju kamarnya.


Sekali lagi dia menghela nafas, dan mulai menaiki anak tangga itu satu persatu. Disaat yang sama, Zulaikha terlihat keluar dari kamar Sabi dengan raut wajah yang berbanding terbalik sembilan puluh derajat dengan raut wajah Queen saat itu.


Terbawa dengan suasana hati masing-masing, mereka nyaris saja bertabrakan jika saja Zulaikha tidak menyadari keberadaan Queen duluan.


“Ah, Nona maafkan saya.” Seru Zulaikha membungkukkan kepalanya.


Queen yang mendengar suara yang tidak asing baginya, semakin tidak ingin menoleh untuk melihat sosok Zulaikha yang ada didepannya.


“Menyingkir dari jalanku.” Ucapnya acuh dan Zulaikha langsung menyingkir.


“Maafkan saya Nona.” Imbuh Zulaikha lagi tapi Queen Lee tetap tidak peduli.


Queen Lee tetap berjalan menuju kamarnya tanpa berkata-kata lagi. Itu sedikit membuat Zulaikha bingung apakah dia harus merasa senang atau aneh, karena tidak biasanya Queen Lee seperti acuh seperti itu. Minimal pasti ada sedikit ocehan yang keluar dari mulutnya.


Ada apa ini? Tumben dia tidak memarahiku. Eh bukankah seharusnya aku senang? Kenapa malah merasa aneh?! Gumam Zulaikha semakin membuat senyumnya merekah.


Bersambung ….